Surat Pembaca

Bersatu Padu Berantas Hoaks

Selasa, 12 September 2017 10:37 WIB Penulis: Suci Ayu Latifah STKIP PGRI Ponorogo

ANTARA/YUDHI MAHATMA

POPULARITAS media sosial (medsos) hingga 2017 masih akan terus melonjak. Medsos bukan lagi menjadi media komunikasi antarindividu atau kelompok, melainkan ‘dunia kedua’ dan sumber informasi. Semua informasi dapat diakses dengan mudah lantaran kecanggihan teknologi dan informatika. Imbasnya, mulai suhu politik, hukum, hingga akhirnya berujung konflik dan ketegangan sosial akan mewarnai dunia.

Medsos di era digitalisasi tak ubahnya seperti senjata tajam. Di satu sisi, dapat digunakan sebagai jalan kebaikan, seperti menjalin silahturahim, berbagi ilmu, dan penelusuran informasi. Di sisi lain, digunakan sebagai jalan keburukan, seperti yang terjadi di Tahun Ayam api ini.

Indonesia pada 2017 tengah diserang badai besar yang datang dari pelbagai sudut, salah satunya adalah beredarnya ujaran kebencian atau hoaks. Kegelisahan masyarakat, mulai terasa begitu informasi baru bersifat bohong yang dibawa sekelompok manusia tak bertanggung jawab sangat tak diuntungkan.

Berita hoaks sangat dengan mudah tersebar luas di medsos. Memang, saat update status atau mem-posting sesuatu tidak ada darah yang tertumpah, seperti pedang menusuk tubuh. Namun, coba perhatikan, tidak jarang status atau pemberitaan yang tayang di medsos berbau ujaran kebencian, caci maki, pem-bully-an hingga perseteruan telah memantik provokasi, konflik, dan pertikaian antarkelompok masyarakat.

Bahayanya, mereka yang tidak sadar diri bisa saja bertindak bodoh, seperti pembunuhan. Karena itu, sebagai masyarakat digital, kita harus membatasi dalam mengonsumsi media. Setidaknya, kita manfaatkan media seperlunya saja. Selain itu, ketika mem-posting sesuatu hendaknya dipikirkan keamanannya. Sebab, dengan maraknya berita bohong tersebut jangan sampai kita pun masuk daftar pelaku tindak tercela itu.

Kita patut mengakui, keberadaan medsos saat ini memang sangat mumpuni guna mendapat informasi baru dengan cepat dan praktis. Sayangnya, masyarakat kita dengan segala latar belakang sosial dirasa kurang bijak dalam memosisikan medsos.

Berdasarkan data yang dirilis Internet Live States 2016, Indonesia menduduki posisi ke-12 sebagai pengguna internet atau sekitar 53 juta pengguna. Posisi pertama adalah Tiongkok (700 juta), India (462 juta), Inggris (286 juta), Brasil (139 juta), dan Jepang (115 juta).

Sementara itu, We Are Social, lembaga survei London, mencatat 88 juta pengguna internet di Indonesia pada 2016, dari 3,25 miliar sedunia.

Karena tingginya pengguna internet, kita sebagai pengguna haruslah menjadi penikmat yang cerdas. Artinya, mampu menggunakan seperlunya saja. Tidak sebagai ajang gaya-gayaan atau sarana penyebaran informasi yang tidak bermanfaat. Hal ini ditekankan, tujuannya agar persatuan dan kesatuan antarke­lompok masyarakat tetap terjaga. Tidak ada permusuhan, pertikaian, hingga pembantaian satu sama lain. Munculnya fenomenal-sensasional berupa berita hoaks dapat dijadikan sebagai tolok ukur individu terkait dengan tingkat kepedulian dan kesadaran antarsesama.

Tak salah jika kita belajar dari nasihat orang Jawa, ambuncang reretuning jagad, membuang kotoran dunia. Yakni, mencoba mengatasi permasalahan-permasalahan sosial dan menghilangkan segala hal yang membuat rusaknya kesejahteraan masyarakat.

Kita tahu, Indonesia negara yang luas dengan beragam suku, ras, agama, dan etnik. Namun, kita juga harus tahu ada semboyan Bhinneka Tunggal Ika di antara kita, berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Setiap perbedaan antarindividu itu lumrah karena manusia memiliki pemikiran yang berbeda-beda. Untuk itu, guna melawan dan memerangi konflik yang tengah mengguncang kedamai­an dan kerukunan bangsa, kita wajib bersatu padu, saling membahu. Hendaklah kita maju bersama, bermetafor menjadi manusia cerdas dalam menyikapi ketegangan dunia. Antihoaks salam damai!

Komentar