Opini

Pendidikan Mengubah Hidup

Senin, 11 September 2017 00:02 WIB Penulis: Komaruddin Hidayat Dewan Penasihat Yayasan Sukma,Jakarta

Komaruddin Hidayat Dewan Penasihat Yayasan Sukma, Jakarta. MI/ADAM DWI

SEWAKTU masih nyantri di Pondok Pabelan, Magelang, ada nasihat kiai yang masih melekat di hati, bahwa seseorang akan naik derajat karena ilmu pengetahuan, akhlak (integritas), dan membuang jauh-jauh sikap malas. Coba kita amati kehidupan sosial sekeliling. Banyak keluarga desa miskin berubah nasib ketika salah satu anak dan warganya memperoleh pendidikan bagus yang mengantarkan pada karier ekonomi yang lebih baik, dan pada urutannya bisa membantu pendidikan saudara-saudaranya.

Saya sering bertanya pada teman yang sudah sarjana dan sudah memperoleh pekerjaan, bagaimana rasanya sudah kerja? Rata-rata menjawab gembira karena bisa membantu biaya pendidikan adik-adiknya. Bahkan pertanyaan serupa juga saya ajukan ke PRT (pembantu rumah tangga), jawabnya sama. Gaji yang diterima sebagian ditabung untuk membantu pendidikan keluarganya.
Artinya, masyarakat sangat menyadari untuk mengubah nasib seseorang, pendidikan satu-satunya jalan yang mesti ditempuh. Orangtua yang berhasil mengantarkan pendidikan anak-anaknya yang berkualitas jauh lebih berharga daripada mewariskan harta tanpa disertai pendidikan.

Pada zaman modern, pendidikan itu diintegrasikan dengan sistim sekolahan sehingga orang yang berpendidikan artinya mereka yang memiliki ijazah resmi sebagai tanda tamat dan sewaktu-waktu ijazah itu diperlukan untuk melamar pekerjaan dan menaiki jenjang karier. Sekalipun kita kecewa dengan kualitas pendidikan di Tahah Air, sistem pendidikan di sekolah tetap kita butuhkan. Dalam skala nasional kita bisa membandingkan, wilayah dan etnik yang maju selalu berkorelasi dengan tradisi dan tingkat pendidikan yang sudah mapan.

Jika dibandingkan dengan masyarakat lain, penduduk Jawa lebih maju karena memiliki tradisi sekolah yang sudah tua dan mapan. Perguruan tinggi yang bagus-bagus berada di Jawa. Belum lagi kondisi alamnya yang subur. Namun, pemerintah mesti mendorong tumbuhnya pusat-pusat pendidikan yang bagus secara merata di seluruh Tanah Air. Sekarang ini dunia pendidikan, mau tak mau, terseret masuk pada persaingan mutu produk layaknya dunia industri.

Lembaga pendidikan yang tidak bisa menghasilkan alumnus yang berkualitas dan kompetitif dalam lapangan kerja akan menyusut peminatnya. Prestasi sebuah sekolah dan universitas tidak bisa lagi sekadar memperbanyak wisudawan-wisudawati tanpa yang bersangkutan memiliki kedalaman, teori ilmiah, skill, kemampuan komunikasi sosial dan integritas. Ketika melamar pekerjaan, semata mengandalkan ijazah tidak jaminan diterima tanpa tambahan pendukung lain, misalnya, pengalaman kerja, kemampuan berbahasa asing keterampilan komputer dan komunikasi sosial.

Situasi ini jauh berbeda dari tahun-tahun jauh sebelumnya ketika jumlah sarjana masih sedikit sehingga siapa pun memiliki ijazah menjadi jaminan untuk memperoleh pekerjaan. RI beruntung punya tetangga Australia, Singapura, dan Malaysia sehingga dihadapkan pada persaingan dan pembelajaran langsung dari kemajuan mereka dalam memajukan pendidikan. Sekitar 100 tahun lalu orang memandang Australia tak lebih sebagai daratan luas yang tandus di bawah koloni Inggris, tempat pembuangan penjahat kulit putih dari daratan Eropa.

