Eksplorasi

Dahsyatnya Badai Kategori Lima

Sabtu, 9 September 2017 00:01 WIB Penulis: Gurit Ady Suryo

AP/Marta Lavandier

SUDAH sejak awal pekan ini di wilayah metropolitan Miami, masyarakat mulai bersiap menghadapi ancaman Badai Irma.

Wali Kota Miami mengeluarkan perintah evakuasi wajib sejak Kamis (7/9) sebagai antisipasi badai yang diprediksi melewati mereka pada akhir pekan ini.

Badai Irma merupakan badai tropis Atlantik yang diklaim sebagai yang terdahsyat sejak Badai Wilma pada 2005 dalam hal angin dan durasi bertahan.

Sementara itu, dalam parameter tekanan, Irma dinilai terdahsyat setelah Badai Dean pada 2007.

Sejak terpantau oleh Pusat Badai Nasional AS (National Hurricane Center/NHC) pada 26 Agustus di pesisir barat Afrika, pusaran angin tersebut bergerak menuju lepas pantai 'Benua Hitam' tersebut pada 27 Agustus.

Selama dua hari berikutnya, pusaran tersebut mulai bergabung dengan hujan dan badai petir sehingga membuat elemen tersebut mulai bersatu.

Secara lebih terorganisasi, gabungan fenomena alam itu mulai menuju daerah bertekanan rendah.

Kemudian, pada 29 Agustus tercatat badai melintasi Kepulauan Tanjung Verde dan sekitar 24 jam setelahnya atau tepatnya pada 30 Agustus, fenomena alam tersebut diklasifikasikan sebagai Badai Irma berdasarkan data scatterometer dan perkiraan satelit.

Pada 31 Agustus, Badai Irma mengalami intensifikasi.

Kecepatan angin meningkat dari 70 mph (110 km/jam) menjadi 115 mph (185 km/jam) hanya dalam 12 jam.

Pesawat pengintai yang pertama diberangkatkan melaporkan pada 3 September badai memiliki diameter 47 km dan kecepatan angin 115 mph.

Badai kategori lima yang langka tersebut pada Kamis (7/9) dini hari tercatat bergejolak ke barat dari pantai utara Puerto Riko dan secara potensial melintasi Florida Selatan dan daerah-daerah berisiko harus dievakuasi.

Hingga saat ini tercatat sembilan orang tewas akibat badai tersebut.

Memprediksi badai

Melalui proyeksi jalur badai dalam lima hari ke depan, badai kategori lima tersebut diprediksi sampai Florida, AS, Minggu (10/9) pukul 12.00 waktu setempat.

Penasihat lembaga terkait dengan samudera dan atmosfer AS (National Oceanic and Atmospheric Administration/NOAA) memprediksi badai tersebut tetap berkekuatan 185 mph sewaktu mencapai St Martin, Kepulauan Karibia.

Namun, Direktur Meteorologi di badan pengamat cuaca, Weather Underground, Dr Jeff Masters, menyatakan prediksi badai tidak bisa sepenuhnya menjadi acuan.

Prediksi selama lima hari yang ada saat ini, tidak bisa menentukan akankan badai tersebut tetap berkekuatan 185 mph ketika mencapai AS pada akhir pekan ini.

Salah satu faktor utama yang tidak bisa ditentukan dari pertanyaan tersebut ialah Badai Irma akan menghantam Kuba dan kehilangan kekuatan seiring dengan pengaruh energi lautan terbuka sepanjang jalur badai.

Masters menyatakan sistem peramalan badai terbaik saat ini ialah model global yang memecahkan persamaan matematis tentang perilaku atmosfer di seluruh dunia.

Namun, kesalahan pada beberapa hal bisa menjadi kelemahan dalam peramalan cuaca.

NHC diketahui menggunakan sistem GFS yang dijalankan National Weather Service bersama dengan beberapa sistem pemodelan komputer lainnya seperti UKMET Inggris dan HWRF Amerika (Hurricane Weather Research and Forecasting) dalam meramalkan cuaca di wilayah tersebut.

Sistem-sistem pemodelan tersebut dikenal sebagai yang terbaik dari yang ada saat ini.

(NHC/The Guardian/CNBC/L-1/M-3)

Komentar