Polkam dan HAM

Empat Saksi Sudutkan Novel Baswedan

Sabtu, 9 September 2017 10:44 WIB Penulis: Sri Utami

Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan (kiri) bersama istri Rina Emilda (kanan) dan anak bungsunya saat ditemui di Singapura, Selasa (15/8)---ANTARA/Monalisa

PENYIDIK Direktrorat Kriminal Khusus (Ditkrimsus) Polda Metro Jaya hingga kemarin (Jumat, 8/9) telah memeriksa enam saksi terkait dugaan pencemaran nama baik Direktur Penyidikan (Dirdik) KPK Brigjen Aris Budiman. Kasus itu menempatkan penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan sebagai terlapor.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan empat saksi terbaru yang diperiksa kemarin (Jumat, 8/9) mengetahui ada perlakukan yang tidak menyenangkan terhadap Aris. Hal itu termasuk pengiriman e-mail atau surat elektronik dari Novel yang menyebut Aris sebagai dirdik terburuk sepanjang KPK berdiri.

"Semua saksi yang diperiksa ini termasuk mantan penyidiknya memberikan keterangan yang mengetahui, melihat, mendengar, dan ikut menerima," ujar Argo, di Kantor Polda Metro Jaya, Jakarta, kemarin.

Argo membeberkan keseluruhan enam saksi yang telah diperiksa meliputi Aris Budiman sebagai pelapor dan satu orang mantan penyidik KPK. Sisanya, empat orang penyidik yang merupakan pegawai KPK.

Rencananya, setelah pemeriksaan saksi, penyidik akan memanggil ahli untuk menjadi saksi dalam kasus itu. Namun, tidak menutup kemungkinan jumlah saksi bertambah dari kalangan penyidik KPK.

Selanjutnya, ujar Argo, terlapor Novel Baswedan akan diperiksa terkait kasus yang membelitnya tersebut. "Tentu saja yang bersangkutan akan diperiksa untuk membantu kita lakukan gelar perkara. Namun, tunggu waktunya karena dia masih dalam kondisi sakit," ucapnya.

Sementara itu, pelaporan yang dilakukan oleh Wakil Direktur Tindak Pidana Korupsi Bareskrim Polri Kombes Erwanto Kurniadi hingga kini masih diselidiki.

Menurut Argo, sejak dilaporkan beberapa hari lalu terkait dugaan pencemaran nama baik oleh tiga media massa, penyidik langsung mencari unsur pidana dalam kasus itu. "Tentunya harus diklarifikasi, jadi bukan asumsi, apakah benar ada pidana yang dilakukan atau tidak," paparnya.

Sebelumnya, Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarif berharap laporan atas Novel dapat diselesaikan dengan komunikasi antara pimpinan KPK dan Polri. Polri pun menyambut baik.

Meski begitu, Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Setyo Wasisto menyebut Polri tidak menjamin mediasi antara Polri dan KPK akan menghentikan pelaporan yang dibuat Aris terhadap Novel.

Di kesempatan terpisah, Ketua Setara Institute Hendardi mendesak Presiden Joko Widodo turun tangan untuk menyelamatkan KPK dari upaya-upaya pelemahan. Ia menilai suara yang melemahkan KPK tidak hanya datang dari DPR melalui Pansus Hak Angket KPK, tetapi juga dari organisasi penegak hukum lainnya.

Jalan di tempat
Seiring dengan berjalannya penyelidikan dugaan pencemaran nama baik oleh Novel, kasus penyiraman air keras yang menjadikan Novel sebagai korban masih jalan di tempat.

Polri mengaku menemui kesulitan mengungkap kasus yang diduga menyeret nama petinggi Polri itu. "Belum ada bukti baru, kami masih berjalan tetap ada evaluasi," kata Argo.

Argo berdalih Polri belum selesai membuat sketsa wajah pelaku. Hal itu diperburuk dengan sulitnya menemukan saksi kasus penyiraman air keras ke wajah Novel. "Jadi, jika kami sudah sketsa, baru bisa crosscheck lagi ke saksinya. Saksinya belum bisa ditemui," tandas Argo.

Penyiraman air keras terhadap Novel yang terjadi pada 11 April 2017 telah merusak organ penglihatan Novel. Kepala penyidik kasus dugaan korupsi KTP-E itu kemudian menjalani perawatan di Singapura.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah meninformasikan terdapat perkembangan perbaikan 40%-45% di mata kiri Novel. Pihaknya berharap proses penyembuhan itu terus mengalami kemajuan.(Ant/P-1)

Komentar