Film

Mendobrak Tabu Perempuan

Sabtu, 2 September 2017 23:01 WIB Penulis: Eno/M-4

DOK. IRAS FILM

PERJUANGAN hidup perempuan yang mendobrak tabu, menjadi istri tokoh terkenal, dan pergulatannya dalam masyarakat menarik untuk diulas. Kali ini ialah perjuangan Siti Walidah atau Nyai Ahmad Dahlan yang difilmkan dengan judul yang sama. Nyai Ahmad Dahlan dikenal sebagai tokoh emansipasi perempuan.

Di awal, film ini menuturkan kehidupan masa kecil Siti Walidah yang dibesarkan dalam keluarga muslim yang sangat taat. Meski masyarakat pada masa itu tidak akrab dengan pendidikan dan bahkan tidak mengaji, Walidah justru kebalikannya. Di masa kecil, dia bahkan akrab dengan posisi perempuan yang saat itu hanya bertugas ‘seolah-olah’ hanya memasak, beranak, dan berdandan. Dalam film Nyai Ahmad Dahlan, ungkapan itu ditekankan berulang-ulang.

Masa dewasa, film drama biopik karya sutradara Olla Atta Adonara ini berganti pemain, Walidah diperankan Tika Bravani dan Kyai Haji Ahmad Dahlan diperankan David Chalik. Keduanya beradu peran dengan sangat seimbang. Meski membicarakan Nyai, Sang Kyai tidak pula berkurang porsinya. Di film ini justru Nyai Ahmad Dahlan digambarkan sebagai pendukung suami yang sedang berjuang mendirikan sekolah Muhammadiyah. Secara aktif dia memberikan materi, waktu, dan tenaga agar mimpi suaminya terwujud.

Pada masa itu sering disebutkan mereka juga menghadapi tentara Jepang. Jepang meminta mereka menyembah matahari. Sayangnya, meski kerap disebut, penampilan Jepang hanya sekelebat. Tidak terlihat bagaimana upaya Kyai dan Nyai bergelut dengan permasalahan penetrasi militer kecuali lewat kata-kata.

Film ini sarat pesan kebaikan semisal toleransi, jangan mudah menyerah, jangan takut miskin untuk kebaikan, dan masih banyak lagi. Tetapi, secara eksekusi pengemasannya terlalu rapuh. Penonton disuguhi dengan petuah-petuah baik, tapi disampaikan dengan cara yang kaku.

Belum lagi adegan Nyai Ahmad Dahlan bercakap dengan Jenderal Besar Sudirman. Mungkin benar pesan yang disampaikan seperti, “Bajumu jangan membuatmu lupa untuk berjuang,” tetapi sangat aneh jika perempuan di masa itu sampai berani menunjuk-nunjuk seorang jenderal besar dan di Yogyakarta pula, di mana sopan santun sangat dijunjung. Apalagi dalam film itu pemeran jenderal besar Sudirman terlihat sangat lemah.

Film produksi Iras Film itu juga kedodoran di sisi musik skoring-nya. Penonton kadang dibuat terkejut dengan musik yang mengagetkan di tengah cerita yang datar. Pada akhirnya, perlu pekerjaan rumah panjang agar film ini nyaman untuk dinikmati hingga akhir. (Eno/M-4)

Komentar