Cerpen

Gadis Embun

Ahad, 3 September 2017 15:45 WIB Penulis: Kristin Fourina

SELEPAS subuh, berjalanlah dengan pelan ketika kau melewati Jembatan Bantar, jembatan yang menghubungkan Bantul dengan Kulonprogo. Kau akan menemukan seorang perempuan tua yang duduk di pinggir jembatan dengan gusar. Ketika matahari berhenti di pelepah pohon pisang, kau akan melihat perempuan tua itu pergi meninggalkan jembatan dengan gelisah. Wajahnya pucat sebab saat itu sudah tak ada sisa setetes embun pun yang mampu menyejukkan hatinya.

Orang-orang sudah menganggapnya gila setelah tak ada kabar berita tentang anak gadisnya. Perempuan tua itu selalu memilih duduk di pinggir Jembatan Bantar selepas subuh hanya untuk merasakan sejuknya embun yang menyentuh tangannya. Sungguh, ia hanya ingin merasakan sejuknya embun sambil sesekali berharap bahwa anak gadisnya akan muncul bersama tetesan-tetesan embun di pinggir Jembatan Bantar.

Perempuan tua itu sesekali tampak gembira bisa merasakan sejuknya embun seperti ia sedang berjumpa dengan anak gadisnya yang sedari dulu ingin menjelma tetesan embun.

“Seperti embun, Ibu. Ya, setetes embun sehabis itu menguap dan lenyap. Mestinya Tuhan menciptakanku sebagai setetes embun, bukan sebagai seorang anak gadis yang tak diharapkan oleh seorang lelaki pun di dunia ini.”

“Kau menyesal telah terlahir dariku, Nak?”

“Justru aku adalah hadiah terburuk yang diberikan Tuhan untuk ibu.”

“Kau adalah anakku satu-satunya yang kupunyai, Nak. Kenapa anakku satu-satunya justru mengatakan padaku hal yang menyesakkan?”

“Justru karena aku adalah anak gadis ibu satu-satunya, maka aku merasa menjadi patung yang tak berguna.”

“Suatu hari kau akan tahu betapa beruntungnya ibu memilikimu, Nak.”

“Aku hanyalah seorang gadis yang serupa pasir, Ibu. Aku ingin menjelma setetes embun yang sejuk.”

Sedangkan ibunya masih saja tidak mengerti mengapa anak gadisnya selalu merasa menjadi perempuan yang paling tidak berharga hanya karena ia terlahir tanpa rahim. Tapi hujatan orang-orang di sekelilingnya memang terlalu mengganggu. Seolah parang yang menancap di hati, membuat anak gadisnya selalu membenci diri.

“Bukankah terlahir tanpa memiliki rahim itu bukan karena kesalahanku, Ibu?”

“Kenapa kau bertanya begitu?”

“Apakah terlahir tanpa memiliki rahim adalah sebuah dosa, Ibu?”

“Kau menanyakan hal yang tidak perlu ibu jawab.”

“Sebaiknya aku menjelma setetes embun hingga tak ada seorang pun yang menghiraukan keberadaanku. Tak akan ada yang melihatku. Lalu aku akan menguap sehabis itu lenyap.”

“Sebab kau tak memiliki rahim, kau seharusnya tak perlu merasa menjadi gadis yang paling hina, Nak.”

“Aku ingin jalanku tak sunyi, Ibu. Tapi tanpa rahim, berarti tak ada seorang lelaki pun yang ingin memilikiku. Begitu banyak lelaki yang mendekatiku, namun sebanyak itu pula mereka kemudian pergi meninggalkanku. Mereka menginginkan gadis yang utuh. Juga keturunan yang sungguh. Bukankah aku juga tak berharap terlahir sebagai gadis yang tanpa rahim, Ibu?”

Dan ibu mana yang mampu membendung aliran sungai yang membanjir deras di pelupuk mata demi mendengar keluh kesah anak gadis satu-satunya. Ia memeluk anak gadisnya dengan kegetiran yang merasuk dalam dada.

“Sebaiknya aku menjelma setetes embun,” desah gadis itu dalam pelukan ibu.

***

Dan ketika subuh baru saja berlalu, seolah sunyi telah terusir berganti kegaduhan yang menggelincir. Rupanya selepas sembahyang subuh, orang-orang dari surau dikejutkan oleh terjunnya seorang gadis dari atas Jembatan Bantar. Gadis itu seolah menjelma setetes embun yang terjun melebur menjadi satu dengan aliran Sungai Progo. Selepas subuh, orang-orang diliputi kegelisahan. Mereka tak berdaya melihat gadis itu terjun dengan anggun dan kemudian hilang seperti setetes embun yang lenyap.

Satu dua orang menjerit dan beberapa lainnya memutuskan untuk mendekati sungai. Arus sungai yang tenang serupa rajutan benang yang menenggelamkan. Tubuh para lelaki bergetar oleh dinginnya angin pagi dan sebab kalut dan takut.

“Saya terjun saja,” kata seorang pemuda yang memang bisa berenang, “Mungkin gadis itu masih bisa diselamatkan.”

Baru lima belas menit, pemuda itu sudah muncul lagi dengan kepayahan.

“Hanya ada air. Saya kira gadis itu sudah hanyut,” ucap pemuda gemetar.

“Iya, bisa jadi,” jawab yang lain.

