MI Muda

Dari Kokas ke Pasar Global

Ahad, 10 September 2017 03:01 WIB Penulis: Iis Zatnika

Dok. Pribadi

CREATIVE Week 2017, yang diselenggarakan LaSalle College Jakarta di Food Society, Kota Kasablanka Mall (Kokas), Jakarta, diselenggarakan 9 hingga 20 Agustus.

Para mahasiswa kampus LaSalle College Jakarta berkolaborasi memperkenalkan pengalaman desain pada kaum urban Jakarta. Tentunya, sembari memperkenalkan karya dan bisnis mereka. Sebagian tampil dalam aneka pertunjukan yang digelar silih berganti dan ada pula yang fokus menjual produknya.

Anak-anak muda dari semua program, mulai desain feyen, bisnis fesyen, desain interior, desain media digital, fotografi, hingga make-up artistik, eksis di sini.

Motif truntum dengan dominasi warna biru dalam dalam potongan atasan bergaya kimono Jepang yang dipajang di stan Kagumi mencuri perhatian. "Truntum bermakna true love dan beauty. Motif ini salah satu yang paling menarik perhatian kami daat melakukan field trip ke pembatik di Solo. Lalu, terinpirasi dari kunjungan ke Jepang, di kawasan sekitar kelenteng di Asakusa, kami melihat bagaimana eksistensi kimono. Keduanya lalu kami pertemukan dalam desain Kagumi," ujar Jeanne Barosa dan Sharon Olivia, keduanya mahasiswa bisnis fesyen yang bersama satu kawannya yang lain, Nadya Yulistria, mengoperasikan Kagumi.

Kerja keras

Perusahaan yang juga tugas akhir itu menjadi rangkaian terakhir dalam perjalanan belajar mereka. Mereka mempelajari bisnis fesyen, mulai jenis kain, desain, membuat press release, menyusun rencana usaha, hingga membuat look book. Kagumi menjadi medium praktik langsung di dunia bisnis. Mereka mengimplementasikan semua teori, diskusi intens dengan dosen, perjumpaan dengan praktisi yang didatangkan rutin, perjalanan melakukan kunjungan lapangan, hingga mengamati langsung bagaimana pengusaha fesyen dari berbagai skala bekerja.

Jeanne yang besar di Surabaya dan Sharon yang asal Kupang, Nusa Tenggara Timur, memilih jurusan dan kampus yang berfokus pada desain buat mengejar kariernya di dunia bisnis fesyen. "Ternyata, berat banget, butuh effort karena selain harus menguasai teori, kami dituntut terus praktik. Namun, dari sini, kami bisa hafal jenis-jenis kain hingga menentukan harga jual, kerja kerasnya terbayar," ujar keduanya.

Optimisme make-up

Berjarak beberapa meter saja dari lokasi berjualan merek dengan akun Instagram @kagumi.official itu, ada Wawa Huduri, Anastasya, serta dua temannya yang menampilkan karya make-up-nya bertema camuflage bodypainting.

"Kami menampilkan sosok pria yang tubuhnya kami warnai dengan cat khusus, 3-4 jam mengerjakannya. Aslinya, modelnya hanya menggunakan celana pendek, tetapi dengan teknik tertentu bisa tampak menggunakan baju lengkap serta terkamuflase dengan latar belakangnya, yang motifnya serupa," ujar Wawa.

Menempuh pendidikan di program artistic make-up, Wawa tengah merintis karier di bidang perfilman dan seni. Salah satunya dengan menghasilkan karya-karya efek spesial.

"Karena dunia perfilman Indonesia juga sedang bagus, juga dimungkinkan berkarier di luar negeri, saya ingin fokus ke bidang film dan seni. Saya optimistis," ujar Wawa.

Profesi di dunia film dan seni memang salah satu pilihan karier lulusan ini, pun tentunya menjadi make-up artist yang kini tengah banyak dibutuhkan kaum urban untuk eksis. Mendadani klien yang hendak menikah, wisuda, serta berbagai acara istimewa lainnya, termasuk pemotretan untuk diunggah di media sosial, kata Wawa dan kawan-kawannya, menjanjikan peluang bagus.

Bisnis alumni

Di sayap area Creative Week 2017 lainnya, juga terdapat stan-stan milik alumni. Salah satunya yang dikawal Dena Meidina beserta tiga kawannya dalam merek Clean Lines. Dena bersama stafnya tengah sibuk melayani pembeli, memilihkan warna dan ukuran. Berbeda dengan bisnis-bisnis milik adik-adiknya yang masih kuliah, Clean Lines yang dikelola alumnus memang telah sepenuhnya terjun ke pasar.

"Selama ini kan, merek fesyen yang menonjolkan desain yang simpel tapi gaya itu kan identik dengan harga mahal dan brand besar. Kami berupaya menampilkan Clean Lines yang membuat orang punya identitas, tampil dengan desain yang bagus, tapi harganya terjangkau," kata Dena Meidina dari Clean Lines yang menjual produknya lewat akun Instagram @cleanlines.official.

Selain Clean Lines milik Dena, ada tiga merek alumni bisnis fesyen, di antaranya @retronym_id, @ pastiche.p, serta @the_art_club.

Sesi inspiratif

Bukan cuma belanja, inspirasi karya-karya siswa LaSalle College Jakarta bisa dinikmati dari foto-foto yang dipamerkan, milik Insight Wedding Photigraphy, Little Memoir, Kalatisya, serta Mooi Portraiture. Mereka mahasiswa program fotografi yang juga tengah merintis bisnis.

Bukan cuma mahasiswa dan alumni yang eksis, ada pula sesi peragaan busana dan sesi inspiratif dari para pengajar LaSalle College Jakarta dalam acara Desainer Talk Show. Buat anak-anak muda yang juga bergairah pada fesyen, ada pula kompetisi ilustrasi fesyen.

"Mendorong mereka untuk merintis langsung bisnisnya dan mengeksplorasi berbagai pengalaman. Kami harap siswa LaSalle College Jakarta dapat berkompetisi di industri kreatif nasional juga internasional," ujar Teddy Suteja, Digital Media Design Program Director. Dari Kokas, jalan menuju panggung dunia pun dirintis! (M-2)

Komentar