Travelista

Merayakan Berkah Air di Sulteng

Ahad, 10 September 2017 07:01 WIB Penulis: M Taufan SP Bustan

MI/M Taufan SP Bustan

Rekreasi sambil terapi di Sigi

ANGIN semilir menerpa di antara deretan pepohonan rindang di kaki bukit, lokasi air panas Bora. Berada di pusat ibu kota Kabupaten Sigi, berjarak hanya 20 kilometer dari Palu, ibu kota provinsi itu, tempat ini mudah dan cepat dijangkau.

Akses jalan menuju lokasi juga sudah sangat layak sehingga jika ingin berkunjung, cukup menggunakan sepeda motor atau mobil dari Palu menuju arah selatan.

Ketika sudah memasuki Desa Bora di Kecamatan Sigi Biromaru dengan tanda bundaran Patung Topeaju, tak jauh dari situ tampak gerbang masuk menuju lokasi rekreasi ini.

Letaknya berada dalam lorong permukiman warga, tapi tenang karena petunjuk arahnya jelas dan gampang dicari. Pengunjung pasti tidak akan kehilangan jejak apalagi tersesat.

Setiba di depan pintu masuk, terdapat loket karcis dengan tarif Rp10.000 bagi dewasa dan Rp5.000 untuk anak-anak.

Namun, nominal rupiah tersebut rasanya tak sebanding dengan pesona lokasi ini. Pertama memasuki area, mata pengunjung bakal dimanjakan kesejukan taman nan hijau dengan tekstur tanah berbukit.

Semakin berjalan mendaki ke atas, pengunjung akan semakin merasakan kesegaran udara. Kombinasi alam yang langka hadir di sana, hawa hangat diiringi sedikit bau belerang dari uap mata air panas, bercampur udara sejuk dan segar.

Di bawah pohon rindang, penjaga objek wisata Fadlin, 24, menuturkan dahulu sumber mata air panas ini hanya berukuran kecil.

"Sekitar 2012 lalu kalau tidak salah dikeruk menggunakan alat berat. Setelah itu, barulah dibuatkan kolam dengan dikelilingi beton dan kemudian pengelolaannya dipegang alih Pemerintah Donggala," ucap pemuda asli Bora itu, belum lama ini.

Kini, lokasi wisata seluas tujuh hektare ini dikelola Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sigi. Tersedia aula lengkap berpendingin udara seharga sewa Rp1 juta serta lima cottage mulai Rp125 ribu hingga Rp300 ribu yang dilengkapi pemandian air panas di dalamnya.

Buat yang sekadar ingin berendam, ada 8 bilik sauna, 2 besar dan 6 kecil dengan tarif Rp10.000 hingga Rp20 ribu per jam. Ada juga pilihan bak berkapasitas empat hingga lima orang dengan penyewaan gayung, ember atau loyang, seharga Rp5.000. Keseluruhannya dihidupi satu sumber mata air panas.

Sebagian besar pengunjung mengaku berpelesir sekaligus berikhtiar mencari khasiat kandungan belerang. Mereka datang dengan keluhan asam urat, stroke, kolesterol, hingga gatal-gatal.

"Setelah mandi di sini, alhamdulillah mereka merasakan perubahan positif. Bahkan beberapa di antara pengunjung ada yang sembuh," sambung Fadlin meyakinkan.

Sambil menikmati kesejukan nuansa taman, pengunjung bebas memilih gazebo tanpa dipungut biaya.

Surga tersembunyi di Teluk Tomori

KOLONODALE sebuah kota kecil di Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah. Meski terbilang kota kecil, daerah yang ditinggali suku Mori dan Wana itu memiliki sebuah tempat yang menawarkan panorama alam dan dunia bawah laut yang eksotis.

Yah, namanya Teluk Tomori. Berada persis di depan Kota Kolonedale yang menjadi pintu gerbang menuju ke Teluk Tomori atau ke kawasan Cagar Alam Morowali Utara.

Di sana terdapat pelabuhan utama yang menghubungkan jalur transportasi laut Kabupaten Morowali Utara dengan daerah lainnya. Sebagian besar penginapan, pertokoan, terminal, dan pasar berada di kawasan yang terletak tidak jauh dari dermaga pelabuhan tersebut.

Teluk ini memiliki keindahan alam yang unik dan menarik. Airnya tenang dan kadang-kadang menyerupai sebuah cermin yang memantulkan bayangan gunung di sekitarnya.

