Polkam dan HAM

Panitera PN Jaksel tidak Tahu Borok Rekannya

Sabtu, 9 September 2017 10:38 WIB Penulis: MI

Panitera pengganti PN Jakarta Selatan Tarmizi (kanan) mengenakan rompi tahanan KPK seusai diperiksa perdana di gedung KPK, Jakarta, Rabu (23/8)---ANTARA/Reno Esnir

PANITERA Pengadilan Negeri Jakarta Selatan I Gede Ngurah Arya Winaya diperiksa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk tersangka Tarmizi. Tarmizi merupakan panitera pengganti yang terjerat operasi tangkap tangan (OTT) di PN Jakarta Selatan, Senin (21/8) lalu.

Gede diperiksa selama tiga jam dan keluar pukul 14.00 WIB. Menurut dia, ada lebih dari 10 pertanyaan yang diajukan penyidik KPK seputar tugas Tarmizi dan struktur kepaniteraan di pengadilan tempat ia bekerja.

"Yah, ada lebih dari 10 pertanyaan, semua terkait tugas dan struktur organisasi," kata Gede seusai pemeriksaan, kemarin (Jumat, 8/9).

Gede menyatakan dirinya baru menjadi panitera PN Jaksel pada Juni silam. Ia pun belum begitu akrab dengan Tarmizi dan belum mengetahui betul semua tugas Tarmizi. "Jarang komunikasi juga dengan dia. Saya baru soalnya, jadi belum banyak tahu. Saya hanya tahu dia tugasnya panitera mendampingi hakim, itu saja, yang lain enggak tahu," lanjutnya.

Namun, ia mengakui ada perubahan komposisi majelis hakim gugatan perdata yang diajukan PT Eastern Jason Fabrication Service Pte Ltd terhadap PT Aquamarine Divindo Inspection. Dalam perkara Eastern vs Aquamarine itu terjadi praktik suap yang menjerat Tarmizi.

Menurut Gede, komposisi majelis hakim Eastern vs Aquamarine berubah karena ada hakim yang dimutasi. Perubahan itu sudah sepengetahuan ketua majelis dan ketua PN Jaksel. Namun, Gede enggan membeberkan anggota hakim yang dimutasi. "Iya, ada perubahan, tetapi karena hakimnya pindah. Saya kurang tahu ke mana."

Selain Gede, lembaga antirasywah juga menjadwalkan pemeriksaan terhadap tiga hakim PN Jakarta Selatan. Mereka ialah Agus Widodo, Djarwanto, dan Djoko Indiarto.

Ketiga hakim ini mengadili perkara Eastern vs Aquamarine. Djoko Indiarto selaku ketua majelis hakim yang menangani perkara itu membantah tahu soal suap.

"Saya pasti berkomunikasi dengan Pak Tarmizi karena dia PP (panitera pengganti) saya, tapi tidak ada obrolan mengenai uang. Uang di luar sepengetahuan saya. Dan saya juga tidak pernah diajak bertemu dengan keluarga terdakwa," kata Djoko seusai menjalani pemeriksaan.

Selain hakim dan panitera, penyidik KPK juga menjadwalkan pemeriksaan terhadap Dirut Aquamarine R Yunus Nafik. Yunus juga sudah ditetapkan sebagai tersangka pemberi suap.

Selain Tarmizi dan Yunus, KPK menetapkan kuasa hukum PT Aquamarine Akhmad Zaini sebagai tersangka. Tarmizi selaku tersangka penerima suap Rp425 juta dari Akhmad.(Put/Ant/P-5)

Komentar