Selebritas

Khofifah Indar Parawansa: Haji Bermakna Kerja Keras

Selasa, 12 September 2017 10:27 WIB Penulis: Siswantini Suryandari

ANTARA/WIDODO S JUSUF

DI tengah kesibukannya sebagai menteri sosial, Khofifah Indar Parawansa, 52, bersama putra bungsunya, Ali Mannagali Indar Parawansa, meluangkan waktu untuk menunaikan ibadah haji tahun ini. Meski berkedudukan sebagai seorang menteri, ia berhaji sepenuhnya dengan biaya pribadi.

“Saya belum pernah haji pelat merah (didanai APBN),” ujar Khofifah saat ditemui di Madinah, Jumat (8/9).

Ini ibadah haji keduanya setelah berhaji pada 2006. Baginya, ibadah haji memiliki makna yang sangat dalam, terlebih bagi perempuan. Ia mencontohkan salah satu prosesi haji, sai, yang dilakukan dengan berjalan dan berlari kecil antara Bukit Safa dan Marwa sebanyak tujuh kali. Prosesi itu diambil dari teladan Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim. Dikisahkan, dulu ia berlarian di antara Bukit Safa dan Marwa yang penuh batu, di bawah terik matahari, demi mencari air untuk bayinya, Ismail, yang kehausan.

“Kalau sekarang prosesi sai dilakukan dalam ruangan tertutup, beralaskan marmer dan ber-AC. Bayangkan dahulu ketika Siti Hajar berlari-lari mencari air dari Safa ke Marwa untuk mencari air. Maknanya, ayo kita kerja keras untuk meraih sesuatu. Semua bukan sim salabim turun dari atas,” papar Khofifah.

Kedua, lanjutnya, Siti Hajar ialah hamba sahaya, bukan keturunan bangsawan. Namun, ia menjadi istri Nabi Ibrahim.

“Allah mengangkat derajatnya. Banyak perempuan di dunia yang bukan berasal dari keluarga kelas atas, tapi bisa menjadi pemimpin karena bekerja keras dan Allah mengangkat derajatnya,” ujar Khofifah yang sudah dua kali dipercaya sebagai menteri.

Kemudian tawaf atau prosesi mengelilingi Kabah sebanyak tujuh kali juga memiliki makna penting. “Mengelilingi Kabah juga bentuk kerja keras umat manusia untuk mendapatkan rida Allah.”

Lalu saat wukuf di Arafah, semua jemaah berpasrah diri. Jemaah laki-laki hanya mengenakan dua lembar kain tanpa dijahit. Ibaratnya siap mati terbungkus kain kafan. “Berada di Arafah ini bagian dari kesetaraan umat manusia. Orang kaya dan miskin tetap sama di hadapan Allah. Kita diingatkan bahwa manusia akan kembali kepada Allah sang pencipta,” tuturnya.

Menurut Khofifah, nilai-nilai ibadah haji itulah yang harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh para jemaah sepulang dari Tanah Suci. “Semangat kerja keras, mencari rida Allah, dan penerapan prinsip kesetaraan sosial. Karena inilah kemabruran haji,” kata ibu empat anak itu.

Askar ramah
Dalam pelaksanaan haji tahun ini, Khofifah memuji pemerintah Arab Saudi yang terus memperbaiki pelayanan. “Pemerintah Arab Saudi menyediakan jasa kursi roda cukup banyak untuk jemaah yang membutuhkan. Di pojok-pojok Masjidil Haram dan Masjid Nabawi banyak tulisan dengan beberapa bahasa. Ada bahasa Indonesia juga. Tulisan ‘Kedatangan Anda Kebahagiaan Kami’. Itu bentuk penghormatan bagi jemaah.”

Hal tersebut tidak ditemuinya saat berhaji pada 2006. Demikian juga para petugas keamanan yang berjaga di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi tidak segalak dahulu. Mereka bahkan menyapa dan mendoakan agar hajinya mabrur. “Ini perubahan besar. Tutur bahasanya halus dan sudah banyak askar (petugas keamanan) yang bisa berbahasa Inggris.”

Saat disinggung mengenai doa apa yang dipanjatkan saat di Arafah, perempuan kelahiran Surabaya, 19 Mei 1965 itu tertawa. “Aduh, doa kok mesti diungkapkan? Saya doakan seperti harapan (almarhum) suami saya yang belum kesampaian, yakni dunia yang damai, bersatu, dan membangun persaudaraan,” pungkasnya. (H-3)

ndari@mediaindonesia.com

Komentar