PIGURA

Sang Sudamala

Ahad, 3 September 2017 16:00 WIB Penulis: Ono Sarwono

FAKTA terbongkarnya ‘pabrik’ ujaran kebencian dan berita kebohongan serta eksploitator SARA baru-baru ini, selain mengungkap sumber kejijikan kemasyarakatan kita selama ini, juga menambah luka bangsa. Demokrasi dan kemajuan teknologi terang-terangan telah dibajak tangan-tangan kotor untuk mencederai bangsanya sendiri.

Betapa di antara kita ada yang dengan penuh kesadaran berbuat keji, memfitnah liyan, dan membohongi publik. Tragisnya, rekayasa ini demi urusan ‘remeh’ duniawi. Pertanyaannya, khususnya kepada pelaku dan sindikatnya, termasuk pengguna jasanya, masih adakah nurani? Masih punyakah nilai-nilai entisas sebagai bangsa?

Apa pun jawabannya, realitas ini menunjukkan bahwa bangsa ini memang lagi ‘sakit’. Untuk memulihkannya, mesti ‘diruwat’ sehingga kembali seperti sediakala sebagai bangsa yang punya jati diri.

Dirasuki jin Kalika
Alkisah, bangsa Amarta dilanda pagebluk mayangkara (epidemi penyakit). Bukan sakit dalam arti fisik, melainkan jiwanya. Dampaknya, segala tatanan kemasyarakatan bubrah. Etika dan moral tidak ada lagi. Caci maki, saling hujat, dan fitnah merebak. Singkatnya, elite maupun rakyat berbuat semau-maunya sendiri tanpa risi.

Pandawa meriang karenanya, bingung mengindentifikasi sumber kesengsaraan yang melanda. Dalam kerapuhannya itu, Pandawa terancam nyawanya dari Kalantana dan Kalanjaya. Dua raksasa sakti itu merupakan srayan (bala bantuan) penguasa Astina Prabu Duryudana. Misinya, menyirnakan Pandawa, yakni Puntadewa, Werkudara, Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Ini kebengisan Duryudana kepada saudara sepupunya yang kesekian kalinya demi mengamankan kekuasaannya atas Astina yang sejatinya milik Pandawa.

Cobaan yang memiriskan tersebut membuat Kunti Talibrata (ibu Pandawa) prihatin. Tidak tahu apa yang mesti diperbuat, hingga akhirnya ia pergi meninggalkan istana Amarta tanpa tujuan jelas. Gumamnya, kenapa derita yang menimpa terhadap putra-putranya tidak ada habis-habisnya. Dunia dirasakan seperti tidak ada keadilan.

Dalam kegalauannya yang memuncak, tiba-tiba datanglah Bathari Durga. Penghuni Kahyangan Setragandamayit ini sesungguhnya yang menjadi biang keladi Amarta menderita. Dialah yang menyebar dedemit ke Amarta sehingga negara itu menderita bak ‘neraka’.

Kepada Kunti, Durga dengan kenes menyatakan bersedia mengentaskan Pandawa dari semua masalah. Akan tetapi, itu ada pitukon (ongkos)-nya. Ia minta Kunti mengikhlaskan Sadewa untuk dijadikan tumbal.

Kunti menolak keras dan memunggungi Durga. Ia tidak akan rela Pandawa tanggal. Prinsipnya, Pandawa mesti utuh selama-lamanya. Namun, sikap Kunti tersebut tidak menyurutkan nafsu Durga. Ia lalu memerintahkan anak buah kepercayaannya, jin Kalika, bagaimanapun caranya, agar bisa memaksa Kunti menyerahkan Sadewa.

Suasana kebatinan Kunti yang tidak stabil membuat jin Kalika gampang merasuki wadaknya. Ketika dalam pengaruh Kalika itulah, tanpa kontrol kesadarannya, Kunti kembali ke istana Amarta. Sesampainya di sana ia memaksa Sadewa mengikuti kehendaknya. Puntadewa, Werkudara, Arjuna, dan Nakula kaget dan tercenung dengan perilaku sang ibu yang tidak biasa tersebut. Mereka lalu secara bergantian menanyakan ke mana Sadewa akan diajak. Kunti menjawab, itu bukan urusan Pandawa.

