Weekend

Salju Papua di Ujung Usia

Sabtu, 2 September 2017 07:01 WIB Penulis: Briyan B Hendro

MI/BRIYAN B HENDRO

SYAHDAN, pada 1623, Jan Carstensz, pelaut berkebangsaan Belanda yang tengah berlayar dari Ambon ke New Guinea melihat jajaran pegunungan yang sangat tinggi saat melintasi selatan Pulau Papua.

Beberapa titik puncaknya bahkan terlihat putih bak tertutup salju.

Kesaksian tersebut dibawanya saat kembali ke Eropa.

Banyak orang tidak percaya dan mencemooh Carstensz. Bagaimana mungkin daerah di dekat khatulistiwa yang hangat dan beriklim tropis memiliki salju?

Namun, tidak semua orang beranggapan Carstensz mengada-ngada.

Sebagian lainnya menjadikan catatan perjalanan Carstensz sebagai acuan dalam perlombaan menggapai salju di pulau 'Kepala Burung' bertahun-tahun kemudian.

Setelah gagal pada 1907 untuk mencapai gunung es dari sisi utara Papua, peneliti Belanda, Dr HA Lorentz, kembali mencoba misi pada 1909.

Kali itu ia datang dari selatan dengan didampingi JW van Nouhuys dan Letnan D Habbema.

Ia datang dengan 61 tentara dan 82 orang suku Dayak sebagai porter.

Ekspedisi ini berhasil mencapai puncak berketinggian 4.730 mdpl yang kemudian diberi nama Puncak Wilhelmina--kini telah berganti menjadi Puncak Trikora.

Nama Lorentz pun diabadikan sebagai nama taman nasional yang mencakup puncak-puncak bersalju tersebut.

Kesuksesan Lorentz menginspirasi petualang lain untuk menjamah pegunungan salju di Papua.

Ekspedisi Colijn pada 1936 yang beranggotakan Dr Anton H Colijn, Frits J Wissel, dan JJ Dozy berhasil mencapai Puncak Ngga Pulu yang tertutup salju abadi.

JJ Dozy yang juga geolog Belanda kemudian menemukan sesuatu yang menakjubkan, yaitu emas di gunung, yang kemudian dinamainya Ertsberg dan Grasberg.

Meskipun tidak mencapai titik tertinggi, tim ekspedisi pun menamai Carstensz Pyramid untuk titik tertingginya demi menghormati Jan Carstensz sebagai orang pertama yang melaporkan keberadaan pegunungan salju di Papua.

Pada 1962, Heinrich Harrer, penjelajah asal Austria, dan Philip Temple dari Selandia Baru, mencatatkan diri sebagai orang pertama yang menginjakkan kaki di titik tertinggi, Carstensz Pyramid.

Hingga kini, jalur pendakian Philip Temple menuju kawasan Pegunungan Tengah tetap digunakan para pendaki dan dinamai New Zealand Pass.

Puncak bersalju

Ada tiga puncak di Pegunungan Tengah, Papua, yang tertutup salju abadi, yakni Puncak Soekarno atau Ngga Pulu, Puncak Soemantri Bodjonegoro, yang diresmikan kelompok Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI), dan Puncak Carstensz Timur.

Dikatakan salju abadi karena puncak-puncak tersebut selalu tertutup salju kendati musim berubah-ubah.

Di Carstensz Pyramid yang merupakan titik tertinggi malah hanya ada butiran-butiran es.

Itupun menghilang jika matahari bersinar di siang hari.

Saat berpartisipasi pada Ekspedisi Polwan 2017, Media Indonesia berhasil mencapai zona lidah es, terletak di antara Puncak Soekarno dan Soemantri, Kamis (16/8).

Kami perlu mendaki selama 2 jam dari Lembah Danau-Danau yang berketinggian 4.275 mdpl untuk mencapai lidah es di ketinggian sekitar 4.600 mdpl itu.

Meskipun elevasi yang dilahap tidak terlalu tinggi, perjalanan tidak menjadi mudah. Oksigen yang tipis serta cuaca buruk menjadi faktor penghambat terbesar.

