KICK ANDY

Hayo Menjadi Relawan

Sabtu, 9 September 2017 00:31 WIB Penulis: TB/M-4

MI/Sumaryanto Bronto

TRAVELING merupakan kegiatan yang menyenangkan untuk menghilangkan kejunuhan dari rutinitas.

Namun bagi Dini Hajar Rohma, Fani Ayuningtyas, dan Syahira Marina, traveling memiliki arti lebih.

Tiga dara tidak hanya wisata, tapi juga berbagi dan menularkan semangat positif bagi mayarakat di daerah yang dikunjungi.

Di penghujung 2013, mereka bertiga mendeklarasikan Wanderlust.

Wanderlust ialah wadah sosial interprize yang mengusung pariwisata, perjalanan, dan relawan.

Bedanya Wanderlust dengan agen wisata lainnya ialah adanya kelas volunteer.

Funnya dapat, rekreasinya dapat, travelingnya dapat.

Begitu juga jiwa volunter peserta yang ikut bisa tersalurkan.

Menurut salah satu pendiri Wanderlust Syahira Marina, Wanderlust didirikan berawal dari kegelisahan saat ia bersama dua rekannya yakni Dini Hajar Rohma dan Fani Ayuningtyas melakukan traveling.

Mereka merasa, tidak ada yang menjadi pembeda saat mereka melakukan traveling dengan orang-orang lain pada umumnya.

"Jadi traveling kami pertama itu di anak Gunung Karakatau. Di situ kami bentuk Wanderlust dengan modal Rp3 juta. Kami ajak orang yang saat itu berjumlah 15 orang kemudian kita berangkat," cerita Syahira.

Saat itu tour pertama mereka sukses.

"Di sana selain kita jalan-jalan, kami juga kerjasama dengan sekolah di sana. Bikin taman baca, kemudian kita ngajar anak-anak SD dan SMP belajar bahasa Inggris dan komputer," ungkapnya.

Kesuksesan tur pertama, banyak yang menggunakan jasa mereka.

Selain trip di pegunungan, mereka juga melakukan trip di pantai.

Di sana, mereka juga menjaga kebersihan pantai dan menjaga kelestarian hidup terumbu karang.

Tidak sampai di situ, setiap warga yang didatangi juga mereka ajak untuk bersama-sama mengajarkan anak-anak di lingkungan mereka belajar berhitung, membaca, menulis, dan lainnya.

Syahira dan Dini mengakui banyak manfaat dari travel perjalanan wisata yang dibuatnya.

Tentunya berkontribusi untuk masyarakat lokal di setiap daerah yang didatanginya.

Terlebih mereka dapat pengalaman, soal budaya, tahu makanan asli daerah, dan bisa lebih bebas melakukan interaksi dengan sejumlah orang yang berbeda.

"Banyak dari orang lokal yang kami temui senang. Karena memang mereka jarang bisa keluar dari daerah mereka sendiri. Apa lagi kami berikan mereka pengetahuan dan tambahan penghasilan," tambah Syahira.

Komentar