Laporan Dari SJS 2017

Solidaritas Kaum Minoritas

Rabu, 13 September 2017 11:48 WIB Penulis: Usman Kansong

Dean Obeidallah (kiri) dan rekannya Negin Farsad dikenal publik Amerika sebagai komedian muslim dan pembawa acara. Mereka berdua melawan diskriminasi dan Islamofobia melalui komedi. -- MI/Usman Kansong

LAPORAN DARI 2017 SJS (4)

TAHERA Ahmad ialah dosen muslim di Universitas Northwestern, Amerika Serikat. Dia pernah mendapat penghargaan dari Gedung Putih karena jasanya bagi komunitas muslim Amerika. Pun, dia pernah mengunjungi Afganistan atas nama Kementerian Luar Negeri AS.

Namun, pada 2015, Tahera mendapat perlakuan tidak menyenangkan ketika menumpang pesawat dari Chicago ke Washington DC. Pramugari enggan memberi minuman bersoda dalam kaleng tertutup lantaran khawatir digunakan Tahera sebagai senjata di pesawat.

Pada Februari 2015, tiga mahasiswa muslim di Chapel Hill, North Carolina, AS, ditembak secara sadis hingga tewas oleh pria kulit putih bernama Craig Stephen Hicks. Media AS adem ayem tak memberitakannya. Media Inggris the Independent menurunkan tulisan Sabbiyah Pervez di bawah judul "Tiga muslim dibunuh, tapi karena agama mereka media mengabaikannya."

Itu hanya dua contoh diskriminasi yang dialami muslim Amerika. Selama 2013 saja, tercatat 160 laporan penyerangan terhadap kaum muslim dan masjid di sana.

Kalangan muslim merasakan diskriminasi terutama setelah serangan teroris ke gedung World Trade Center dan Pentagon pada 11 September 2001. "Sebelumnya saya seperti kebanyakan orang Amerika, berteman dengan orang Amerika lain atau bermain golf. Tapi setelah 11 September, setiap bangun pagi saya merasa seperti orang asing di Amerika," kata Dean Obeidallah, dalam diskusi dengan jurnalis peserta 2017 Senior Journalists Seminar, di Washington, Selasa (12/9).

Dean Obeidallah dan rekannya Negin Farsad dikenal publik Amerika sebagai komedian muslim dan pembawa acara. Mereka berdua melawan diskriminasi dan Islamofobia melalui komedi. Farsad yang disebut the Huffington Post sebagai perempuan paling lucu di Amerika itu menyebut komedi yang mereka pertunjukkan sebagai "sosial justice comedy." Masyarakat muslim dan publik Amerika menyukai mereka.

Sejak 11 September 2001 muncul steriotip muslim identis dengan teroris karena itu mereka harus diawasi. Survei Pew Research Center yang diselenggarakan 23 Januari sampai 2 Mei 2017 menunjukkan 59% muslim merasa atau sangat merasa telepon dan email mereka disadap. Sebanyak 18% muslim merasa dicurigai sekuriti bandara.

Namun, survey tersebut menunjukkan publik secara umum merasakan kaum muslim tidak sendirian. Publik menilai diskriminasi juga dialami kaum minoritas lain, meski sebagian besar publik merasakan diskriminasi terbesar dirasakan kaum muslim.

Survey tersebut memperlihatkan 69% publik menyebut ada diskriminasi terhadap muslim, 59% mengatakan terjadi diskriminasi terhadap kulit hitam, 58% merasakan berlangsung diskriminasi terhadap kalangan gay atau lesbian, dan 56% menunjuk adanya diskriminasi terhadap kaum hispanik.

Kalangan Yahudi yang berjumlah 2% dari total populasi AS juga merasakan diskriminasi. "Kami ikut serta menggalang solidaritas kaum minoritas," ujar Rabi Fred Scherlinder. Jurnalis peserta 2017 SJS yang diorganisasi East-West Center berdiskusi dengan Rabbi Fred dan menyaksikan ritual sabat di Adat Shalom Reconstructionist Congregation, Maryland, AS, Sabtu (9/9).

Pendeta Canon Jan Naylor Cope mengatakan diskriminasi datang dari ketakutan. Menurutnya, dialog antariman menjadi obat mujarab untuk menepis diskriminasi. "Dialog antar iman bisa menghapus ketakutan di antara kita dan mengurangi diskriminasi," ujar Jan kepada jurnalis peserta 2017 SJS yang bertemu dengannya sambil menghadiri kebaktian di Washington National Cathedral, Minggu (10/10).

Kalangan muslim juga aktif terlibat dalam dialog antariman. Dialog ini menghasilkan dukungan dari komunitas agama lain. "Ketika kami hendak membangun satu masjid, masyarakat setempat menolak dengan berbagai alasan, tetapi organisasi Yahudi dan Kristen yang biasa berdialog dengan kami mendukungnya sehingga pembangunan masjid bisa dilaksanakan," kata Abur Rafaa Ouertani kepada jurnalis peserta 2017 SJS yang menemuinya di All Dulles Area Muslim Society (ADAMS) Virginia, AS, Jumat (8/9).

Solidaritas terhadap minoritas memang menguat di AS. Terhadap kaum gay atau lesbian, misalnya, banyak aktivis yang menyuarakan hak mereka. Jurnalis peserta 2017 SJS berdiskusi dengan pendeta perempuan berkulit hitam Naomi Leapheart, Pendeta Dwane Johnson, dan aktivis perempuan muslim Urooj Arshad. Ketiganya menyuarakan perlawanan terhadap diskriminasi kaum gay dan lesbian.

Mungkin karena solidaritas sesama minoritas pula, dukungan kaum muslim AS terhadap homoseksualitas juga meningkat. Survei Pew Research Center memperlihatkan kaum muslim yang menyatakan homoseksualitas harus diterima masyarakat meningkat dari 39% pada 2011 menjadi 52% pada 2017. (OL-3)

Komentar