Tifa

Memamerkan Hasil Perjalanan

Ahad, 10 September 2017 14:45 WIB Penulis:

MI/ABDILLAH M MARZUQI

LAYAKNYA para traveller, ia memajang setiap hasil serta menulis apa pun yang didapati dalam perjalanan. Namun, kali ini berbeda, seorang traveller berjalan-jalan di Jakarta selama beberapa hari. Alih-alih menjadikan laman media sosial sebagai ruang pamernya, ia malah memilih tembok sebagai tempat untuk menempel kesan, pesan serta barang hasil perjalanannya.

Itulah yang dilakukan Lee Wan dalam karya berjudul The Travel of Lee Wan. Ia melakukan perjalanan selama beberapa hari di Jakarta. Dari perjalanan itu, ia menghasilkan sebuah jurnal visual yang unik dan personal. Jurnal itu ditulis ulang dengan menyertakan benda temuan yang mendukung perasaan dan pengalamannya selama menjadi traveller.

Lee Wan ialah seniman asal Korea yang menjadi salah satu pemamer karya dalam Pameran Seni Media dan Instalasi Korea Indonesia ke-5 yang bertajuk Nomadic Traveller pada 8-17 September 2017 di Edwin’s Gallery Jakarta. Pameran ini dikuratori Jeong-ok Jeon dan Evelyn Huang.

Selain Lee Wan, tujuh seniman lain yang turut berpamer karya ialah FX Harsono, Julia Sarisetiati, Venzha Christ, Lee Wan, Moon Hyungmin, Lee Hansu, Lee Sang Hyun, dan delapan seniman Korea dan Indonesia yang diundang untuk pameran ini memiliki karya yang tidak hanya terbatas pada perjalanan manusia dalam konteks kultural yang spesifik, tetapi juga mencakup perpindahan materi, wacana, dan informasi di dalam masyarakat.

Kampanye turisme lokal
Zico Albaiquni memajang karya Bezoek Bandung! All Land For Sale!. Dalam karya itu, ia mendiskusikan eksploitasi lahan atas nama kampanye turisme lokal. Dengan mengambil latar Terminal Ledeng yang dikabarkan akan dibeli investor Korea yang akan membantu pengusaha lokal untuk membuat tempat wisata di lahan tersebut.

Kondisi itu membuat warga resah karena ketidakpastian akan perubahan ekosistem yang mereka jalani sehari-hari seiring dengan dimulainya pembangunan hotel. Lukisan Zico itu dibungkus dengan bahasa visual mooi indie, yang merupakan bentuk iklan untuk mengundang investor asing ke wilayah Nusantara pada zaman kolonial Hindia Belanda.

Dalam kuratorial disebutkan Nomadic Traveller menampilkan ide seputar pengembaraan dalam ranah seni rupa kontemporer Korea dan Indonesia. Topik pengembaraan dapat ditemukan pada sejumlah seniman kontemporer dari kedua negara dalam konteks perpindah­an antara batas teritorial, maupun antarbudaya. Mereka juga menempuh beragam metode kreatif dalam eksperimen teknik dan media.

“Temanya sebenarnya agak cukup generik, travel. Kami memang ingin menampilkan spektrum selebar-lebarnya mengenai perjalanan manusia,” terang Evelyn. (Abdillah M Marzuqi/M-2)

Komentar