Kuliner

Pesona Tatar Sunda di Serpong

Ahad, 10 September 2017 07:16 WIB Penulis: Iis Zatnika

MI/Iis Zatnika

TAK perlu menembus kemacetan Puncak atau Cipularang untuk sampai di Tanah Pasundan. Di Festival Kuliner Serpong (FKS), di Summarecon Mal Serpong, semua kuliner khas Sunda ada. Waktu terbaik mengunjunginya ialah akhir pekan, walau dipastikan pengunjungnya lebih padat, tapi bertandang bersama orang-orang tersayang, tentu lebih seru. Jadi, karena yang diselenggarakan sejak Kamis (10/8) akan berakhir malam ini, yuk ke sana!

Seusai melewati dekorasi payung geulis, cendera mata kebanggaan 'urang' Tasikmalaya, yang terbuat dari kertas dengan warna-warna meriah berbunga-bunga, serta saung-saung beratap rumbia dengan formasi Julang Ngapak juga rumah panggung Ciamis, penjelajahan pun dimulai. Terdapat 97 penjaja kuliner makanan berat hingga camilan hadir di sini. Sebagian telah menjadi legenda kuliner Jawa Barat atau perusahaan rintisan yang terinspirasi kekayaan kuliner Sunda. Tak hanya itu, aneka usaha kecil menengah (UKM) yang bergelut melestarikan tradisi kuliner dari seantero Nusantara.

Bergedel Nasi Jamblang Mas Dul

Nasi Jamblang Mas Dul, salah satu ikon kuliner Cirebon, segera merebut perhatian saya. Bayangkan, jika lazimnya butuh waktu sedikitnya 4 jam dari Jakarta, itu pun jika tol lancar, kini bergedel, sambal cabai merah dan tumis kerang kering itu saya bisa dinikmati di sini.

Perkedel, yang di kalangan warga Cirebon serta beberapa wilayah di Pulau Jawa, disebut Bergedel, hadir panas-panas, langsung dari penggorengan. Sambal khas Cirebon, irisan cabai merah tipis-tipis dengan tingkat kepedasan segar dan menjadi menu wajib di setiap warung nasi jamblang, tampil tak kalah menggoda. Buat lauknya, saya memilih tumis kerang yang digoreng kering. Daun jati segar, menjadi pelengkap yang kerennya, turut hadir di sini, hadir sebagai alas nasi.

Nasi jamblang, sebenarnya sajian nasi putih biasa, dengan aneka lauk, dan menjadi khas karena daun jati sebagai penyerta. Nasinya, dalam bahasa Sunda, disebut bertekstur haragrag, tidak lembek, cenderung keras, sehingga sedap kendati dimakan dalam kondisi tak hangat sekalipun.

Untuk sajian sedap nan eksotis itu, kartu makan FKS bergambar wayang golek, dan layak dijadikan koleksi itu milik saya, berkurang Rp18 ribu saja!

Salah satu sajian berjudul nasi ala Cirebon lainnya, nasi lengko, juga hadir di FKS, di tenda lainnya, bersama dengan satai kambing. Sajian nasi putih, juga bertekstur haragrag, dengan taoge, potongan tahu, dan tempe bersiram sambal kacang yang sekilas mirip bumbu pecel, itu disempurnakan dengan potongan seledri. Di Cirebon, nasi lengko menjadi sajian rakyat layaknya nasi uduk atau nasi kuning di tanah Sunda serta kawasan Indonesia Timur, mulai Kupang, Manado, hingga Palu.

Lazim dijajakan berkeliling di pagi hari, nasi lengko juga dijual di warung-warung permanen sepanjang hari. Rasa gurih, segar, dan renyah nan mengenyangkan dari sajian nasi ini membuat saya terkenang menikmati sajian ini dari ibu-ibu yang berkeliling Stasiun Cirebon dua dekade lalu.

Es Oyen, alpukat dan kelapa muda

Sejenak menyegarkan diri, saya beralih ke gerobak es oyen Pak Eef yang hadir autentik dengan gerobaknya. Sajian es oyen menjadi salah satu favorit warga Bandung. Ada banyak nama-nama kios legendaris di sana, tapi wujud yang dihadirkan tetap sama, serutan es yang ditimpa alpukat dengan tekstur yang lembut, siraman pacar china, bentuknya bulat-bulat merah terbuat dari sagu, lembaran kelapa muda yang dijamin teksturnya pas, ditutup kucuran susu kental manis.

Di Jakarta, yang paling mirip dengan sajian ini es teler, tapi yang membuat es oyen istimewa, ialah eksistensi pacar china!

Semangkuk es oyen ini berharga Rp20 ribu. Ketika disantap bersama orang-orang terdekat, tentunya bikin asyik.

Wangi daun suji dari Rengasdengklok

Tak lama, aroma kayu terbakar yang berpadu daun saji yang menguar, membuat perhatian tertuju ke stan dengan tulisan besar-besar, Pondok Serabi Hijau Khas Rengasdengklok-Karawang. Ada jajaran gerabah yang tak henti mematangkan serabi-serabi hijau nan wangi.

Warna hijau dan wanginya, diperoleh langsung dari perasan daun suji. Ingatan kembali terlontar ketika menikmati serabi langsung di kiosnya di Rengasdengklok, yang hanya terpaut beberapa menit dari Monumen Kebulatan Tekad serta rumah milik Djiauw Kie Siong, salah satu pasukan Pembela Tanah Air (Peta), yang dijadikan sebagai lokasi 'penculikan' Soekarno Hatta menjelang proklamasi.

Tonton sisingaan

Tajuk FKS 2017, dari Timur Menuju Barat, agenda tahunan Summarecon Mall Serpong yang digelar satu bulan penuh ini sukses mempertemukan leluhur kuliner Sunda, yang dalam kesehariannya terpaut puluhan hingga ratusan kilometer.

Namun, berkah menangguk untung itu bukan cuma dinikmati para jagoan lama. Saya menemukan perusahaan rintisan, #Seblak Jeletet Murni yang digerakkan anak-anak muda yang memadukan kerupuk-kerupuk yang direndam air hingga bertekstur kenyal dengan pelayanan ala kedai kopi internasional. Nama kita dicatat di mangkuk kertasnya, berikut pilihan menu, ceker, makaroni atau kerupuk yang tak lagi kriuk tadi!

Kekayaan kuliner lokal dirayakan, usaha kecil menengah berputar kian kencang, dan tradisi pun dilestarikan. Saya menikmati betul penampilan Arumba Mang Udjo yang bermarkas di kawasan Cicaheum, Bandung, serta sisingaan yang menjadi tradisi selamatan anak sunatan di Subang dan wilayah pantura lainnya, yang tampil mengentak. Tahun depan, petualangannya ke mana lagi, ya! (M-4)

Komentar