Jendela Buku

Ketika Andrea Hirata Mengisahkan Politik dan Konspirasi

Sabtu, 9 September 2017 03:01 WIB Penulis: Hera Khaerani

DUA tahun berlalu sejak peluncuran novel terakhirnya, Ayah (2015), Andrea Hirata akhirnya kembali dengan karya terbarunya berjudul Sirkus Pohon.

Buku yang diluncurkan pada pertengahan Agustus 2017 tersebut merupakan karyanya yang kesepuluh.

Menariknya, ini menjadi kali pertama bagi penulis asal Belitung tersebut untuk mengangkat isu politik praktis dalam karya fiksi.

Tidak berlebihan jika mengatakan bahwa politik merupakan tema utama dalam novel ini.

Sebagaimana karyanya terdahulu, Andrea Hirata masih kuat mengangkat soal isu kemanusiaan, ketimpangan sosial, lokalitas, dan cerita cinta.

Dikisahkan, ada seorang pemuda bernama Sobrinudin bin Sobrinudin yang bertubi-tubi ditimpa kemalangan. Dia anak keempat dari lima bersaudara.

Semua kakaknya terbilang sukses, bisa hidup dengan mapan.

Sementara itu, adiknya, Azizah, yang akhirnya bersuamikan seorang lelaki yang lumayan pemalas, setidaknya selalu gemilang di sekolahnya.

Sobri sendiri bersekolah hanya sampai kelas 2 SMP.

Itu gara-gara pengaruh buruk Taripol, seorang temannya yang kemudian diketahui sebagai ketua geng pencuri dan komplotan penipu, yang membuatnya harus berurusan dengan polisi.

Di usianya yang ke-28 tahun, Sobri belum kawin dan masih tinggal menumpang di rumah panggung tua milik ayahnya.

Pekerjaannya kuli serabutan, bukan karena tidak mau mencari pekerjaan tetap, melainkan karena di mana-mana biasanya pekerjaan tetap mensyaratkan kepemilikan ijazah SMA/sederajat.

Ya, hanya berbekal ijazah SD membuatnya kesulitan mendapat pekerjaan yang layak.

Padahal, dia memiliki kerajinan sebagaimana ayahnya.

Meski miskin, ayahnya seorang lelaki pekerja keras, taat hukum, dan tidak punya utang.

Berbagai pekerjaan pernah dilakoninya, mulai mendulang timah, menjadi kuli panggul pelabuhan, pengisi bak truk pasir, penebang pohon kelapa, penggali sumur, kerja serabutan di pasar, hingga jadi penjual minuman ringan di Stadion Belantik.

Kejujurannya amat teruji.

Dulu ketika ayahnya bekerja menurunkan kopra dari perahu, juragannya pernah keliru membayar upah, yakni lebih Rp7.000 dari seharusnya.

Saking jujurnya, dia menitipkan kelebihan upah itu kepada seorang nelayan untuk dikembalikan kepada juragan kopra.

Namun setelah lama tidak ada kabar, diketahui bahwa sang juragan ternyata sudah meninggal sehingga nelayan tersebut mengembalikan uang itu kepada ayahnya.

Tetap merasa tak berhak menerima uang itu, ayahnya terus mencari sanak saudara mantan juragan kopra tersebut.

Setelah lebih dari sepuluh tahun kemudian, baru ditemukannya cucu juragan itu, lantas dikembalikanlah uang lama Rp7.000 yang sudah tidak laku lagi itu.

Kemiskinan juga tak menjadikannya bermental peminta-minta.

Karena rumahnya reyot, petugas dari kantor desa pernah datang hendak menempelkan stiker bertuliskan 'Rumah Tangga Miskin-Binaan Desa' di dinding papan muka beranda rumahnya.

Berbekal stiker tersebut, ayahnya akan diprioritaskan bila ada bantuan dari desa.

Namun, dengan santun ayahnya itu malah menolak stiker tersebut dengan alasan bahwa banyak keluarga lain yang lebih membutuhkan stiker tersebut.

Dia berdalih, meski miskin, mereka masih memiliki penghasilan.

Padahal, dia juga menolak bantuan dari anak-anaknya yang sudah mapan bekerja.

Menanti nasib baik

Dihadapkan pada nasib Sobri yang berbeda dari keempat anaknya yang lain, sang ayah tak pernah mengeluh.

Baginya semua mungkin hanya soal waktu, akan tiba saatnya bagi putranya itu untuk menemukan jalan hidup yang lebih baik.

Tanpa disangka, perubahan jalan hidup Sobri itu justru datang dalam bentuk pekerjaan tetap sebagai badut di sirkus keliling.

