Cerpen

Perempuan Sunyi dan Saudaranya

Ahad, 10 September 2017 01:01 WIB Penulis: Yus R Ismail

MI/Rudi Pata

ORANG-ORANG menyebut saya Perempuan Sunyi. Mungkin karena keberadaan saya tidak ditandai dengan suara. Saya tidak berbicara, apalagi keras, apalagi berteriak. Sering ada yang bertamu ke rumah nenek, setelah lama berbincang dengan nenek atau kakek, baru menyadari kehadiran saya di kursi pojok sedang membaca buku.

"Oh, itu Anelis cucu Ibu itu, ya?" tanya tamu sambil tersenyum kepada saya. Nenek selalu mengangguk menjawab pertanyaan seperti itu. Sang tamu kemudian menghampiri saya. "Oh, cantik sekali. Rambutnya begitu indah, matanya begitu cerlang."

Nenek selalu tersenyum mendengarnya. Mungkin karena tahu, bila tidak ada nenek, komentar tamu atau orang lain yang melihat saya itu sedikit ada penyimpangan. Mereka akan mengatakan seperti ini: "Kasihan sekali, cantik-cantik kok bisu, tuli, dan lumpuh."

Apapun komentar mereka, saya akan tersenyum. Ya, karena saya tidak bisa bicara. Sudah lama saya berlatih, setiap ingin bicara atau berteriak saya mengalihkannya dengan tersenyum. Karena suara yang keluar dari mulut saya hanya melenguh. Dan saya tidak menyukai suara lenguhan.

**

Kata nenek, saya sudah bisu, tuli, dan lumpuh sejak lahir. Meski begitu, ketika saya lahir ada suara tangis bayi yang keras. Suara tangis bayi yang membuat pendengarnya bersyukur. Tapi suara tangis itu bukan keluar dari mulut saya. Suara tangis itu kepunyaan saudara kembar saya, namanya Inalis.

Nenek selalu bilang, di antara kami berdua yang lebih mirip ibu adalah saya. Ibu adalah perempuan yang cantik dengan rambut indah bergelombang, mata cerlang bercahaya, dan senyum seperti bunga yang selalu mekar. Ibu pun perempuan sunyi; bisu, tuli, dan lumpuh.

Meski mengalami keterbelakangan mental, tubuh Ibu nyaris normal. Kulit kuning langsat seperti bercahaya, halus mengundang orang untuk membelainya. Ibu bisa berjalan mengesot, bisa melakukan apa pun keperluannya sendiri. Mandi, ganti baju, mengambil makanan dari meja makan, ibu bisa melakukannya. Ibu pernah sekolah, tapi hanya beberapa tahun. Entah kenapa ibu tidak melanjutkan sekolah, nenek tidak pernah bercerita.

Suatu hari sepulang bermain di teras belakang rumah, ibu menangis. Melenguh-lenguh, lalu diam dengan air mata mengalir membasahi pipinya yang ranum. Tangis yang tidak biasa. Karena berhari-hari kemudian, berminggu-minggu kemudian, tangis itu tidak berhenti.

Nenek dan kakek tentu saja bingung. Tapi kemudian ibu melupakan tangisnya. Ibu sibuk lagi dengan keterampilan menyulamnya, keterampilan yang diajarkan nenek sejak kecil. Apa pun disulamnya. Taplak meja, sarung bantal, bajunya, hiasan dinding, dan apa pun. Sebagian hasil sulaman ibu dibagikan kepada saudara-saudara yang datang dan tetangga.

Tapi nenek dan kakek tidak berhenti bingungnya. Karena beberapa bulan kemudian ibu tidak juga datang bulan. Waktu dibawa ke dokter, ibu dinyatakan hamil. Waktu itu usia ibu dua puluh tahun. Sampai saya dan Inalis lahir, nenek dan kakek tidak tahu siapa sebenarnya ayah kami. Ibu selalu menangis setiap ditanya. Ibu pun meninggal waktu melahirkan saya dan Inalis.

**

Kata orang, saya dan Inalis seperti pinang dibelah dua. Hanya yang membedakannya, Inalis lebih besar dan tinggi. Karena sejak kecil Inalis biasa bergerak, menari, menyanyi, dan bermain berlari-larian. Sementara saya hanya menemaninya dari pinggir halaman, tersenyum, bertepuk tangan, dan ngesot untuk mengejarnya.

Inalis sangat menyayangi saya, seperti juga saya sangat menyayanginya. Inalis selalu membantu saya. Saya dipangkunya untuk dipindahkan dari lantai ke kursi atau tempat tidur. Saya digendongnya ketika ingin melihat pawai kendaraan hias saat perayaan hari kemerdekaan. Saya diberinya makanan dan mainan apa pun yang dipunyainya.

Hanya saja Inalis tidak pernah bisa menguasai bibirnya. Bila sudah marah, bicaranya akan panjang, mengomel mengatai apa pun yang tidak berhubungan dengan yang membuatnya marah.

Suatu hari saya tidak mau diajaknya bermain.

"Setiap hari saya pangku, saya gendong, saya beri apa pun yang saya punya; eh balasannya penolakan hanya dajak bermain. Saudara seperti apa kamu itu?" kata Inalis dengan wajah sinis. "Dasar, anak tidak tahu diri. Sudah lumpuh, bisu, dan tuli lagi!"

