BIDASAN BAHASA

Rompi Oranye

Ahad, 3 September 2017 01:31 WIB Penulis: Henry Bachtiar, Staf Bahasa Media Indonesia

MI/Rommy Pujianto

Belum lama ini tersiar kabar mengenai operasi tangkap tangan (OTT) yang kembali dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi. Kali ini Wali Kota Tegal Siti Masitha Soeparno yang menjadi target komisi antirasywah. KPK cukup intens melakukan OTT terhadap para terduga kasus korupsi.

Para terduga yang ditangkap mulai pejabat publik hingga pihak swasta. Momen yang kerap tertangkap kamera ketika para terduga kasus korupsi itu akan atau seusai diperiksa di Gedung KPK ialah mereka selalu mengenakan ‘rompi oranye’.

Dengan semakin gencarnya OTT yang dilakukan KPK, istilah rompi oranye pun mulai populer. Istilah itu akrab di telinga sebagai simbol bahwa seseorang yang memakainya merupakan tahanan KPK. Bila kita mendengar atau membaca gabungan­ kata ‘rompi oranye’, persepsi kita kerap kali tertuju pada KPK, terduga, atau tersangka kasus korupsi.

Padahal, banyak pula orang yang memakai rompi oranye bukan merupakan terduga atau tersangka kasus korupsi dan tahanan KPK. Mereka, misalnya, petugas parkir serta petugas penanganan sarana dan prasarana umum atau petugas kebersihan. Namun, simbol itu sudah kadung melekat pada koruptor yang terjaring oleh KPK.

Istilah itu pun mulai mengalami penyempitan makna seiring dengan kebijakan KPK yang mewajibkan para tahanan memakai rompi oranye.
Dengan berkembangnya zaman, dunia kebahasaan pun mengikuti alurnya melalui munculnya istilah-istilah baru yang lama-kelamaan akrab di telinga kita, baik itu dalam bidang hukum, politik, maupun kriminalitas dan lain sebagainya.

Kita pernah mendengar istilah ‘meja hijau’ yang, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), diartikan pengadilan. Orang itu dibawa ke meja hijau untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Ada pula istilah ‘kambing hitam’ yang dalam KBBI diartikan orang yang dalam suatu peristiwa sebenarnya tidak bersalah, tetapi dipersalahkan atau dijadikan tumpuan kesalahan. Bapak itu dijadikan kambing hitam oleh rekannya atas kesalahan yang tidak ia perbuat. Dalam KBBI juga ada istilah ‘mata keranjang’, sifat selalu merasa berahi apabila melihat lawan jenisnya; sangat suka pada perempuan. Meski sudah punya istri, ia masih suka melirik perempuan lain.

Contoh kalimat dengan istilah-istilah yang sudah dikenal luas itu dapat digolongkan ke dalam majas simbolis. Mereka sering digunakan untuk menguatkan kesan mengenai sesuatu sehingga menimbulkan nuansa imajinatif pada diri penyimaknya. Menurut KBBI, majas ialah cara melukiskan sesuatu dengan jalan menyamakannya dengan sesu­atu yang lain; kiasan. Secara umum, dalam bahasa Indonesia, majas dibagi menjadi empat macam, yakni ‘majas perbandingan, majas pertentangan, majas sindiran, dan majas penegasan’.

Majas simbolis masuk kategori majas perbandingan. Majas itu menggunakan binatang, benda, atau tumbuhan sebagai lambang atau simbol. Simbol-simbol yang digunakan dalam majas simbolis umum­nya dengan mudah dipahami banyak orang.

Seperti halnya istilah ‘meja hijau, kambing hitam, mata keranjang, lintah darat, hidung belang, dan tulang punggung’, istilah ‘rompi oranye’ mulai dikenal luas dan bisa digolongkan ke dalam majas simbolis. Istilah itu mengacu kepada tahanan KPK.

Istilah itu, menurut penulis, layak untuk masuk ke entri KBBI mengingat khalayak sudah mafhum rompi oranye kerap dikaitkan dengan tahanan KPK.

Komentar