Tifa

Melihat Kondisi Seni Tari

Ahad, 3 September 2017 15:15 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

MI/ABDILLAH M MARZUQI

PANGGUNG itu memang tidak tetap. Artistik dalam panggung kerap berubah. Sebab yang tampil kali itu bukan hanya satu kelompok tari, melainkan ada enam kelompok ­gerak yang tampil. Setiap kelompok membawa gaya masing-masing, mulai yang tradisi hingga kontemporer.

Itulah yang menjadikan Jakarta Dance Meet Up #2 (JDMU#2) sangat menarik diadakan di Gedung Kesenian Jakarta pada 30 Agustus 2017.

Penonton akan dibuat penasaran setiap kali lampu panggung menjadi gelap. Saat layar diangkat dan cahaya kembali ke dalam panggung, latar panggung seketika telah mendapati bentuk baru.

Sekelompok orang telah bersedia di atas panggung. Mereka berinteraksi dengan lekat. Berkelindan dengan properti tari yang tampak menyala. Sebuah tiang dengan ujung berbentuk limas menyala terang. Berpadu dengan panggung yang hanya menyisakan sedikit cahaya. Begitupun kostum yang dikenakan para penari dibuat segar dengan balutan warna putih. Mereka menarikan tarian bertajuk Energy karya koreografer Andhini Rosawiranti dari Namarina Dance Academy.

Andhini memaksudkan karyanya sebagai hubungan manusia dengan sifat energi. Menurutnya, sifat ­energi mempunyai hubungan dengan manusia. Energi selalu melakukan interaksi satu sama lain. Sama dengan kehidupan manusia yang juga berdasar dari sebuah sumber lalu berinteraksi dengan yang lain.

“Energi adalah sebagai sumber, memberikan interaksi satu sama lain, saling terkait satu sama lain. Begitu pula dengan kehidupan manusia yang juga berdasarkan dari sebuah satu sumber, tolong-menolong dan saling berinteraksi satu sama lain sehingga dari keterhubungan, ketergantungan manusia dengan energi itu menghasilkan sistem yang baik,” terang Andhini.

Limas yang dikelilingi para penari juga menjadi peneguhan dari konsep. Limas merupakan sumber energi tertinggi. Dalam karya itu, 16 penari berinteraksi dengan limas yang menyala selama 8 menit.

“Itu sebuah limas yang merupakan sumber energi tertinggi yang dihasilkan. Jadi saya mengapresiasikannya ini sumber energi yang tinggi lalu ada elemen-elemen yang menghubungkan yang tersumber dari energi itu,” imbuhnya.

Selain Andhini, masih ada banyak koreografer yang berturut dalam JDMU#2. Terdapat lima komunitas tari dengan tujuh koreografer yang membawakan delapan karya dengan judul yang berbeda. Salah satunya Irfan Setiawan, koreografer Ali Dance Company, yang membawakan koreografi tari bertajuk Melo Sang. Karya itu menceritakan filosofi lada dari Kepulauan Bangka Belitung. Berangkat dari anggapan bahwa menanam lada ibarat merawat anak, karya ini menggambarkan proses lada putih dari penanaman, perawatan, panen, perendaman, pemisahan, pencucian, hingga penjemuran.

Kelima komunitas tari adalah Ali Dance Company dengan koreografer Irfan dan judul tarian Melo Sang atau Lada Manja, Chiva Production dengan koreografer Yohanes Chisto Hoke dan judul tarian Feeling. Selain itu, Namarina Dance Academy akan tampil dengan koreografer Andhini Rosawiranti dengan karya Energy serta Truly Rizki Ananda membawakan tarian Ruang Jiwa. Masih ada Rafa International Dance School dengan koreografer Enindita Sih Lastyari dan Felicia Chitraningtyas yang menyuguhkan tiga tarian yakni Mad Groove, Inward Self, dan Dance in Fusion. Sanggar Tari Cipta Budaya dengan koreografer Ilham Muji Riyanto akan membawakan tarian Kain Jlamprang.

Beragam karya
JDMU merupakan helatan yang diadakan Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta. Program ini berupaya membangun iklim yang inspiratif terhadap penciptaaan dan apresiasi karya seni tari yang bermutu bagi pelaku seni tari dan masyarakat. JDMU merupakan upaya untuk memetakan, memfasilitasi, dan merangkul komunitas tari di Jakarta.

Ketua Komite Tari DKJ Hartati mengungkap dalam helatan ini semua komunitas diberi kebebasan untuk menampilkan karyanya. Tidak ada proses pengurasian karya ataupun pemilahan karya. Semua karya dari beragam gaya dari semua level boleh tampil dalam JDMU. Selain itu, JDMU juga memperlihatkan kondisi dunia tari. Sejauh mana perkembangan seni tari, genre tari yang paling banyak, atau sejauh mana kemampuan penari dan kondisi komunitas tari.

“Jadi kalau mau baca kondisi tari Inodensia, baca ini (JDMU),” ujar Hartati.

Semua komunitas tidak hanya mempresentasikan kreasi mereka di hadapan penonton, tetapi juga di hadapan tiga pengamat yakni pengamat segi produksi Adinda Luthvianti, pengamat segi karya Jefriandi Usman, dan pengamat proses Heru Joni Putra. Setelah tampil, semua komunitas tari akan dievaluasi dari aspek kreatifitas, estetika hingga manajemen pengelolaan. Para pengamat memberikan evaluasi kepada karya masing-masing secara mendalam dan simultan. Sesi ini akan dilakukan secara bersamaan, sehingga setiap komunitas tari akan belajar dari berbagai masukan yang berlangsung. Barulah kemudian pelatihan dan workshop akan diberikan pada sesi selanjutnya.

“Di akhir tahun kira-kira kalau punya duit cukup baru kita (workshop). Dari pengamat kita sudah punya data apa yang harus kita berikan. Apakah secara manajemen, teknik kepenarian,” ujar Hartati.

Pelaksanaan JDMU selama 2017 akan melibatkan 32 komunitas tari yang bersedia tampil dalam ajang ini. Mereka terlibat sejak tahap awal persiapan, pembahasan konsep, hingga pelaksanaannya.

Sebelumnya, JDMU pertama (31/3) sukses dengan menampilkan 6 komunitas dan 12 koreografer muda dengan keragaman genre. Selanjutnya JDMU#3 bakal digelar pada Oktober 2017. (M-2)

abdizuqi@mediaindonesia.com

Komentar