Eksplorasi

Badai Matahari Mengancam Bumi

Sabtu, 9 September 2017 04:16 WIB Penulis: NASA/BBC/Grt/L-2

NASA

BUMI tidak hanya menghadapi ancaman badai Irma, tetapi juga 'badai' lain yang berasal dari matahari.

Badai matahari alias aliran partikel bermuatan dari bintang tata surya kita baru saja terbentuk pada Rabu (6/9), kemarin.

Keterangan di situs National Aeronautics and Space Administration (NASA) atau lembaga penelitian dan program angkasa lur milik Amerika Serikat menyebutkan ada dua badai yang terbentuk kemarin, yang tergolong dalam kelas X2.2 dan X9.3.

Badai dengan kelas X9.3 disebut sebagai yang terkuat dalam 12 tahun terakhir, terhitung sejak badai kelas X1.7 yang terjadi pada 2005.

Kedua badai matahari itu terbentuk di zona aktif matahari bernama AR 2673.

Pada 4 September 2017 lalu, area itu juga menghasilkan badai dengan kekuatan sedang.

Badai matahari kerap ditemani dengan gelembung plasma dengan ukuran mencapai 2 kali bumi.

Bila menghantam bumi, badai matahari bisa memicu gangguan komunikasi, GPS, dan listrik. Meski demikian, badai matahari juga punya dampak indah.

Partikel yang berinteraksi dengan lapisan magnetik bumi di kutub akan menghasilkan aurora.

Badai matahari terkuat sejauh ini terjadi pada 2003, termasuk kelas X2.8.

Meski terdengar menakutkan, badai matahari tak akan memicu dampak lebih buruk seperti kiamat.

Bumi memiliki pelindung magnetik sehingga hantaman badai tak berakibat fatal.

Lain halnya bila manusia berada di bulan, manusia akan menerima radiasi matahari dalam jumlah besar yang akan sangat merugikan.

Berdampak pada navigasi paus

Sebanyak 29 paus sperma terdampar di laut utara pada awal 2016 lalu.

Sejumlah ilmuwan menyebut badai matahari berskala besar yang membuat aurora borealis bergerak makin lincah, telah berperan penting dalam fenomena itu.

Sebuah studi terbaru mengatakan, terganggunya medan geomagnetik telah membuat kemampuan navigasi paus menjadi terganggu.

Hal itu menyebabkan mereka mengarah ke perairan yang lebih dangkal.

Dikutip dari BBC, Selasa (5/9), peneliti berpendapat paus sperma bernavigasi menggunakan medan geomagnetik bumi dalam melakukan perjalanan.

Medan geomagentik tersebut memiliki gelombang yang berbeda-beda di seluruh bumi, ada yang lemah dan kuat.

Ilmuwan meyakini paus belajar untuk membaca hal tersebut dan menggunakannya sebagai alat navigasi, layaknya manusia menggunakan peta.

Dr Kalus Vanselow dari University of Kiel, Jerman, dan rekan peneliti mengatakan badai matahari berskala besar mengganggu medan magnet dan menyebabkan paus tersasar.

Ketika partikel dan radiasinya sampai ke atmosfer bumi, aurora borealis pun terbentuk di utara bumi.

Namun, badai Matahari berskala besar dapat merusak sistem dan satelit komunikasi.

Komentar