Inalis tidak tahu kepala saya pening sehingga saya tidak kuat bermain.

Tentu saja saya terkejut. Saya tidak menyangka Inalis mengatakan kalimat-kalimat pedas seperti itu. Saya menangis saking sedihnya. Tapi Inalis malah seperti yang berbahagia, merasa puas, melihat air mata saya mengalir menyusuri pipi.

"Makanya kamu bicara! Jangan hanya ah-uh auh-ah, seperti monyet! Tahu diri, kamu itu manusia tidak berguna!" katanya semakin membuat air mata saya banjir.

Sejak itu saya tidak ingin bisa bicara seperti Inalis bicara. Keinginan yang sejak saya ingat dan sadar bahwa saya tidak bisa bicara seperti itu, berhenti begitu saja. Seperti sinar matahari yang tertutup awan dan hujan. Saya lalu lebih memercayai tersenyum sebagai kata-kata. Itulah awalnya mengapa saya dikenal sebagai Perempuan Sunyi yang selalu tersenyum.

"Coba, kamu tahu apa arti senyum Perempuan Sunyi itu kali ini?" tanya seseorang kepada temannya saat melihat saya sedang menyulam di teras rumah. Saat itu senja turun dengan matahari jingga kekuningan.

"Mungkin dia bangga bisa membuat sulaman," jawab temannya.

"Bukan. Dia pasti berbahagia begitu menyadari bahwa dirinya tidak bisa bicara."

"Haha... masak karena bisu jadi bahagia?"

"Iya, karena dia tahu, banyak berkata-kata sering kali menutup orang untuk tersenyum."

Mendengar percakapan seperti itu senyum di bibir saya semakin merekah.

**

Setelah kami dewasa, kata-kata seperti kutukan bagi Inalis. Dia sangat baik kepada siapa pun. Tapi begitu sudah berselisih, mulutnya seperti senapan yang tidak akan berhenti sebelum ada peristiwa besar. Sekali waktu, saat Inalis SMP, teman akrabnya sendiri dikatakan pelit, bodoh, tidak tahu diri, kurang ajar, sengsara, buruk rupa, pecundang, dan entah apa lagi; hanya karena tidak memberinya pinjaman buku. Tentu saja temannya itu marah. Dia memutuskan hubungan pertemanannya.

Saya sendiri tidak sekolah. Nenek mengundang guru les ke rumah. Saya belajar membaca, berhitung, dan menggambar. Saya sangat senang membaca. Saya bisa belajar banyak hal dari bacaan. Ketika guru les saya harus meneruskan kuliah ke luar kota, saya tidak mau lagi belajar. Saya tidak mau guru baru. Lagi pula, setelah bisa membaca, saya bisa belajar sendiri.

Lulus kuliah, bekerja, Inalis menikah dan berpisah rumah dengan nenek dan kakek. Saya diajaknya juga tinggal di rumah Inalis. Suaminya baik mengizinkan saya ikut tinggal dengan mereka. Lima tahun mereka berkeluarga tapi belum dikasih momongan juga. Sekali waktu Inalis dan suaminya berselisih. Seperti yang sudah-sudah, mulut Inalis seperti senjata yang tidak berhenti menembak.

"Dasar lelaki mandul, miskin, pecundang, tidak tahu diri, pemalas, pengangguran, dan...." Saya tidak hafal apa lagi yang dikatakan Inalis. Suaminya kemudian pergi. Beberapa hari kemudian datang surat cerai dari pengadilan.

Sebulan kemudian Inalis berselisih dengan tetangganya. Setahun kemudian Inalis dijauhi semua tetangganya. Hidup Inalis seperti terasing. Hidup menyendiri di tengah keramaian. Bertemu dengan saya para tetangga itu menyapa dan tersenyum. Tapi begitu melihat Inalis, mereka seperti tidak saling mengenal.

Sekali waktu Inalis menangis. Ujung bibirnya robek berdarah. Awalnya hanya karena ada orang yang lewat tidak bilang permisi. Mulut Inalis lalu menjadi senjata lagi mengeluarkan perbendaharaan kata yang begitu tidak terbayangkan banyaknya. Setiap orang itu lewat, mulut Inalis menembaknya dengan jutaan kata-kata. Orang itu awalnya bingung. Tapi begitu tahu kata-kata sumpah serapah dan ejekan itu ditujukan kepadanya, orang itu memukul Inalis.

Inalis memeluk saya. "An, tahukah engkau, sejak dulu, sejak kita kecil, aku ingin sepertimu," katanya sambil menangis. "Aku ingin bisu sepertimu."

Saya tentu saja tersenyum sambil membelai rambutnya.

**

Sekali waktu keinginan Inalis untuk bisu itu terkabul. Dia tidak bisa berteriak, menembak orang dengan kata-katanya yang tajam, bahkan melenguh pun tidak bisa. Saya memeluknya. "Bicaralah, In, bicaralah seperti biasa," bisik saya. Tapi Inalis membisu.

Darah segar membasahi tangan saya saat tersentuh belati yang menancap di dada Inalis. **

Yus R Ismail, menulis cerpen, novel, dan puisi, dalam bahasa Indonesia dan Sunda yang sudah diterbitkan di sejumlah media massa. Buku terbarunya Humor Klasik si Kabayan (BIP, 2017), Mahacinta (e-book Gramedia, 2017), Ambilkan Bulan, Bu (audiobook, 2017).

Komentar