Ekonomi

Pembentukan Korporasi demi Kesejahteraan Petani

Kamis, 14 September 2017 00:47 WIB Penulis: (Pra/E-2)

ANTARA FOTO/ Dewi Fajriani

MENTERI Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan mengumpulkan petani ke dalam sebuah kelompok besar dan membentuknya menjadi korporasi dengan kelembagaan yang kuat akan membuat industri pertanian lebih baik dan terorganisasi.

Pasalnya para petani padi yang tergabung di dalam korporasi itu nantinya tidak hanya berkutat dengan proses produksi, tetapi juga akan memegang proses pengolahan, pengepakan, bahkan pemasaran.

"Dengan proses seperti ini, pendapatan petani akan meningkat, kesejahteraan mereka juga terangkat karena semua dikerjakan dari hulu sampai hilir. Kalau sekarang, kan, cuma mengandalkan dari gabah," ujar Amran seusai menghadiri rapat koordinasi di Kantor Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Jakarta, kemarin.

Dengan bekerja bersama-sama dalam sebuah korporasi yang diawasi pemerintah, Amran yakin proses produksi akan lebih efektif dan efisien karena akan ada banyak pihak yang terlibat.

"Nanti akan ada manajer yang mengawasi, bisa dari Kementerian Pertanian, Kementerian BUMN, atau Kementerian Desa. Pemerintah akan mengedukasi, memanage perusahaan itu," tutur Amran.

Sebelumnya, dalam rapat terbatas di istana, Selasa (12/9), Presiden Joko Widodo menekankan tentang perlunya pembentukan korporasi petani.

Hal itu bertujuan meningkatkan kesejahteraan petani.

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo meyakini dengan pembentukan korporasi, pemerintah akan dapat membantu dan mengawal program pertanian sehingga menjadi lebih baik.

Sementara itu dari pihak perbankan, Direktur Utama Bank Tabungan Negara (BTN) Maryono mengatakan pihaknya beserta bank-bank lain yang tergabung dalam Himpunan Bank Negara akan membantu dan menjadi pelopor dalam pembentukan korporasi petani.

"Sekarang kami sedang susun dulu model bisnisnya seperti apa. Yang pasti kami siap bekerja sama."

Berdasarkan Statistik Perbankan Indonesia, per Juni 2016, kredit pertanian yang telah tersalurkan tercatat sebesar Rp296,65 triliun, meningkat dari periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya Rp266,09 triliun.

Komentar