Investigasi

Pasar Terapung Vietnam Terancam Punah

Senin, 11 September 2017 09:15 WIB Penulis: (AFP/*/I-2)

AFP/ROBERTO SCHMIDT

DULU memperbaiki timbangan merupakan pekerjaan yang memadai di pasar terapung Cai Rang di Vietnam. Namun, kini, montir timbangan terakhir di sungai itu hanya mampu menghasilkan beberapa dolar per bulan seiring semakin banyaknya pedagang yang memilih mendaratkan perahu mereka. Dikelilingi timbangan berdebu di rumah perahunya, Nguyen van Ut mengatakan bahwa para pedagang kini memilih berdagang di daratan karena supermarket lebih menarik para pembeli ketimbang harus berbelanja di perahu.

"Saat ini saya tidak lagi memiliki banyak konsumen. Kini semakin banyak perahu yang meninggalkan pasar terapung. Para pemilik perahu beralih ke mobil," ungkap pria 71 tahun itu. Ut mulai bekerja memperbaiki timbangan di pasar terapung pada 30 tahun lalu di Sungai Can Tho untuk membiayai pendidikan anak-anaknya yang tersisa setelah istri dan dua anaknya meninggal akibat kecelakaan.

Dulu dia bisa membiayai hidupnya sendiri. Kini dia menggantungkan hidup dari uang yang diberikan anak-anaknya, tiga di antara mereka bekerja di Kota Can Tho. Pernah diramaikan oleh pedagang hingga sepanjang dua kilometer, pasar terapung Cai Rang kini hanya dihuni oleh 300 perahu, menurun dari 550 perahu pada 2005. Pasar terapung itu menjadi korban dari meroketnya perekonomian di Delta Sungai Mekong yang mengalami perkembangan pesat selama dekade terakhir.

Sektor industri dan konstruksi telah menciptakan sekitar 570 ribu lapangan pekerjaan, mengangkat banyak orang dari jurang kemiskinan. Namun, orang-orang seperti Ut tertinggal, tidak bisa mendapatkan penghidupan di daratan. Bahkan pada pedagangan di pasar terapung yang mendapatkan pemasukan memadai dari para turis memimpikan kehidupan di daratan tempat mereka mendapatkan perumahan yang layak, pekerjaan yang lebih baik, dan berbagai perlengkapan modern.

Nguyen Thi Hong Toui telah bekerja di pasar terapung sejak masih anak-anak, sama seperti ibu dan neneknya. Meski dia mendapatkan pemasukan yang layak, dia tidak ingin putrinya melanjutkan tradisi keluarga. "Di masa depan, saya akan mengizinkan anak saya hidup di daratan agar dia bisa bersekolah dan mendapatkan pekerjaan yang layak," ungkap perempuan berusia 34 tahun itu saat ibunya beristirahat di atas hammock di kapal mereka dikelilingi karung tapioka.

Apa yang diimpikan Toui sama dengan yang diimpikan kaum muda Vietnam lainnya yang jumlahnya mencakup setengah dari 93 juta populasi negara Asia Tenggara itu. Warga di pedesaan Vietnam ingin pindah ke kota untuk mendapatkan penghidupan yang mereka rasa lebih layak.

Komentar