Bukan hanya hujan air, tim juga mesti dihadapkan pada hujan butiran es yang menyakitkan di kulit wajah.

Penyakit karena ketidakmampuan tubuh beradaptasi dengan baik di ketinggian atau acute mountain sickness (AMS) turut menghantui.

Sesampainya di lidah es, kami butuh alat untuk pendakian di medan es seperti krampon yang terpasang di sepatu dan kapak es.

Berjalan pun mesti dengan teknik walking together, yaitu tiap orang saling terikat dengan tali agar yang lainnya mampu menahan jika ada yang terjatuh di rekahan es.

Batas antara ujung es dan tanah terlihat membentuk gua-gua kecil. Saat berjalan di atas es seperti ada dua lapisan es.

Bagian atas layaknya es serut, sementara bagian bawahnya berupa lapisan es yang sangat keras dan licin.

Namun, salju di Pegunungan Tengah mungkin tidak lagi abadi.

Menurut kesaksian Maximus Tipagau, 35, warga lokal yang acap bertandang ke Pegunungan Tengah, kondisi es di sana terus menyusut.

"Dulu waktu usia 6 tahun, saat berburu bersama Ayah, dari bawah (setelah Lembah Danau-Danau) saja sudah terlihat warna putih es semua. Bahkan dinginnya terasa sampai di kampung saya, Ugimba," jelas Maximus.

Hendricus Mutter, pendaki senior yang menjadi pemandu Ekspedisi Polwan, menambahkan, pada 2010, es antara Puncak Soekarno dan Soemantri masih menyambung.

"Pada 2015 penyusutan makin terlihat jelas, es antara (puncak) Soekarno dan Soemantri mulai terpisah. Tahun ini makin terlihat jauh dengan jarak lebih dari 20 meter," jelasnya.

Terus menyusut

Kondisi salju Papua yang terus menyusut turut mendorong Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) untuk melakukan penelitian.

Pada 2010, BMKG mengebor zona es inti dan menanamkan pipa sebagai alat pengukur ketinggian es.

Lalu saat penelitian terakhir pada 21-27 November 2016, dengan bekerja sama dengan Divisi Environment PT Freeport Indonesia, ditemukan fakta bahwa es telah menyusut sekitar 5 meter.

Belum ada angka pasti mengenai laju pengurangan tebal dan luasan tutupan es tiap tahun di Papua.

Namun, riset BMKG sebelumnya menunjukkan, pada 1942, tutupan es di Papua seluas 10 km2-11 km2.

Lalu 30 tahun kemudian menyusut menjadi sekitar 7 km2.

Kemudian, pada 1987, luas es sekitar 5 km2. Pada 2000, kurang lebih sekitar 2,5 km2, dan di 2005, luas tutupan es tinggal sekitar 1,8 km2.

Menurut Donaldi Permana, peneliti BMKG yang concern meneliti kondisi es di Papua, penyebab utama pencairan es di sana ialah faktor pemanasan global.

Menurutnya, pencairan es juga terjadi di kawasan pegunungan tropis lain, seperti di Pegunungan Andes di Amerika Selatan maupun Kilimanjaro di Afrika.

"Tapi, eksistensi tutupan es di Papua lebih rentan terhadap pemanasan global karena ketinggiannya lebih rendah dibandingkan dua pegunungan es lainnya di tropis," jelas Donaldi, saat dihubungi Media Indonesia, Selasa (29/8).

Secara fisik, tutupan es di Papua sudah menyusut signifikan dan juga banyak terdapat rekahan-rekahan es.

Penyusutan es berdampak pada meluasnya batuan di sekitarnya.

Alhasil, energi matahari akan lebih banyak terserap sehingga memanaskan es yang masih ada di permukaan.

"Tentunya segala aktivitas pengurangan gas rumah kaca dan pemanasan global seperti pencegahan kebakaran hutan mungkin dapat mengurangi laju penyusutan es di Papua. Tapi, menurut kami, melihat kondisi bumi yang semakin hangat, akan sulit dapat mempertahankan keberadaan es di Papua dalam jangka waktu panjang," ujar Donaldi.

(M-2)

Komentar