Tifa

Harmoni Melodi dan Kedalaman Pesan

Ahad, 10 September 2017 14:30 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

MI/ABDILLAH M MARZUQI

MALAM itu, tempat berkapasitas 1.200 orang itu penuh. Padahal Teater Jakarta boleh dibilang sebagai tempat pertunjukan terbesar yang dimiliki Indonesia. Ruang penonton tiga lantai tidak menyisakan tempat untuk yang ingin duduk. Beberapa tidak kebagian kursi. Mereka yang berdiri di sayap balkon atas harus memajukan kepala mereka jika ingin melihat panggung megah itu. Jika tidak, pandangan mereka terhalang oleh batas pengaman balkon yang cukup tinggi.

Tentu para penonton tidak ingin melewatkan setiap aksi panggung. Maklumlah malam itu world premiere karya terbaru Ananda Sukarlan bertajuk The Voyage to Marege pada 31 Agustus 2017 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pertunjukan musik yang diadakan Kedutaan Besar Australia itu menampilkan karya dua musikus Australia dan satu musikus Indonesia. Di antaranya karya Peter Seulthorpe berjudul Small Town (1976), karya Betty Beath berjudul Lagu-Lagu Manis (1994). Sementara itu, Ananda Sukarlan menampilkan dua karya bertajuk Marzukiana Pianistica (2012/2016) dan The Voyage to Marege’ (2017).

Small Town (1976) ialah orkestra kecil yang menampilkan terompet, oboe, dan perkusi. Karya ini menggambarkan peringatan bagi tentara yang gugur sekaligus penghormatan kepada orang yang telah gugur dalam pengabdian untuk negara. Lagu-Lagu Manis (1994) adalah puisi nada untuk orkestra dan berasal dari masa-masa di Bali. Betty Beath dimentori musikus Bali, yakni Cokorda Agung Mas dari Ubud. Musiknya dipengaruhi pertunjukan gamelan dan tarian yang disaksikan Betty di rumah Cokorda Mas.

Sementara itu, Marzukiana Pianistica merupakan dua karya piano dan orkestra yang didasarkan pada melodi Indonesia Pusaka dan Selendang Sutra karya Ismail Marzuki yakni. Komposisi tersebut juga menampilkan Stephanie Onggowinoto sebagai piano solo.

The Voyage to Marege (2017) yang menjadi tajuk dalam konser itu merupakan karya terbaru Ananda Sukarlan. Konser itu terinspirasi oleh koneksi antara masyarakat Yolngu dari timur laut Arnhem Land dan para pedagang Bugis dari Makassar.

Konser itu dimaksudkan sebagai hadiah dari Australia untuk masyarakat Indonesia dalam perayaan utang tahun kemerdekaan Indonesia. Menurut Duta Besar Australia untuk Indonesia Paul Grigson, konser itu perayaan untuk ikatan yang dalam antara Australia dan Indonesia yang memiliki sejarah panjang dan kaya.

“Sebagai tahap berikutnya dalam narasi hubungan ini, saya meminta komposer Indonesia terkemuka Ananda ­Sukarlan dan musisi penduduk asli Australia Djakapurra ­Munyarryun dan Kevin ­Yunupingu untuk membangkitkan sejarah bersama Austra­lia dan Indonesia melalui musik,” terang Paul Grigson.

Perjalanan ke Australia
Demi karya ini pula, Ananda Sukarlan melakukan perjalanan ke Australia untuk mengunjungi masyarakat Yolngu untuk mempelajari kebudayaan, tradisi, dan musik. Dalam kunjungan ini pula, Ananda juga berjumpa dengan Djakapurra Munyarrun.

“Pada Juni saya menghabiskan beberapa hari dengan masyarakat Yolngu di Northern Territory of Australia, mempelajari musik mereka. Awalnya ini perjalanan penelitian musikal untuk karya orkestra The Voyage to Marege atas permintaan Kedutaan Besar Australia di Jakarta. Selama kunjungan tersebut saya juga belajar tentang banyak aspek kehidupan lainnya,” terang Ananda.

Voyage ditampilkan dengan orkestra simfoni lengkap dengan pemain yidaki sebagai salah satu solois. Yidaki ialah sebutan masyarakat Yolngu untuk instrumen tradisio­nal yang disebut didgeridoo. Alat ini tidak mengeluarkan melodi. Sebaliknya, alat ini mengeluarkan suara yang dihasilkan dengan cara meniupnya. Sementara itu, Marege ialah nama yang diberikan pelaut Makassar untuk wilayah di sekitar Arnhem Land di Australia Utara. Para pelaut Makassar mendarat dari akhir abad ke-18 sampai awal abad ke-20.

Mereka berlayar untuk me­ngumpulkan teripang, barter dengan masyarakat Yolngu dengan rempah-rempah dan produk tanaman lain dari Sulawesi. Karena kontak yang berkelanjutan ini, pertukaran budaya terjadi secara alami. Misalnya, beberapa kata dari bahasa Makassar diadopsi ke dalam bahasa Aborigin, misalnya rupiya untuk uang, balanda untuk orang asing, mutiyara untuk mutiara, dan trepa untuk teripang.

Selain menggunakan tradisi musik Aborigin, The Voyage to Marege juga memakai melodi rakyat Makassar, Ammaciang, sebagai motif utama. Bait lagu Ammaciang dipakai untuk titik awal dari karya ini, yakni ­samudra pun akan kuarungi untuk menemukan keindahanmu.

Selain itu, Ananda memasukkan unsur cinta dalam karya ketika flute solo dan yidaki solo yang menggambarkan dua karakter budaya yang berbeda, bahasa (musik), dan waktu yang bertemu dan jatuh cinta.

“Saya tidak akan bisa menciptakan karya seperti ini jika saya tidak bertemu dengan masyarakat Yolngu,” terang Ananda.

Ananda menampilkan ba­ngunan emosi yang kuat dalam karya The Voyage of Marege. Melalui tempo permainan yang dibuat sedemikian rupa, Ananda mampu membuat musik yang seolah punya ruang dan dunia tersendiri. Bunyian bisa menyeret jiwa untuk masuk ke ruang yang diciptakan musik itu. Terkadang nada pilu menggencar dan semakin mengoreskan perasaan gelap. Emosi dalam nada gelap yang semakin menjadi-jadi.

Namun bagian berikutnya berbeda, irama merancak dan menggebu justru muncul. Menyapu hilang suasana sebelumnya. Ada lompatan rasa dan emosi. Terkadang ada fase yang membuat perasaan serasa diseret masuk dalam pilu, lalu diayun kemudian diempas pada fase berikutnya. Itulah yang disebut Ananda Sukarlan dengan main perasaan.

Di balik setiap lompatan rasa dan emosi ada pesan dalam karya ini. Dalam satu bagian komposisi, Ananda memasukkan unsur musikalitas yang sangat akrab dengan dunia Islam. Ananda punya semangat keindahan dan harmoni dalam karya yang membalut kedalaman pesan.

“Saya sih sebenarnya ingin lebih memberi nuansa dan ngasih keindahan Islam. Karena sekarang Islam itu sekarang udah image-nya itu tukang fitnah, dikit-dikit nista agama, dikit-dikit berita bohong,” pungkas Ananda. (M-2)

abdizuqi@mediaindonesia.com

Komentar