Kuliner

Kuliner Indonesia Jadi Media Diplomasi di Eropa

Jum'at, 8 September 2017 22:46 WIB Penulis:

Ilustrasi

KULINER Indonesia bisa menjadi sarana diplomasi di Eropa, terlebih bila disajikan dalam ajang resepsi diplomatik.

"Melihat antusiasme kalangan diplomat yang menikmati kuliner Indonesia, kami yakin kuliner kita bisa mengglobal dan dapat menjadi media diplomasi yang efektif digunakan perwakilan di dunia," ujar Ketua Akademi Gastronomi Indonesia Vita Datau Messakh di London, Inggris, Jumat (8/9).

Vita yang sedang berada di KBRI Brusel, Belgia menilai kuliner Indonesia yang beragam dapat menjadi media diplomasi di wilayah Eropa. Ia melihat dalam resepsi diplomatik KBRI Brussels yang dihadiri lebih 400 undangan, menjadi ajang diplomasi yang ciamik. Kuliner Indonesia menjadi salah satu daya tarik yang ditampilkan di Chatteu Saint Anne Brussels, Belgia.

Dubes Indonesia untuk Belgia Yuri Thamrin mengatakan, sudah saatnya promosi kuliner Indonesia di Europalia yang dapat membuka jalan industri lainnya. Resepsi diplomatik menjadi pemanasan dari Festival Gastronomi Indonesia yang akan berlangsung Oktober dan November di Brussels dan sekitarnya.

Vita Datau menambahkan, promosi kuliner yang dilakukan pakar kuliner kenamaan William Wongso mendapat dukungan Ditjen Kebudayaan Kemendikbud untuk mendukung acara Europalia 2017.

"Bagaikan gula dikelilingi semut yang menggambarkan kuliner Indonesia saat di promosikan di berbagai acara di belahan dunia, seperti terjadi di Brussels Belgia," ujar Vita seperti dilansir Antara.

Menurut kurator gastronomi Kemendikbud ini, dalam promosi kuliner Chef William Wongso akan berkolaborasi dengan Chef Jean Callens dari Callens Cafe, menjanjikan kuliner dalam set menu dengan sajian rendang blanc bleu Belge cow, yaitu sapi asli Belgia yang dagingnya hampir tidak ada lemaknya.

Festival gastronomi bertema Experience the Flavour of Indonesia ditujukan untuk membuka kesempatan dan jaringan bagi pelaku industri kuliner dan produk lokal Indonesia.

Dirjen Kebudayaan Kemendikbud RI Hilmar Farid di kesempatan terpisah menyampaikan, program gastronomi yang akan dilaksanakan di bawah payung Rumah Budaya Indonesia harus menjadi ajang untuk memperkuat jaringan dan tidak sebatas kuliner harus dapat menjadi alat bagi pengembangan trade tourism and investment bagi Indonesia. (OL-4)

Komentar