Gaya Urban

Menguji Fisik Menyerupai Gurita

Ahad, 10 September 2017 00:16 WIB Penulis: M Taufan SP Bustan

MI/Susanto

BERKUMPUL di kolam renang Cilandak Town Square, Jakarta, 14 orang itu masuk kolam dengan menggunakan perlengkapan komplet. Bukan hanya pakaian renang, kelompok yang terdiri dari pria dan perempuan itu juga mengenakan peralatan snorkle, pelindung mulut dan tangan, dan kaki katak (fin). Setelah sesi pemanasan di kolam, mereka kemudian mengambil perlengkapan lain berupa tongkat (stik) dan lempengan bundar yang digunakan sebagai bola.

Tidak lama keseruan olahraga hoki dalam air (underwater hockey)) pun dimulai. Bergantian mereka membentuk tim yang terdiri atas dua tim perempuan dan dua tim pria yang masing-masing kemudian bertanding.

Permainan mereka begitu lincah dan seru. Tidak mengherankan, mereka memang bukan baru mengenal olahraga ini. Malah kelompok yang tergabung di bawah nama Jakarta Underwater Hockey Club (JUHC) ini telah beberapa kali mengikuti kejuaraan, termasuk Asia Underwater Hockey Championship (AUHC). Latihan yang berlangsung Minggu (3/9) itu pun merupakan bagian dari latihan untuk keikutsertaan di AUHC di Beijing, Tiongkok, 22-24 September 2017.

Kejuaraan bergengsi itu menunjukkan underwater hockey merupakan olahraga yang sudah cukup dikenal di Asia meski belum populer di Indonesia.

Manajer JUHC Andreas Yufan menuturkan kemunculan underwater hockey di Jakarta dimulai pada 2010, ketika diperkenalkan Chris Sahad yang tergabung dalam tim olahraga tersebut di Singapura.

Namun, sejarah underwater hockey telah dimulai jauh sebelum itu, tepatnya pada 1950 di Inggris. Di musim dingin, beberapa scuba diver yang tidak dapat berolahraga luar ruangan mencoba berolahraga di dalam kolam renang. Akhirnya mereka mencoba untuk bermain hoki di dalam air.

Awalnya olahraga ini disebut dengan octopush karena gerakan para pemain yang menggunakan kaki juga tangan serupa dengan gurita. Penambahan huruf h pada akhir kata adalah wordplay untuk membentuk kata push, mengacu pada kegiatan mendorong hockey puck (bola hoki) di dalam air.

Di Indonesia, pengenalan underwater hockey oleh Chris Sahad berlanjut ke pembentukan JUHC.

"Awalnya hanya empat orang, sekarang anggota JUHC mencapai ratusan, tetapi yang aktif kurang lebih 30-an orang dan terdiri dari semua kalangan, mulai ibu rumah tangga hingga mahasiswa. Meski belum satu pun prestasi yang kami raih, kami sudah mengikuti banyak event di Asia dan semangat anggota cukup tinggi untuk terus bermain," paparnya.

Meski belum memiliki cabang di luar Jakarta, klub ini telah menggelar ekshibisi di Yogyakarta, Semarang, dan Bandung.

Olahraga sekaligus main

Salah satu anggota JUHC yang tampak lincah dan bersemangat adalah Carmelita. Staf di salah satu kedutaan asing di Jakarta ini mengaku mendapat banyak manfaat dengan menggeluti underwater hockey.

"Pokoknya sehatnya, senangnya kita dapat dalam olahraga ini dan masih banyak lagi manfaatnya. Terlebih yang bosan hanya berenang, selain olahraga kita bisa bermain-main di air," imbuhnya.

Kebosanan memang tampak sulit muncul di olahraga ini. Bagaimana tidak, sebab fisik dan pikiran sama-sama ditantang.

Tantangan fisik bahkan sudah dimulai sejak pemanasan yakni dengan berenang 40 lap dalam waktu 40 menit di kolam sepanjang 50 meter. Sementara itu, pemanasan untuk pernapasan dilakukan dengan berenang ke dasar kolam dengan hanya satu tarikan napas. Lalu ada pula berenang dari ujung hingga ke ujung kolam hanya dengan satu kali ambil napas.

"Seluruh pemain memang diharuskan untuk menahan napas saat berada di dalam air, tapi tidak mesti lama. Idealnya sih, menahan napas sekitar 1 menit lalu ambil napas lagi ke atas, terus ke bawah lagi. Inilah tantangan dari olahraga ini. Namun, tetap menyenangkan dan pastinya menyehatkan," papar Andreas.

Saat permainan berlangsung, beragam teknik pun dilancarkan untuk bisa menyarangkan puck ke gawang lawan. Beberapa teknik yang dilakukan adalah curling, yaitu teknik untuk menghindari lawan dengan berputar ke kiri atau ke kanan, kemudian teknik flick melayangkan puck, hingga teknik untuk melindungi puck dari lawan.

"Ketiga back dan forward dari setiap tim harus bekerja sama karena di dalam olahraga ini tidak ada penjaga gawang. Jadi memang harus benar-benar kompak karena di dalam permainan ini juga tidak bisa berkomunikasi dan bagaimana caranya harus kompak menyerang sehingga menciptakan goal. Itulah yang membedakan dengan olahraga lainnya," Andreas.

Bagi mereka yang menginginkan olahraga air yang menantang dan seru, underwater hockey jelas bisa jadi pilihan. Mereka yang tertarik bisa mengunjungi JUHC yang bermarkas di kolam renang GOR Bulungan. Di tempat ini mereka rutin latihan dua kali dalam seminggu, dimulai Senin dan Kamis pada pukul 20.00 hingga pukul 22.00 WIB. (M-3)

Grafis : Alat yang digunakan

- Snorkle (untuk bernapas)

- Masker (membantu penglihatan)

- Polo cap (pengaman kepala)

- Fin (kaki katak untuk berenang)

- Glove (pelindung tangan)

- Stik (pemukul bola)

- Puck (bola)

- Mouthguard (pelindung mulut)

Grafis: Komunitas

- Jakarta Underwater Hockey Club

- Tempat (kolam renang GOR Bulungan)

- Jadwal (Senin-Kamis pukul 20.00-22.00 WIB)

- Biaya (Rp100 ribu per bulan untuk delapan kali latihan)

Grafis: Jenis gerakan

- Curling (menghindari lawan)

- Passing (mengoper puck)

- Flick (melayangkan puck)

- V (melindungi puck)

- Formasi (untuk menyerang dan bertahan)

Komentar