Sirkus tersebut dikelola seorang ibu dan puterinya sebagai peninggalan mantan suaminya yang pergi meninggalkan mereka dengan banyak utang.

Berbeda dengan lowongan pekerjaan lain yang pernah membuat harapannya kandas karena mempertanyakan ijazah dan ia kadung dicurigai karena pernah berurusan dengan polisi, ibu bos di sirkus itu malah menerimanya tanpa keraguan.

Mendengar pengalaman kerja serabutannya mulai juru parkir, tukang pikul speaker di usaha sound system, sampai tukang kuras septic tank, perempuan itu malah merespons, "Dua kata dari saya, Bung. Luar biasa! Tampaknya Bung adalah orang yang selalu siap bekerja, bangun pagi, let's go! Begitu kutaksir." (halaman 49).

Tidak percaya karena langsung diterima kerja, Sobri juga khawatir bos sirkus itu akan berubah pikiran ketika mendengar hal-hal buruk tentangnya.

Namun, lagi-lagi jawaban perempuan itu mengejutkan, "Orang-orang yang berkata tentang diri mereka sendiri, melebih-lebihkan, orang-orang yang berkata tentang orang lain, mengurang-ngurangi." (hlm 51).

Demikianlah Sobri akhirnya mendapatkan pekerjaan tetap sebagai badut di sirkus keliling.

Di sana, dia menemukan kebaikan-kebaikan yang bisa dilakukannya.

Dari penghasilannya, dia bisa memiliki rumah sendiri, lantas berani melamar Dinda, seorang perempuan penyuka delima yang dicintainya.

Ketika hidup tampaknya mulai berjalan sesuai keinginannya, saat itulah semua berbalik. Dinda diserang penyakit yang aneh, terganggu jiwanya, sehingga pernikahan harus ditunda.

Seorang dukun sakti mengatakan bahwa kelainan kekasihnya itu ada kaitannya dengan delima.

Maka kebenciannya kepada pohon delima di halaman rumahnya pun menjadi tiada terkira.

Namun dalam masa pemilihan kepala desa, pohon yang dianggap terkutuk itu berubah, justru dianggap sebagai pohon keramat.

Orang-orang memeluknya, berharap keinginannya terkabul.

Mereka yang gila kuasa melakukan berbagai daya dan upaya untuk menguasai pohon delima itu untuk dirinya sendiri.

Membaca cerita tentang Sobri dengan segala kepolosannya membuat membaca Sirkus Pohon bisa dilakukan dengan senyum yang terus terkembang.

Namun, bukan hanya Sobri karakter dalam novel tersebut yang menarik, masih ada kisah cinta antara dua anak dari keluarga yang mengalami perceraian yakni Tegar dan Tara.

Lalu bahkan kisah tentang Taripol sang pencuri dan penipu ulang juga tidak kalah menariknya.

Andrea Hirata yang berhasil memenangi penghargaan untuk General Fiction di New York Book Festival (2013) untuk Laskar Pelangi kembali membuktikan kelihaiannya menyelami karakter setiap tokoh-tokoh rekaannya, menghidupkan mereka lewat kata-kata.

Sirkus Pohon yang menyindir praktik kotor dalam dunia politik dan pemilihan kepala daerah ini mengajarkan soal cinta, kerja keras, ketekunan, dan kekuatan dari kepercayaan yang diberikan kepada orang lain.

Di sisi lain, buku ini juga mengajarkan betapa tidak layaknya kita terlalu cepat menilai orang lain, menutup kesempatan baginya untuk berbuat baik bagi dirinya maupun lingkungannya.

Pada akhirnya orang-orang yang kita percaya sering kali tidak seperti yang kita duga.

Hal yang patut disayangkan dari novel Sirkus Pohon ini adalah sampul bukunya tidak dilengkapi dengan sinopsis, membuat calon membaca tidak bisa mengetahui secara sekilas buku tersebut menceritakan apa.

Alih-alih, sampul belakangnya justru dipenuhi dengan keterangan soal Andrea Hirata yang memenangi penghargaan atas karya-karya terdahulunya, terutama Laskar Pelangi yang sudah diterjemahkan ke banyak bahasa.

Pun endorsement yang dikutip dalam buku ini justru adalah atas karyanya yang terdahulu, bukan untuk buku barunya. Bukannya ingin menafikan keunggulan Laskar Pelangi.

Namun, kiranya adil bagi pembaca jika suatu karya yang baru dinilai atas kualitas karya itu sendiri, bukan atas buku yang sudah terbit 12 tahun lalu.

(M-2)

________________________________________

Judul : Sirkus Pohon

Penulis : Andrea Hirata

Penerbit: Bentang

Terbit : Agustus 2017

Tebal : 410 halaman

Komentar