Jeda

Berbagi di Antara Sempitnya Pilihan

Ahad, 10 September 2017 11:45 WIB Penulis: Abdillah Marzuqi

“SAYA menggambar es krim,” ujar Yusuf, 10. Di kertas, tampak coretan-coretan garis panjang yang sebenarnya tidak mirip es krim.

Namun, imajinasi Yusuf, juga sang adik, Yahya, 4, sudah mengagumkan jika melihat keterbatasan di tempat tinggal mereka, baik keterbatasan sarana maupun aktivitas. Dua bocah itu merupakan penghuni lokasi penampungan pengungsi di Cisarua, Jawa Barat.

Kamis (7/9) pagi itu, Yusuf dan Yahya menggambar sembari menunggu ayah mereka, pengungsi asal Afghanistan yang sedang mengikuti kelas bahasa Inggris yang difasilitasi Yayasan Jesuit Refugee Service (JRS) Indonesia, di sebuah rumah di lokasi penampungan tersebut. Ruang yang digunakan untuk belajar sedianya merupakan ruang tamu. Sementara itu, perpustakaan sendiri berada di dapur.

Sang guru bahasa Inggris adalah Maryam, yang juga seorang pengungsi. “Saya ingin agar pengungsi lain lebih terbuka, selain itu bagaimanapun komunikasi adalah hal penting untuk mencari negara baru,” tutur perempuan berusia 28 tahun itu soal tampilnya ia sebagai guru.

Lebih jauh, Maryam mengaku hidup di pengungsian tidak memberinya banyak pilihan. Sebagai seorang bergelar sarjana komunikasi, ia ingin memiliki hidup normal termasuk bisa bekerja dan berkarya. Maka membagikan ilmu ialah satu cara untuk tetap berkegiatan di tengah minimnya pilihan.

Di sisi lain, menjadi guru juga tidak membuatnya berhenti meratap. “Secara fisik tidak ada masalah besar, tapi secara mental (menjadi pengungsi) itu sangat mengganggu. Seperti ketika berpikir tentang masa depan, tidak ada tujuan. Tidak tahu apa pun,” ucapnya sembari menahan tangis. Ibu anak berusia empat tahun itu pun sangat berharap dapat bekerja layaknya orang lain.

Tanpa bekerja, ia tidak memiliki pemasukan. Maka untuk hidup sehari-hari, ia harus sangat berhemat dengan uang yang ia bawa dari Afghanistan.

Staf Education Project Yayasan JRS Indonesia M Dam Febrianto menyebut program pendidikan itu dimulai pada 2013. Program itu berawal dari kekososngan akibat tidak lagi hadirnya lembaga-lembaga internasional yang semula membantu pengungsi.

“Bagaimana agar para pengungsi ini memiliki kegiatan. Karena mereka kan dilarang bekerja. Juga kesulitan untuk mengakses pendidikan formal di Indonesia terus kesulitan bahasa,” tambah Koordinator Bogor Project Melani Wahyu W.

Yayasan JRS Indonesia juga menjalankan program Be Friend yang memberikan pendampingan terhadap para pengungsi atau pencari suaka. Proses penetapan status pengungsi memang bisa berjalan hingga dua tahun. Program ini juga memberikan bantuan biaya kesehatan. Saat ini, program Be Friend kesehatan menjangkau sekitar 100 penerima manfaat. Program ini diprioritaskan kepada keluarga, kelompok rentan, serta anak-anak di bawah 18 tahun tanpa pelindung.

“Jadi (dari) 100 orang itu, 23 orang itu keluarga,” tambah Melanie.

“Kalau Bogor dan sekitarnya itu 2.500 (pengungsi). Kalau Jakarta-Bogor dan sekitarnya itu 6.000. Jadi jika dibandingkan dengan jumlahnya, sebenarnya yang kami bantu masih sanagat kecil,” tuturnya.

Mendatangkan guru
Kelas pelatihan bahasa juga terlihat di penampungan pengungsi Beras Pati di Jalan Jamin Ginting, Medan, Sumatra Utara. Tidak hanya bahasa Inggris, anak-anak etnik Rohingya juga diajari bahasa Indonesia.

“Gurunya kita datangkan dari Medan juga,” ujar staf Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) Melva yang bertugas di penampungan tersebut.

Sebagaimana di penampungan-penampungan lain yang dibangun pemerintah maupun di Rumah Detensi Imigrasi yang berada di bawah Direktorat Jenderal Imigrasi, Kementerian Hukum dan HAM, kebutuhan pengungsi dan pencari suaka disediakan IOM.

Di Langsa, Aceh, Asisten Pemerintahan Sekretaris Daerah Langsa Suriyatno mengatakan pihaknya juga telah berupa untuk menangani pengungsi dengan maksimal. Hal itu dilakukan dengan adanya lahan seluas 5 hektare yang diperuntukkan pembangunan kamp penampungan pengungsi. Di luar itu bisa juga digunakan untuk kepentingan tempat pelatihan dan tempat persiapan atlet Olimpiade.

“Kawasan Timbang Langsa memang disiapkan menjadi tempat permanen, penampuangan pengungsi dan karantina. Begitu juga sedang dipikirkan pembangunan sekolah. Akan tetapi, dulu, kami juga mementingkan pendidikan anak-anak pengungsi. Ada enam anak yang kami titipkan di Sekolah Dasar Matang Seulimeun,” kata dia soal penanganan pengungsi yang telah berakhir pada November tahun lalu.

Di Jakarta, Kepala Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Kalideres Jakarta, Buono Adi Sucipto mengatakan pengungsi difasilitasi beragam kegiatan. “Jadi pencari suaka dan pengungsi itu dibantu oleh International Organization for Migration (IOM). IOM inilah yang membantu para pencari suaka dan pengungsi untuk makan, minum, dan fasilitas kesehatan di rumah detensi,” terang Sucipto.

Di hari Senin dan Rabu ada pemeriksaan kesehatan. Rabu ada pengajian. Dua minggu sekali setiap Kamis itu ada rekreasi keluar. Jadi bisa main ke tempat rekreasi, ada yang berenang, bahkan ada yang belanja.

“Difasilitasi semua dari IOM yang dilaksanakan sama rumah detensi,” lanjutnya.

Khusus untuk hari Selasa ada kegiatan dengan konse­ling dengan Pusat Krisis Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (Puskris UI) untuk anak-anak, remaja, dan orang tua. Sabtu-Minggu tidak ada kegiatan.

Buono menjelaskan dalam jangka waktu 3-4 tahun berada di Rudenim, umumnya para pencari suaka akan mendapat kepastian status dari UNHCR. Setelah itu, pengungsi bisa dipindahkan ke community house.”. (PS/FD/M-3)

abdizuqi@mediaindonesia.com

Komentar