MI Muda

Ketika Kebun Terhubung dengan Internet

Sabtu, 9 September 2017 23:46 WIB Penulis: Hilda Julaika/M-1

Dok. Pribadi

Stephanie Jesselyn, CEO Eragano, start-up atau perusahaan rintisan yang bergerak di bidang pertanian, berupaya mempertemukan petani dengan teknologi. Tujuannya agar petani berdaya dan sejahtera.

Simak wawancaranya dengan Muda!

Ceritakan dong tentang Eragano?

Eragano, dari katanya terdiri atas era sama oregano, daun oregano yang fresh. Jadi digabungkan dengan kata era, berarti zaman baru yang membawa keunikan dan kesegaran ke dunia pertanian.

Kami bergerak di bidang pertanian dengan membantu petani rumah tangga yang lahannya kurang lebih 0-2 hektare dari hulu ke hilir. Kami membantu petani, mulai pemberian pinjaman, pembimbingan budidaya, sampai penjualan panen.

Latar belakangnya, ketika melihat dunia pertanian itu, terutama petani kecil, sangat menyedihkan. Apalagi background ayah distributor makanan sehingga saya menyadari makanan yang kita konsumsi itu berasal dari petani yang berjuang keras, tapi kurang dihargai. Eragano didirikan pada Oktober 2015.

Bagaimana bentuk kontribusi kalian pada petani?

Setelah kami melakukan riset di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, ternyata yang mereka butuhkan bantuan di pasar, berupa penjualan hasil panen. Selama ini mereka tidak tahu berapa harga yang pantas untuk menjual komoditas. Selain itu, terjadi masalah harga, harga jual petani sangat rendah.

Petani juga butuh pendampingan budi daya serta pinjaman. Petani sekarang banyak yang terikat dengan tengkulak yang memberikan bunga sangat tinggi atau harga jual sangat rendah.

Mekanisme kerja Eragano?

Konsepnya pakai digital supaya lebih efisien dan jangkauannya lebih luas. Kalau tidak menggunakan digital, jangkauannya tidak luas dan tidak cepat. Jadi, kami menggunakan teknologi.

Kalau secara konsep, kami membangun beberapa sisi, misalnya, kami menghubungkan petani dengan pemberi pinjaman, dengan ahli-ahli pertanian, dan pembeli hasil panen.

Pemberi pinjaman memang agak ragu memberikan pinjaman karena melihat dunia pertanian itu tidak memiliki data. Dari situ, kami membuat tools dan cara-cara untuk mendapatkan dan memantau pertanian. Jadi, dari pemberi pinjaman nyaman dan yakin berinvestasi di Eragano.

Sementara, solusi buat budi daya, para petani bisa secara real time bertanya langsung kepada para ahli.

Yang ketiga, kami membantu transportasi dan bargaining, supaya hasil panen petani tersebut sesuai dengan keinginan pembeli.

Alur prosesnya dimulai dengan mencarikan pembeli hasil panen untuk petani yang siap dengan kesepakatan kuota. Lalu, mencarikan pemberi pinjaman setelah dua hal itu siap.

Kami menghubungi petani tersebut dan memaparkan programnya. Setelah itu, akan diberi pinjaman dalam bentuk sarana produksi petani dan ponsel. Hingga panen berlangsung, kami juga mendampingi online dan offline.

Kami akan memberikan penyuluhan sampai penjualan panen. Pada penjualan panen, kami akan bantu logistiknya. Jadi petani lebih fokus ke kualitas pertaniannya.

Di awal-awal, kami ada pelatihan dulu secara langsung dalam satu grup. Lalu, kami melakukan pendampingan secara offline, bila ada keperluan, kami pun langsung datang.

Tantangan yang kalian hadapi?

Ada beberapa petani yang tidak benar-benar mengerti teknologi, mereka biasa menggunakan ponsel zadul. Jadi, kami harus mengarahkan perspektif akan manfaat digital dan teknologi agar dapat menjalankan pertanian tepat guna. Jadi, tantangannya bukan penolakan, lebih ke arah komunikasi pemanfaatan teknologi itu sendiri.

Kami tentunya melakukan sosialisasi terhadap para petani mengena cara penggunaan digital juga membangun teknologi user friendly. Jadi kalau dibedakan dengan yang di Amerika, bentuknya memang berbeda, karena mereka lebih melek teknologi. Jadi, kami menciptakan aplikasi yang disesuaikan dengan petani di sini.

Selama dua tahun berjalan, bagaimana hasilnya?

Selama ini, para petani menyatakan, merasa terbantu, bahkan mereka bisa memperluas lahan ketika di daerah itu petani lain banyak yang gagal panen. Petani kami justru bisa mengurangi gagal panen sampai 5% sedangkan yang lain, gagal hingga 70%.

Lokasi operasi kalian?

Fokus kami di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kupang, dan Lombok. Alasannya, jangkauan dan jumlah petani, paling banyak di daerah-daerah tersebut.

Jadi, sekitar 60% petani di Pulau Jawa, ada juga yang di Kupang dan Lombok. Kuncinya, para petani harus mau belajar. Kami sudah menangani 6.000 petani di daerah yang telah disebutkan.

Start-up ini menjadi Finalis di The NextDev Telkomsel, bagaimana ceritanya?

Jadi prosesnya, kami mengutarakan idenya melalui beberapa kegiatan, seperti sisi mentoring, lalu dari situ, terpilih menjadi finalis. Kami pun melakukan MoU dengan Telkomsel untuk program di Garut, membantu petani dengan memberikan dukungan ke arah pemberian pinjaman dan paket data untuk petani.

Agenda ke depan?

Harapannya, melalui start-up benar-benar bisa membantu dan meningkatkan kesejahteraan petani. Untuk Eragano sendiri, kami bisa memperluas dan meningkatkan jangkauan petani juga pembeli hasil panen. Kami juga kebetulan mendapatkan kesempatan mewakili Indonesia di Tiongkok dalam ajang She Love Tech Award.

Ini ajang penghargaan untuk perempuan yang memimpin dalam teknologi. Kami akan mewakili Indonesia untuk bersaing dengan start-up lain di dunia yang dipimpin perempuan.

BIODATA

Nama Lengkap:

Stephanie Jesselyn

Pendidikan:

Lulusan Teknik Industri,

Institut Teknologi Bandung

(ITB) 2006

Jabatan:

CEO Eragano

Komentar