Humaniora

Jemaah Haji Harus Dikelompokkan Sejak dari Tanah Air

Jum'at, 8 September 2017 14:12 WIB Penulis: Siswantini Suryandari/Laporan dari Arab Saudi

MI/Siswantini Suryandari

MENTERI Agama Lukman Hakim Saifuddin mengusulkan agar para jemaah haji sejak dari Tanah Air sudah dikelompokkan sesuai dengan regunya. Sehingga saat tiba di Arab Saudi, para jemaah yang sudah satu kelompok ini bisa langsung masuk ke dalam bus penjemputan.

Hal ini mempercepat antrian jemaah saat tiba di terminal kedatangan Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA), Madinah. Sebab Bandara AMAA tidak memperbolehkan terjadinya penumpukan jemaah di terminal kedatangan.

Hal ini berbeda dengan Bandara King Abdul Aziz Jeddah, yang memiliki ruangan khusus untuk ruang tunggu para jemaah haji yang tiba di Arab Saudi.

"Jadi usulan ini bisa menjadi pertimbangan untuk dilaksanakan tahun depan. Saat gelombang I jemaah haji tiba di Madinah, sudah terbentuk konfigurasi per regu yang sudah disusun sejak dari Tanah Air hingga saat duduk di pesawat. Saat masuk bus bisa lebih cepat," usul Menag seusia memimpin rapat penyambutan jemaah haji Indonesia gelombang II di Madinah, Kamis (7/9).

Metode tersebut juga bisa diujicobakan kepada para jemaah haji gelombang II yang datang dari Mekkah ke Madinah secara bertahap mulai 12 -26 September. Jemaah haji gelombang II ini kembali ke Tanah Air mulai 21 September-5 Oktober.

"Jemaah haji gelombang II ini harus dibuat per regu agar memudahkan prosesi di imigrasi," saran Menag.

Ia juga akan menjajagi sistem sewa satu musim untuk hotel-hotel di Madinah yang diperuntukkan bagi para jemaah Indonesia.

"Selama ini sistem yang kita pakai adalah sistem blocking time. Sehingga kemungkinan besar terjadi pecah kloter dan pecah hotel. Ini menyebabkan para jemaah dan petugas pendamping terpisah," kata Menag.

Pada kesempatan sama, Kepala Daker Madinah Amin Handoyo mengatakan risiko sewa sistem blocking time adalah bercampurnya jemaah haji Indonesia dengan negara lain. "Kalau di Mekkah sistem sewa satu musim sehingga satu hotel bisa ditempati oleh seluruh jemaah Indonesia," kata Amin.

Kerugian lain dalam sistem blocking time adalah sewaktu-waktu petugas hotel bisa meminta para penghuni kamar untuk pindah hotel karena akan diisi jemaah lainnya.

"Khusus di Madinah, sewa hotel untuk 8-9 hari pelaksanaan ibadah Arbain. Jemaah haji akan melaksanakan ibadah salat 40 waktu di Arbain atau dalam hitungan hari antara 8-9 hari," jelas Amin.

Namun dalam praktiknya terkadang penghitungan ibadah Arbain ini sering tidak sesuai, sehingga Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi khususnya seksi Bimbingan Ibadah belum bisa mengeluarkan surat pernyataan bahwa seluruh jemaah dari tiap kloter sudah menyelesaikan ibadah Arbain, atau biasa disebut bayan taqrir.

"Jadi kadang muncul perdebatan kapan selesainya ibadah Arbain ini di kalangan jemaah. Sementara pihak hotel sudah meminta mereka pergi. Solusinya adalah mereka ditampung di hotel cadangan yang telah kami sewa," ujarnya.

Berbeda dengan sistem sewa penuh satu musim, jemaah haji tidak bisa diusir oleh pemilik hotel karena sewa hotelnya dalam jangka panjang.

"Cuma harga sewanya lebih mahal," tambahnya.

Untuk sewa hotel di Madinah sistem blocking time, pagu yang ditetapkan DPR dengan pemerintah adalah SAR950 per pax. Sementara untuk sewa penuh satu musim SAR3000-SAR5000 per pax.

Ia menyambut baik usulan Menag tersebut.

"Dengan sistem sewa satu musim terhindar dari pecah kloter dan pecah hotel. Seluruh jemaah satu kloter bisa ditampung satu hotel," pungkasnya. (OL-6)

Komentar