Polkam dan HAM

Kepulangan Novanto dari RS Siloam Belum Bisa Dipastikan

Selasa, 12 September 2017 15:15 WIB Penulis: Deny Irwanto

MI/Susanto

KETUA DPR Setya Novanto masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Siloam, Semanggi, Jakarta, akibat vertigo yang dideritanya. Siang ini, Novanto mendapat kunjungan dari dokter DPR, Heri Suseno.

Dalam kunjungannya, Heri mengatakan jika Novanto bisa diajak berkomunikasi meski masih dalam keadaan pusing.

"Kita enggak terlalu banyak (komunikasi), Pak gimana Pak, lumayanlah begini," kata Heri usai mengunjungi Novanto, Selasa (12/9).

Meski bisa diajak komunikasi, keadaan Novanto masih belum stabil. Menurut Hari, Novanto masih kerap merasakan pusing di kepalanya. Melihat keadaan tersebut, Heri belum bisa memastikan kepulangan Novanto dari rumah sakit.

"Ya kondisi kalau orang vertigo begitu ya, kadang-kadang kayak orang gleyeng begitu ya. Kurang tahu (dirawat sampai kapan), itu rumah sakit," jelas Heri.

Menurut Heri, pihaknya sudah tidak bisa ikut campur mengenai tindakan medis terhadap Novanto. Saat ini Heri menyerahkan seluruh tindakan medis kepada pihak Rumah Sakit Siloam.

Sebelumnya pada Senin (11/9) Setya Novanto batal memenuhi panggilan penyidik KPK. Novanto seharusnya menjalani pemeriksaan perdananya sebagai tersangka kasus dugaan korupsi proyek pengadaan KTP Elektronik (KTP-el).

Sejak naik ke tahap penyidikan, KPK belum pernah memeriksa Novanto sebagai tersangka. KPK hanya memeriksa 100 lebih saksi untuk Ketua Umum Partai Golkar tersebut. Mereka yang dimintai keterangan kebanyakan anggota dan mantan anggota DPR, pejabat Kementerian Dalam Negeri serta pihak swasta.

Novanto hanya pernah diperiksa sebagai saksi untuk dua tersangka sebelumnya, yakni mantan pejabat Kementerian Dalam Negeri Irman dan Sugiharto, termasuk Andi Agustinus alias Andi Narogong.

Dalam pengembangan, penyidik kembali menetapkan tersangka baru dalam kasus ini yakni anggota DPR dari Fraksi Golkar Markus Nari.

Pada kasus ini, Novanto dan Andi Narogong diduga mengatur proyek senilai Rp5,9 triliun mulai penganggaran, pengerjaan hingga pengadaan KTP-el.

Dalam surat dakwaan Andi Narogong, Novanto disebut telah mengeruk keuntungan dari proyek tersebut. Setnov dan Andi Narogong disebut mendapat jatah sebesar Rp574,2 miliar. (MTVN/OL-6)

Komentar