Pesona

Seindah Kerlip Bintang

Ahad, 10 September 2017 06:01 WIB Penulis: Suryani Wandari

MI/Ramdani

KEINDAHAN langit malam yang bertabur bintang kerap menjadi inspirasi. Begitu pula yang dialami Hian Tjen saat liburan di Maroko.

Desainer yang terkenal dengan gaun-gaun romantis yang penuh detail tersebut terkesima oleh gemerlapnya galaksi Bimasakti yang ia lihat melalui teleskop. Kekagumannya makin bertambah saat mendengar sebuah cerita rakyat Estonia tentang hamparan bintang itu.

Cerita itu berisi tentang perempuan bernama Lindu yang jatuh cinta pada ketampanan cahaya utara. Namun, karena sang kekasih tidak berkepastian, Lindu yang patah hati menjelma menjadi dewi yang memimpin kawanan burung yang terbang dari utara ke selatan. Jejak air mata sang Dewi menjadi hamparan bintang yang menjadi petunjuk jalur migrasi burung-burung untuk berpindah dari tempat dingin ke area yang hangat.

Keindahan rasi bintang berikut kisah cinta di baliknya itulah yang diangkat Hian Tjen dalam koleksi adibusana 2017-2018 yang diperagakan di Hotel Raffles, Jakarta, Rabu (6/9). Koleksi bertajuk Magellani, yang diangkat dari nama sebuah galaksi kecil itu, cukup berhasil merepresentasikan keindahan malam berbintang sekaligus nuansa kerinduan cinta, misteri, hingga kesenduan.

Hal itu terbangun baik pada gaun-gaun indah bersiluet princess, empire, terompet, hingga bertingkat; maupun busana berupa terusan span dan padanan jaket berlengan lonceng rok lebar klok. Meskipun koleksi kali ini terlihat lebih ringkas dari koleksi perdana tunggal Hian dua tahun lalu, tetap saja sofistikasi yang terlihat tidak kalah tinggi.

Tidak mengherankan Hian menerapkan teknik olah bahan yang mendetail. Salah satunya penggunaan bahan-bahan halus seperti silk gazar dan tulle yang dipotong-potong bahkan seakan dirajang dan disusun ulang.

Sementara itu, kesan kerlip bintang dihadirkan bukan saja lewat sematan kristal, melainkan juga dengan sulaman halus benang emas dan benang perak.

"Jika dilihat mungkin sederhana dan biasa saja, tapi teknik yang kami lakukan itu justru lebih sulit. Kami benar-benar menempelkan kristal dan bulu-bulunya satu per satu," kata desainer yang menjadi finalis di Concours Creation de Mode, Paris, pada 2004 itu.

Kolaborasi

Pada ke-59 set busana itu juga terlihat segala detail dan aplikasi yang diterapkan Hian bukan sekadar memperindah busana, melainkan juga mempertegas ide yang diusungkan.

Karena itu, kristal dan sulaman benang emas itu juga tidak sekadar membentuk motif abstrak, tetapi juga motif-motif lingkaran khas bentuk galaksi. Ada pula ilustrasi yang menggambarkan awan-awan hingga sosok Lindu.

Untuk menciptakannya, Hian menggandeng ilustrator asal Bali, Ian Permana. Bahkan Hian rela pulang pergi ke Italia menyulih ilustrasi Ian menjadi motif printing di atas bahan-bahan halus berkualitas prima. "Di Indonesia belum ada teknologi yang bisa print dalam kain berbahan silk, jadi ini menjadi tantangan besar," ungkap Hian.

Jerih payah desainer lulusan Esmod Jakarta 2003 ini tidak sia-sia. Hian berhasil menampilkan sisi kebaruan pada gaun-gaun romantis. (M-3)

Komentar