Opini

Wake-up Call Olahraga Kita

Selasa, 5 September 2017 00:16 WIB Penulis: Rohmad Hadiwijoyo Ketua Umum Ikasi Periode 2012-2014

ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

KEMAKMURAN sebuah negara, salah satunya dapat dilihat dari prestasi olahraganya. Kalau melihat perolehan medali di SEA Games 2017 di Malaysia, dengan Indonesia berada di posisi kelima di bawah Thailand, Vietnam, dan Singapura, itulah gambaran nyata perekonomian kita saat ini. Kegagalan Indonesia dalam ajang SEA Games tidak terlepas dari kurang
pekanya Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dalam mempersiapkan event setingkat SEA Games. Tidak adanya koordinasi yang baik dengan stakeholder terkait ikut memberikan andil merosotnya prestasi olahraga kita di kancah negara–negara di Asia Tenggara tersebut.

Membenahi birokrasi, meningkatkan pembinaan atlet nasional, dan memperbanyak kompetisi merupakan langkah yang harus segera diambil dalam memperbaiki olahraga nasional. Selain itu, mencari sumber dana selain APBN untuk kemajuan olahraga harus menjadi alternatif pemikiran kita semua.Birokrasi olahraga kita cukup rumit dan panjang. Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) melalui beberapa cabang olahraga sebagai penyedia dan pencari atlet nasional Indonesia. KONI pusat harus bekerja sama dengan KONI daerah. KONI daerah dalam pembinaan dan pencarian atlet dibiayai APBD, sedangkan KONI pusat untuk operasionalnya harus mengajukan anggaran ke Kemenpora. Kemenpora menugaskan Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) untuk pembinaan olahraga yang diajukan KONI pusat.

Untuk pengiriman atlet ke luar negeri, wewenangnya ada di bawah Komite Olimpiade Indonesia (KOI). Dengan begitu panjangnya birokrasi yang harus dilalui, jangan heran dengan apa yang dialami Eki Febri Ekawati, atlet tolak peluru peraih medali emas SEA Games 2017. Eki harus membayar sendiri uang makan dan penginapannya karena biaya dari Kemenpora belum cair walaupun sang atlet sudah mempersembahkan medali emas dan mengibarkan Merah Putih.Birokrasi yang panjang memengaruhi tata kelola dan manajemen olahraga kita sehingga keputusan-keputusan strategis yang harus diambil segera sering tertunda. Birokrasi akan semakin rumit apabila hubungan antara Kemenpora, KONI, dan KOI kurang harmonis.

Minim ajang kompetisi
Mempersiapkan atlet yang berprestasi tidak bisa instan. Diperlukan waktu yang cukup lama dan persiapan yang matang. Prestasi hanya bisa diraih jika persiapan atlet cukup dan didukung pendanaan yang solid. Pencarian atlet melalui cabang olahraga daerah dilakukan dengan sistem masif dan melalui metode dari bawah keatas (bottom-up). Pada ajang Olimpiade 2012 di London, saya mengantarkan atlet anggar Indonesia Diah Permatasari masuk 50 besar atlet anggar terbaik dunia. Diah diadu langsung dengan atlet anggar nomor satu dunia Mariel Zagunis dari Amerika. Di sela rehat saya sempat bertanya kepada pelatih Mariel Zagunis, berapa lama waktu yang diperlukan untuk Zagunis menjadi atlet anggar nomor satu dunia. Menurutnya, diperlukan waktu sekitar 3.000 jam dan berlatih selama 5 jam per harinya untuk mempersiapkan atlet yang berlaga di Olimpiade.

Saya jadi malu pada diri sendiri setelah mendengar paparan pelatih Zagunis. Persiapan Diah Permatasari kurang dari enam bulan untuk menuju Olimpiade di London. Tidak masuk akal untuk berharap menjadi pemenang. Selain pembinaan atlet, yang kurang dari sistem olahraga kita ialah minimnya ajang kompetisi, baik kompetisi lokal, nasional, maupun kompetisi internasional. Kompetisi diperlukan untuk menguji seberapa jauh kemajuan dan kekurangan dari seorang atlet. Untuk mengadakan sebuah kompetisi atau pertandingan diperlukan biaya yang tidak sedikit. Selain harus mengeluarkan biaya untuk atlet dan pelatih, biaya pengurus organisasi menjadi beban penyelenggara.

Sudah bukan rahasia umum, setiap ada event pertandingan, pejabat yang hadir bukan membantu meringankan pembiayaan, kadang malah menjadi beban. Apalagi kalau event tersebut diadakan di luar negeri, mereka berebut untuk hadir. Untuk menyiasati minimnya biaya, beberapa terobosan harus dilakukan ketua cabang olahraga untuk meningkatkan prestasi atletnya, dari pendanaan sendiri hingga mencari sponsor dari pihak swasta.

Tiga fungsi
Di zaman Orde Baru, sumber dana untuk memajukan olahraga cukup sustain. Hal ini selain karena banyak pihak swasta yang berpartisipasi untuk pengumpulan dana abadi, ketua cabang olahraga memiliki tiga fungsi untuk memajukan olahraga. Ketiga fungsi tersebut ialah sang ketua harus memiliki kemampuan sembur, wur, dan tutur. Yang dimaksud sembur, sang ketua harus memiliki keahlian lobi–lobi untuk memajukan cabang olahraga yang dipimpinnya. Wur, ketua umum cabang olahraga memiliki kemampuan finansial untuk memajukan olahraga yang dipimpinnya. Sang ketua berani menyumbang tanpa pamrih. Kontras yang terjadi saat ini malah sebaliknya. Menjadi ketua cabang olahraga untuk menumpang hidup dan atau dijadikan sebagai batu lonjatan guna mendapatkan jabatan politik yang strategis. Ketiga tutur, sang ketua memiliki keahlian yang cukup di bidang yang diembannya sehingga bisa menjadi anutan bagi para atlet.

Selain itu, kemampuan lobi internasional sangat diperlukan selain untuk meningkatkan prestasi. Lobi internasional juga berfungsi sebagai sarana dalam mencari akses pendanaan sponsor internasional. Indonesia pernah dipercaya menjadi tuan rumah kejuaraan anggar dunia di
Nusa Dua, Bali, pada 2012.

Ketua Umum Anggar Dunia Alisher Burkhanovich Usmanov, yang sekaligus sebagai pebisnis ulung perusahaan minyak dan gas dari Rusia, Gazprom, menunjuk Indonesia sebagai tuan rumah anggar dunia setelah memenangi voting terbuka dalam kongres anggar di Moskow. Sebagai tuan rumah event internasional, banyak manfaat yang didapat. Selain sebagai ajang berlatih atlet–atlet kita dengan atlet tingkat dunia, kita mendapatkan kemudahan mendapatkan pelatih tingkat dunia. Persiapan menuju Asian Games 2018 kurang dari 360 hari. Prestasi SEA Games 2017 harus dijadikan wake up call dan sarana evaluasi. Bukan sebagai ajang mencari kambing hitam. Permintaan maaf saja tidak cukup untuk memperbaiki olahraga nasional. Semangat sportivitas harus dikedepankan dan mencari terobosan yang out of the box untuk membangkitkan kembali olahraga kita yang terpuruk. Salam olahraga.

Komentar