Film

Belajar Cinta Kasih dari Jembatan Pensil

Sabtu, 9 September 2017 23:31 WIB Penulis: Retno Hemawati

DOK JEMBATANPENSIL.COM

DI tengah hiruk pikuk film nasional yang ramai dengan komedi dan horor, terdapat satu film yang keluarga yang menyejukkan hati. Film berjudul Jembatan Pensil yang tayang Kamis (7/9) ini mengisahkan perjuangan anak-anak sekolah dasar di Towea, Muna, Sulawesi Tenggara.

Jembatan Pensil yang diproduksi Grahandikavisual itu sarat dengan permasalahan, tetapi juga padat solusi. Diceritakan, persahabatan antara Ondeng (Didi Mulya), Aska (Azka Marzuqi), Yanti (Permata Jingga), Nia (Nayla D Purnama), Inal (Angger Bayu), dan Attar (Vickram Priyono) yang mana di antara mereka ada yang berkebutuhan khusus. Ondeng memiliki keterbelakangan mental (down syndrome), sedangkan Inal tunanetra. Kekurangan yang mereka berdua miliki tidak menjadi penghalang dalam persahabatan. Justru sebaliknya, mereka saling menolong dan menjaga satu sama lain.

Selebihnya, anak-anak lengkap dengan segala kekurangan mereka tetap berhubungan normal dengan manusia lain. Mereka juga bisa beraktivitas dan dibuktikan dengan bisa terus mengenyam pendidikan. Mereka tidak hanya belajar formal di dalam kelas, tetapi juga belajar langsung ke alam.

Pendidikan. Itu isu yang juga diangkat dalam film ini lengkap dengan penggambaran sekolah gratis beralaskan pasir, murid seadanya, dan bangunan yang jauh dari layak. Murid-murid di SD Towea itu sangat bergembira saat kedatangan guru baru, Aida (Alisia Rininta). Aida merupakan anak pasangan Pak Guru (Andi Bersama) dan Ibu Farida (Meriam Bellina).

Film ini bisa dikata memiliki tingkat eksperimental yang tinggi meskipun boleh dikatakan dengan jujur berhasil. Tokoh-tokoh sentral sangat kuat berperan. Pemeran Ondeng, misalnya. Hasto Broto sebagai sutradara memberikan porsi besar yang tepat kepada Didi Mulya sehingga dia bisa berakting dengan maksimal. Hasilnya, akting Didi mampu mencuri perhatian bahkan Gading (Kevin Julio), Ibu Meriam Bellina, dan Alisia Rininta tidak lagi menjadi fokus perhatian penonton. Totalitas Didi Mulya pantas diacungi jempol.

Kevin Julio yang notabene berperan sebagai Tristan di sinetron Ganteng-Ganteng Serigala bahkan agak terpinggirkan oleh keberhasilan Didi membawakan perannya.

Peran Gading yang dibawakan Kevin juga sebenarnya tidak kalah penting karena dia dikisahkan sebagai pahlawan yang membantu mewujudkan cita-cita Ondeng membangun jembatan untuk teman-temannya.

Jembatan yang dimaksud, secara harfiah, ialah jembatan penyeberangan bagi anak-anak untuk menuju ke sekolah. Jembatan yang sudah lapuk itu kerap hampir mencederai teman-teman Ondeng karena sering patah di salah satu bagian saat dipijak. Hingga tiba suatu masanya, jembatan itu benar-benar hancur dan membuat teman-teman Ondeng tercebur ke sungai dan hampir hanyut. Kejadian itu membuat anak-anak sekolah kehilangan tas lengkap beserta isinya dan mesti berbasah-basah ria menuju sekolah. Mereka pun tetap mengikuti upacara dengan saksama.

Penduduk lokal

Film ini juga mampu menggambarkan secara persis karakter penduduk Sulawesi Tenggara khususnya dari sisi mata pencaharian, yakni penenun, peternak, dan nelayan. Jembatan Pensil juga ingin memperlihatkan bagaimana kekayaan alam laut mampu memberi kehidupan dan menjadi tempat kematian bagi Pamone (Deden Bagaskara), ayah Ondeng.

Cerita Pamone yang mencintai Ondeng dengan seluruh jiwa dan raga juga sangat menyentuh hati. Bagaimana seorang ayah tunggal mampu memperhatikan dan mengasihi anaknya yang kekurangan meskipun secara ekonomi kehidupannya sangat sederhana.

Sangat mengharukan ketika penonton diperlihatkan bagaimana dia memeluk dan selalu teringat pada anak tunggalnya, Ondeng, ketika saat makan tiba.

Di sisi lain, film ini sarat dengan gambaran kekurangan. Film ini memotret kurangnya sarana dan prasarana pendidikan di tempat yang jauh dari kota besar.

Kehadiran Aida, seorang sarjana lulusan dari Jakarta, bagaikan oasis bagi anak-anak yang selama ini digambarkan berpendidikan terbatas dan bagi masyarakat setempat.

Konflik yang berulang diperlihatkan dalam film ini justru berasal dari Farida, ibu Aida yang ingin anaknya berjodoh dengan Arman (Agung Saga), yang merupakan juragan sapi, jika dibandingkan dengan Gading yang seorang nelayan. Kisah romatisme Aida dengan keduanya memang tidak tergambar tuntas di film ini.

Secara visual, keindahan pemandangan laut, pantai, bukit, dan daratan di Muna yang ditampilkan sungguh menambah kekayaan wawasan penonton. Inilah yang seharusnya dilakukan sineas, mengangkat kekayaan alam daerah sehingga menggugah selera untuk mengunnjunginya. Film juga merupakan salah satu upaya promosi yang sangat efektif. (M-4)

Komentar