Tetapi sekarang Australia berhasil membangun peradaban moderen dan menjadi tujuan pendidikan dari berbagai negara asing, termasuk dari Indonesia. Berkat pendidikan yang dikelola serius dan maju, salah satu sumber devisa Australia datang dari sektor pendidikan, di samping sumber alamnya yang dapat dieksplorasi dan dikelola dengan sangat baik. Begitu pun Singapura yang dulu miskin ketika lepas dari Malaysia, sekarang menjadi negara kota yang sangat maju dalam industri pendidikan yang berdampak pada kemajuan jasa kesehatan dan keuangan sebagai hub kemajuan ekonomi Asia Tenggara.

Lagi-lagi, pendidikan lah yang telah mengubah Singapura menjadi salah satu negara kota termodern tidak hanya di Asia Tenggara, tapi juga dunia. Yang juga membuat kita terpana, kemajuan pendidikan di Malaysia. Pusat-pusat pendidikan di sana dibangun dengan standar internasional, termasuk bahasa pengantarnya. Putra-putri Malaysia yang terbaik dijaring lalu dikirim keluar negeri untuk belajar di perguruan tinggi ternama di dunia dalam rangka mendongkrak program dan standar internasionalisasi pendidikan di dalam negerinya ketika alumninya kembali ke Malaysia.

Dan ini sudah berlangsung tiga generasi secara masif. Jumlah universitas di Indonesia lebih dari 4.000, lebih banyak daripada jumlah perguruan tinggi di Tiongkok. Namun kualitasnya masih medioker, alias pas-pasan, jauh di bawah Singapura. Kekalahan kontingen olahraga RI di SEA Games yang berada di nomor lima mengindikasikan pembinaan bakat dan bibit unggul anak-anak bangsa tidak berjalan bagus, untuk tidak mengatakan kedodoran.

Saya pernah mendengar cerita, dulu Bung Karno mengirimkan putra-putri bangsa terbaik untuk mendalami sains dan teknologi ke negara maju dengan harapan kekayaan alam Indonesia dieksplorasi bangsa sendiri. Namun, agenda Bung Karno berantakan, lalu yang lebih menonjol orang belajar ke luar negeri untuk mendalami ilmu sosial, terutama ke Barat (AS). Gagasan Bung Karno ini diteruskan BJ Habibie dengan mengirim putra-putri terbaik untuk belajar sains, tapi lagi-lagi karena turbulensi politik banyak dari mereka yang tidak pulang ke Tanah Air lalu memilih berkarier di luar negeri.

Saat ini RI memiliki sarjana ilmu sosial yang jauh lebih banyak daripada sarjana bidang sains. Fenomena ini berpengaruh pada perkembangan ekonomi dan politik. Kata demokrasi seakan jadi mantra suci yang selalu muncul dalam wacana sosial. Orang lebih disibukkan wacana dan manuver politik menghadapi pilkada dan pemilu, tetapi lemah sekali dalam inovasi sains serta pengembangan bidang industri manufaktur.

Kita jadi mangsa empuk dan menggiurkan bagi negara produsen dan eksportir asing karena jumlah penduduk Indonesia yang tinggi dan sumber alamnya yang melimpah, padahal SDA semakin menipis dan lingkungan rusak. Pada para siswa kita tidak bisa lagi memberikan harapan besar atas belas kasih alam, tanpa dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi canggih. Pembelajaran ilmu sejarah di sekolah perlu diubah materinya. Tidak hanya fokus pada sejarah Indonesia, tetapi perlu sejarah komparatif bangkitnya negara-negara di Asia agar siswa memiliki kesadaran dan tantangan membangun bangsa sendiri di tengah persaingan global.

Komentar