"Ini surga yang tersembunyi di Teluk Tomori," aku salah satu wisatawan lokal, Salahuddin, yang hendak mengelilingi Teluk Tomori, belum lama ini.

Panorama alam ini semakin indah dengan adanya rangkaian kepulauan yang cantik. Sebut saja Payau Dara, nama pulau yang terletak di pusat laut dan beberapa pulau kecil lainnya, seperti Pulau Lampu, Pulau Tokabe, Pulau Bunda, Pulau Tomori, dan Pulau Toko Nanaka yang menyediakan banyak cottage.

Teluk ini juga memiliki ribuan spesies ikan karang yang unik dan cantik. Hal ini menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk melakukan kegiatan snorkeling maupun diving.

Di teluk ini pula terdapat Pulau Tomori yang sangat indah dan kerap dikunjungi wisatawan, sebuah pulau kecil yang berbentuk oval yang memanjang dari utara ke selatan. Pantainya memanjang di bagian timur dan barat, berpasir putih, sementara pantai di bagian utara dan selatan, berupa perbukitan setingginya 300 meter.

Terdapat batu karang di tengah laut yang menyerupai pohon beringin setinggi 25 meter, mencuat dari dasar laut, disebut Batu Apali atau Batu Payung.

Ada kearifan lokal yang mewarnainya, puncak batu dianggap keramat sehingga setiap perahu yang lewat di sana harus membunyikan sirene.

Selain itu, terdapat peninggalan mistis berupa cap tangan yang menempel di dinding sebuah tebing gunung batu di salah satu pulau. Di dalam teluk, juga terdapat air terjun Paka-Paka, indah dan mengalirkan air nan segar.

Karena daerah ini memiliki curah hujan tinggi sepanjang tahun, waktu terbaik pelesir ke sini September hingga November.

Mencapai kawasan ini, dengan transportasi darat, dari Palu ke Kolonedale memakan waktu kurang lebih 13 jam, lalu menggunakan taksi laut yang telah bersiap di pelabuhan untuk mengelilingi Teluk Tomori.

Untuk tarif, dari Palu menggunakan mobil rental Rp250 ribu per orang. Kemudian taksi laut alias perahu Rp50 ribu per orang.

"Cukup mahal memang biayanya, tetapi pengunjung puas karena bisa mengunjungi seluruh objek wisata," tutur pengunjung dari Palu lainnya, Basri.

Teluk Tomori kini terus dipromosikan di pasar dalam negeri hingga internasional dengan aneka rangkaian kegiatan kepariwisataan. Pemkab berharap pergerakan wisata bisa memberikan pemasukan tambahan bagi daerah yang terkenal dengan tambang nikelnya ini.

"Selain PAD dari sisi pertambangan, kami tengah fokus untuk menambah PAD dari sektor pariwisata," harap Bupati Morowali Utara Aptripel Tumimomor yang terus menggenjot acara rutin, gelaran Festival Teluk Tomori.

Pesona air terjun Salodik

Godaan lainnya, hadir di Luwuk, namanya Air Terjun Salodik, sekitar 20 km dari Kota Luwuk, di Desa Salodik, Kecamatan Luwuk, Kabupaten Banggai. Lokasinya di kaki gunung dengan ketinggian 750-1.000 mdpl.

Menuju air terjun ini, diperlukan waktu 45 menit perjalanan darat menggunakan mobil atau sepeda motor, dari Kota Luwuk. Jalannya berkelok tajam, tetapi hijaunya hutan tropis di sepanjang jalan tentunya akan menyegarkan mata.

Kesan pertama, mungkin fasilitas yang kurang terawat, dengan gerbang masuk dan gazebo yang dibiarkan seadanya. Namun, keindahan air terjunnya, tetap juara!

Air terjun memang tidak begitu tinggi seperti lazimnya, tetapi airnya jatuh mengalir bertumpuk.

Letaknya di kaki gunung membuat tempat ini jauh dari keramaian, hutan tropis di sekelilingnya pun membuat suasana segar. Hutan tropisnya masih lebat, dengan ekosistem masih terjaga mebuat sungai ini tak pernah kering walaupun di musim kemarau. Tarif masuknya Rp5.000 untuk dewasa dan Rp3.000 untuk anak-anak. (M-1)

Komentar