Kresna, botoh Pandawa, serta kakaknya, Baladewa, yang saat itu berada di dalam istana Amarta, juga memohon keterangan dari bibinya itu. Namun, Kunti tidak menggubris. Ia menggandeng Sadewa dan berbegas meninggalkan mereka semua yang terbengong-bengong.

Kembali ke asli
Sesampainya di tengah Hutan Dandangmangore, Kunti menyerahkan Sadewa kepada Durga yang tampaknya telah menunggu kedatangannya. Durga lalu menyuruh bungsu Pandawa itu meruwatnya. Betapa kagetnya Sadewa dengan perintah itu karena dirinya sadar tidak memiliki kemampuan tersebut.

Berulang kali Durga meminta Sadewa tetap menolak karena memang tidak bisa. Akibatnya, Durga murka. Ia meluapkan amarah dan mengancam akan menggunakan kekerasan untuk memaksa Sadewa menuruti keinginannya.

Di saat genting menghinggap, tiba-tiba datanglah Bathara Guru. Penguasa Kahyangan itu lalu manjing (masuk) ke dalam jiwa Sadewa. Mendadak Sadewa berubah bercahaya bak ‘Bhatara Manikmaya’. Kemudian dengan wasis (pintar)-nya, ia meruwat Durga.

Akhirnya, Durga yang semula berwajah raksasa berubah total menjadi cantik jelita seperi sediakala dengan nama Bathari Uma. Uma ini sejatinya istri Bathara Guru yang terkena kutukan pascadrama percintaan terlarang di atas samudra di keindahan sore nan lembayung.

Setelah ruwatan selesai, Bhatara Guru keluar dari raga Sadewa dan mengejawantah. Sebelum bersama Uma kembali ke Kahyangan, Bethata Guru berkenan memberikan gelar Sudamala kepada Sadewa.

Secara harfiah, Sudamala berasal dari dua kata, suda yang berarti mengurangi atau menghilangkan, dan mala yang artinya penyakit. Makna filosofis Sudamala ialah sang peruwat atau pembersih segala dosa dan kesalahan.

Sejenak setelah kepergian Bathara Guru dan Bathari Uma, Sadewa buru-buru mencari sang ibu dan kemudian membebaskannya dari belenggu jin Kalika. Setelah itu, ia tepergok Kalanjaya dan Kalantaka. Maka, terjadilah peperangan dahsyat. Berbekal ‘wasiat’ dari Bathara Guru yang melekat pada dirinya, Sadewa berhasil melucuti dua yaksa tersebut sehingga badar (kembali ke ujud asli) menjadi Bathara Citraganda dan Bathara Citrasena.

Kedua dewa itu berterima kasih kepada Sadewa yang telah meluruhkan mereka dari rantai hukuman. Sebelumnya, Citraganda dan Citrasena dikutuk menjadi raksasa karena bersalah, mengintip Bathara Guru ketika sedang memadu kasih dengan Uma.

Selanjutnya, Sadewa secara maraton ‘meruwat’ bangsa Amarta dari pengaruh para lelembut pengikut Durga. Singkat cerita, Amarta kembali pulih seperti sediakala. Bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai keutamaan dan keluhuran.

Kembali berjati diri
Hikmah lakon Sudamala ini sesungguhnya ialah penyelamatan bangsa Amarta dari pengaruh atau belenggu Bathari Durga. Dengan kata lain, membersihkan Amarta dari segala bentuk kezaliman.

Konteks dengan situasi kebangsaan saat ini, faktanya ada sebagian di antara kita yang sedang ‘menyembah’ Durga. Ada yang sedang berada dalam kekuasaan Durga. Yang paling nyata, misalnya, perilaku menghalalkan segala cara, seperti menghujat, memfitnah, menyebarkan kabar bohong, dan mengadu domba.

Kondisi seperti itu bila dibiarkan akan membahayakan eksistensi bangsa dan negara. Oleh karena itu, ‘durga-durga’ (segala sumber penyakit) itu harus sesegera diruwat ‘sudamala-sudamala’. Maknanya, mereka mesti dicuci atau dibersihkan. Dengan demikian, bangsa ini kembali menemukan jati dirinya, bangsa yang beradab. (M-4)

Komentar