Tifa

Melihat Jakarta melalui Ja(Ya)Karta

Ahad, 3 September 2017 15:30 WIB Penulis:

MI/ABDILLAH M MARZUQI

TEPAT di muka pintu ruang pamer terdapat dua patung besar yang menyambut pengunjung. Dua patung tersebut adalah Raden Saleh dan S Sudjojono. Melangkah lebih jauh, didapati lukisan berukuran besar yang tidak diletakkan secara sebidang. Lukisan itu justru diletakkan menjadi dua bidang yang saling bersambung.

Itulah lukisan Srihadi ­Soedarsono berjudul Jayakarta (1975) yang ­dipamerkan di Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta pada 23 ­Agustus hingga 23 Oktober 2017. ­Pameran ini diadaakan oleh Yayasan Mitra Museum Jakarta (YMMJ) dalam tajuk Menyingkap Ja(Ya)karta.

Pameran ini menampilkan karya Air Mancar (1973), Jayakarta (1975), disertai arsip dan dokumentasi karya Srihadi Soedarsono.

Jika terkagum dengan ukuran lukisan Jayakarta, tenggok dahulu lukisan Air Mancar yang berukuran 130 x 130 cm. Lukisan Air Mancar memang jauh lebih kecil berpuluh kali lipat dari Jayakarta, tetapi Air Mancar boleh dikata adalah penyebab lukisan Jayakarta.

Lukisan Air Mancar menggambarkan pemandangan Jakarta dengan gedung bertingkat yang terdapat banyak iklan papan reklame bertuliskan merek asal Jepang seperti Hitachi, Toyota, Toshiba, Sony, Bakero, dan Korona.

Karya Air Mancar dipamerkan pertama kali pada pameran tunggal Srihadi di Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) Taman Ismail Marzuki pada 2-8 November 1974. Lukisan Air Mancar kembali dipajang di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pada 20 April 1975.

Saat itu, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin yang menghadiri ­ekshibisi marah melihat lukisan Air ­Mancar di Anjungan Jakarta TMII. Ia ­tersinggung melihat citra Kota ­Jakarta yang digambarkan penuh dengan ­papan-papan ­reklame ­merek Jepang.

Ali Sadikin meminta karya tersebut diturunkan dan secara spontan ­mencoret-coret lukisan ­dengan spidol hitam. Ia menulis ‘­Sontoloyo!!! Apa ini ­reklame ­barang2 Jepang??’.

Permintaan maaf
Menyesali tindakannya, Ali Sadikin memutuskan untuk ­meminta maaf kepada sang seniman. Tidak hanya permintaan maaf, Ali Sadikin juga meminta Srihadi untuk ­membuatkan sebuah karya untuk mengisi salah satu tembok di Gedung Balai Kota DKI Jakarta menggambarkan Jakarta yang bersih.

Srihadi pun menghasilkan sebuah karya yang menggambarkan Jayakarta, sejak 1527 hingga tahun 1970-an. Karya itu dibuat di Bengkel Dharmakarya di lapangan kampus ITB yang dapat mengakomodasi lukisan berukuran besar.

Lukisan itu lalu dikembangkan lagi pada 2017 oleh Srihadi dengan judul From Jayakarta to the Glorious Maritime Nation. Terdapat beberapa objek Jakarta masa kini yang dilukis Srihadi.

Lukisan From Jayakarta to the ­Glorious Maritime Nation (2017) adalah karya pastel crayon ­Rembrandt di atas kertas aquarelle ­Canson dan berukuran 122 x 244 cm. ­Beberapa objek sama dengan lukisan ­Jayakarta (1975), tetapi ­memiliki perkembangan seperti Jembatan Susun Semanggi dan proyek tol laut di Tanjung Priuk.
“Hari ini, lukisan Jayakarta (1975) hadir kembali di ruang Museum Seni Rupa dan Keramik untuk membawa kita kembali kepada rekam jejak pertumbuhan kota di masa lalu. Kehadiran lukisan ini juga menadai pembaruan yang akan berlangsung di museum agar dapat menjadi ruang apresiasi yang lebih baik untuk warga kota Jakarta,” begitu yang tertulis dalam pengantar pameran. (Abdillah M Marzuqi/M-2)

Komentar