Humaniora

Katering dan Hotel di Madinah Siap Sambut Jemaah Gelombang II

Sabtu, 9 September 2017 10:55 WIB Penulis: Siswantini Suryandari/Laporan dari Arab Saudi

MI/Siswantini Suryandari

MENJELANG kedatangan jemaah haji Indonesia gelombang II dari Mekkah ke Madinah, katering dan pemondokan di Madinah sudah siap menyambut kedatangan para tamu Allah tersebut.

Hal itu terlihat saat Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin bersama delegasi amirul hajj mengecek Al Andalus, salah satu perusahaan katering yang dikontrak oleh Panitia Penyelenggara Ibadah Haji Arab Saudi, Jumat (8/9).

Salah satu katering terbesar di Madinah dengan tenaga masak sebagian besar orang Indonesia ini mendapat jatah 26 ribu porsi.

Saat peninjauan, Menag mengajak dialog dengan sejumlah tukang masak yang menyambutnya.

"Apa ada kesulitan selama melayani katering untuk jemaah haji Indonesia?" tanya Menag.

Maman, tukang masak asal Purwakarta menjawab tidak ada masalah.

"Tapi kami sering terkendala dengan pendistribusian katering pada jemaah yang mengalami pecah hotel. Ada yang kami datangi cuma mengantarkan 10 porsi untuk jemaah. Tidak bisa satu hotel isinya jemaah Indonesia semua. Ini yang menjadi kendala, karena buang energi," kata Maman.

Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifudin mengangguk dan membenarkan bahwa persoalan pecah hotel yang menyebabkan jemaah dalam satu kloter akan terpisah-pisah dalam beberapa hotel, akan menyulitkan banyak pihak.

"Karena kami masih sewa sistem blocking time atau setengah musim. Saya sedang berikhtiar insya allah tahun depan sewa hotel di Madinah seperti di Mekkah. Satu musim, satu hotel diisi jemaah asal Indonesia seluruhnya," janji Menag.

Kemudian Maman dan rekannya Sanusi juga menceritakan membuat menu makanan Indonesia tidak mudah.

"Kalau pas tidak musim, sayuran atau bahan makanan susah dicari. Saat ini kami dapat orderan salah satunya nugget ikan. Sampai sekarang kami belum berhasil menemukan nugget ikan itu," kata Maman.

Rekannya Sanusi asal Cirebon menambahkan bahan rempah seperti pala susah didapat di Arab Saudi. Pala juga dilarang masuk ke Arab Saudi.

"Ya cara mengakalinya dengan membuat bumbu rempah yang ada di sini dan rasanya bisa mendekati pala," terang Sanusi.

Kemudian menu lain yang tersulit adalah dadar telor.

"Banyak menu telor, tapi kalau dadar telor ini tingkat kesulitannya tinggi. Sebab dadar telor yang kami bikin untuk ribuan jemaah. Adonan yang kami buat harus banyak, dan cukup waktu untuk menggorengnya," ungkap Sanusi. (OL-6)

Komentar