“Gadis itu seperti anak gadis Mak Wasi,” gumam seorang lelaki.

Tiba-tiba pagi itu langit berselimut hujan. Kelompok lelaki bubar. Mereka masing-masing sudah tahu apa yang mesti mereka lakukan. Mereka merasa iba dengan nasib anak gadis Mak Wasi yang sebelumnya selalu menjadi gunjingan. Lalu beberapa orang melapor ke polisi, beberapa orang melapor ke perangkat desa, beberapa orang berniat memberi tahu Mak Wasi, sedang beberapa orang lagi diharuskan menunggu di pinggir sungai jika saja anak gadis Mak Wasi terlihat mengambang atau tersangkut kayu dan bebatuan.

Saat itu Mak Wasi sedang kebingungan mencari anak gadisnya di sekeliling rumah. Dan tiba-tiba ia dikejutkan oleh kabar bahwa anak gadisnya memilih terjun ke Sungai Progo secara mengenaskan.

***

Warga di pinggir Sungai Progo masih terkenang dengan anak gadis Mak Wasi yang terjun ke sungai. Bila saja anak gadisnya ditemukan dalam keadaan selamat, tentu saat ini Mak Wasi sudah berhenti menangis.

“Ke mana sebenarnya anak gadisku itu pergi?” tanya Mak Wasi berulang kali, “Adakah ia benar-benar terjun ke sungai? Aku tak melihat dengan mataku sendiri. Bahkan jika pun mati, jasadnya pun tak ditemukan. Setahuku ia hanya menghilang.”

Berkali-kali upaya pencarian tetap tak membuahkan hasil. Beberapa orang tua menganjurkan Mak Wasi mengadakan doa bersama setelah tujuh hari anak gadisnya tak ditemukan.

“Aku masih belum yakin anak gadisku sudah mati,” keluh Mak Wasi.

“Hanya doa bersama saja, Mak. Setidaknya agar hati Mak Wasi tenang.”

Tanpa sadar Mak Wasi menganggukkan kepala. Dalam hati ia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa doa bersama ini bukan doa untuk kematian tetapi adalah doa untuk keselamatan. Selama doa bersama itu berlangsung, jiwa Mak Wasi terasa melayang mencari anak gadisnya yang meloncat dari jembatan.

“Kasihan, Mak Wasi…” ucap beberapa orang yang dulu mencibir anak gadisnya karena tak memiliki rahim.

***

Warga sudah putus asa melakukan pencarian. Waktu empat puluh hari terasa hanya sekejap mata. Semua orang sudah menganggap anak gadis Mak Wasi telah tiada. Mereka sudah yakin kalau anak gadis itu hanyut sampai laut. Mak Wasi tak pernah lagi mau bicara dengan siapa pun sebab selalu saja setiap orang menyuruhnya untuk mengikhlaskan. Semakin lama wajah Mak Wasi terlihat semakin pucat. Kesedihan mengeram dalam hatinya yang pekat.

Orang-orang bahkan sudah banyak yang melupakan gadis yang ingin menjelma embun itu setelah setahun berlalu. Tapi tidak dengan Mak Wasi. Ibarat berada dalam sebuah perahu, ingatan Mak Wasi selalu terhanyut pada kenangan akan anak gadisnya. Perahu yang membawa ingatan Mak Wasi terombang-ambing tak tentu arah. Gelombang kenangan telah mempermainkan ingatannya hingga tak pernah ingkar untuk mengenang anak gadisnya yang hilang.

Jika kau menyempatkan diri untuk sekadar melewati Jembatan Bantar selepas subuh, kau pasti akan menemukan perempuan tua itu. Ia selalu duduk di pinggir Jembatan Bantar sambil merasakan embun yang mengusap kulitnya yang keriput. Kemudian kau akan mendengar ia bergumam lirih. Dengarkanlah secara lebih dekat.

Berulang kali ia mengatakan pada tetesan embun yang diusap, “Aku tak yakin kau telah mati. Bukankah kau hanya ingin menjelma embun, Nak. Aku tak yakin kau terjun ke sungai ini. Mungkin saja orang-orang hanya tak percaya telah melihatmu menjelma embun di tepian sungai ini. Jadi, mereka membohongiku dan mengatakan padaku kalau kau menenggelamkan diri. Kembalilah, Nak. Kembalilah meski hanya berupa tetesan embun.”

Ratusan subuh telah berulang kali terlewati. Kenangan akan anak gadis Mak Wasi pun juga masih selalu berbekas dan berkesan bagiku. Namun tetap saja ia hanya sebatas ingatan, hanya berbekas kenangan. Ia kini tak tampak. Aku sudah terlambat menyadari bahwa sebenarnya mungkin saja anak gadis Mak Wasi itu mengakhiri hidupnya hanya karena kesalahanku yang sudah dengan keji mengatakan padanya bahwa di dunia ini ia hanya menghabiskan sisa usia dengan sia-sia. Dan malam sebelum ia terjun ke sungai, ia mengatakan padaku bahwa ia ingin menjadi setetes embun saja, ia ingin meninggalkanku—kekasihnya yang terakhir—sudah itu lenyap.?

Kulonprogo, 2017

Kristin Fourina, alumnus salah satu universitas di Yogyakarta, kerap memenangi lomba cerpen. Beberapa cerpennya dimuat di media massa dan masuk buku antologi bersama, salah satunya Bayang-Bayang (2012).

Komentar