Pesona

Cerita Indonesia di New York

Ahad, 3 September 2017 05:31 WIB Penulis: Suryani Wandari

MI/MOHAMMAD IRFAN

SENI grafiti yang menghiasi New York, Amerika Serikat, rupanya begitu memikat Dian Pelangi. Di sisi lain, Dian yang memang kerap memasukkan unsur adati ingin mengawinkan pesona Kota Big Apple itu dengan sentuhan Nusantara.

Perpaduan dua dunia itulah yang ia bawa dalam koleksi yang akan dipamerkan di New York Fashion Week (NYFW) Spring/Summer 2018, tepatnya pada sesi First Stage, pada Kamis (7/9). Sebelum dipamerkan ke New York, koleksi itu pun diperlihatkan di Jakarta, Senin (21/8).

Dian mengadopsi nuansa grafiti lewat motif abstrak di blazer putih maupun pada blus panjang. Jika pada blazer, motif hanya muncul di bagian tengah, pada blus motif itu muncul lebih mendominasi dan dengan warna-warna mencolok. Sementara itu, padanan bawahnya adalah celana palazzo bergaris hitam-putih.

Dian menjelaskan sentuhan adati pada koleksi di bawah lini Dian Pelangi Prive itu ada pada material kain tenun dan teknik batik untuk menghasilkan motif-motif atraktif tersebut.

"Koleksi ini merupakan gambaran Kota New York yang dinamis, padat dan aktif, serta karakteristik kepribadian yang berbeda-beda. Semua keragaman dan cerita ditafsirkan pola dan warna dalam penampilan," kata desainer yang sebelumnya telah tampil di Couture Fashion Week yang juga berlangsung di New York dan di London Fashion Week.

Dian mengatakan unsur adati sengaja ditonjolkan karena ia tidak ingin sekadar tampil, tetapi juga menceritakan kekayaan budaya Indonesia.

Keikutsertaan Dian di NYFW kali ini merupakan bagian dari representasi Wardah. Brand produk kecantikan itu pun tidak hanya menggandeng Dian Pelangi, tetapi juga enam desainer lainnya. Mereka ialah Barli Asmara, Catherine Njoo, Melia Wijaya, Vivi Zubedi, dan duo desainer tas Fara Shahab dan Riza Assegaf. Fara dan Riza menampilkan brand tas mereka, Doris Dorothea.

Vivi Zubedi juga menampilkan koleksi busana muslimah dengan sentuhan adati. Namun, busana yang ditampilkan Vivi berpotongan abaya dengan nuansa Kota Mekah dan Madinah. Soal kain, pilihan Vivi pun jatuh pada batik dan tenun.

Cerita rakyat dan tarian

Pada presentasi kali itu, tampilan menarik juga terlihat pada busana karya Catherine Njoo. Desainer asal Surabaya ini menampilkan tube gown dengan bordir bermotif tradisional yang terpampang jelas di bagian depan dan lingkar pinggang. Penampilan koleksinya makin ekstravagan dengan aksesori kepala berbentuk layaknya ranting-ranting berwarna emas. Catherine menjelaskan koleksinya terinspirasi oleh tarian legong khas Bali.

Keluwesan pemari legong itulah yang diterapkan dalam wujud bordiran berwarna emas. Sementara itu, hiasan kepala yang merupakan karya G Liem terinspirasi oleh keindahan bunga kamboja.

Melia Wijaya mengangkat pesona legenda Sawunggaling. Cerita ayam dan merak jantan itu pun diwujudkan secara jelas detail dalam motif ayam dan merak di atas gaun mini berwarna kulit.

Motif itu dibentuk dengan teknik bordir 3 dimensi. "Busana ini meonjolkan ketegasan, keberagaman bentuk, makhluk yang kreatif, kukuh, penuh energi, dan mengandung spiritual," kata Catherine.

Klasik era Victoria

Tidak kalah memesona ialah jumpsuit putih bergaya era Victoria. Bertajuk Canities Subita, busana itu menggunakan brokat dengan motif yang rumit. Kesan sofistikasi makin kuat dengan layer bergelombang di kedua sisi busana dan ruffles di bagian dada.

"Putih sendiri melambangkan kemurnian dan warna sangat umum, tetapi lebih kompleks jika digunakan wanita," kata Barli.

Keseluruhan koleksi busana dari para desainer ditampilkan dengan aksesori berupa tas Doris Dorothea. Label ini dikenal sebagai tas kulit dengan bentuk yang sangat beragam, seperti heksagonal, silinder, dan segitiga. (M-3)

Komentar