Weekend

Keindahannya Seelok Himalaya

Sabtu, 2 September 2017 06:46 WIB Penulis: Bry/M-2

MI/BRIYAN B HENDRO

JAJARAN Pegunungan Tengah Papua memanjang dari barat ke timur membelah bagian tengah 'Bumi Cenderawasih'.

Lembah Baliem memisahkan dua jajaran Pegunungan Tengah Papua, yaitu Pegunungan Jayawijaya di sisi barat dan Pegunungan Sudirman di sisi timur.

Tidak ada pulau di mana pun di dunia dengan pegunungan seluas dan setinggi Pegunungan Tengah Papua.

Pegunungan Himalaya di Asia, Pegunungan Andes di Amerika Selatan, Pegunungan Rocky di Amerika Utara, dan Pegunungan Alpen di Eropa merupakan jajaran pegunungan besar dunia yang semuanya terletak di daratan benua, bukan di pulau seperti Papua.

Bahkan, panjang Pegunungan Tengah di Papua melebihi panjang Pegunungan Alpen di Eropa! Jajaran Pegunungan Tengah Papua terbentuk dari tumbukan Lempeng Australia dengan Lempeng Pasifik 2 hingga 65 juta tahun yang lalu.

Hasil tumbukan dua lempeng itu ialah pegunungan curam yang menjulang lebih dari 4.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Bayangkan, jarak Kota Timika yang berada di pinggir pantai dengan puncak-puncak gunung di atas 4.000 mdpl tersebut hanya selisih ratusan kilometer saja.

Namun, di antara jajaran pegunungan besar di dunia, Pegunungan Tengah Papua relatif masih belum terjamah.

Padahal, potensi ekowisata di wilayah tersebut amat besar.

Umpama, untuk wisata petualangan macam trekking atau hiking.

Seperti Appalachian Trail dan Pacific Crest Trail di Amerika atau kawasan Pegunungan Himalaya di Nepal yang menarik jutaan petualang dari seluruh dunia saban tahun, wilayah Pegunungan Tengah Papua pun berpotensi untuk membangun jalur trekking serupa.

"Ini kekayaan alam negara kita yang luar biasa ya. Sayangnya, mungkin dari sekitar 250 juta penduduk Indonesia, hanya segelintir orang yang bisa melihat keindahan ini," ujar Ketua Tim Ekspedisi Polwan, Tri Suswati Tito Karnavian, yang turut serta trekking di kawasan Pegunungan Tengah Papua, Minggu (13/8).

Ketika kami mengikuti Ekspedisi Polwan menuju Puncak Carstenzs Pyramid, Papua, medio Agustus lalu, sensasi pemandangan dan petualangan yang diperoleh tidak kalah dengan sensasi trekking di kawasan Pegunungan Himalaya.

Kebetulan, dua tahun lalu, Media Indonesia sempat merasakan trekking di kawasan Annapurna, Pegunungan Himalaya.

Bedanya, di Papua semuanya serbabelum jelas.

Jalur trekking belum jelas, sistem perizinannya apalagi.

Faktor keamanan juga menjadi salah satu problem yang urgen untuk diatasi.

Faktor SDM

Pendidikan merupakan hal krusial nan mendasar untuk membangun infrastruktur awal ekowisata di Papua.

Menurut Hendricus Mutter, pendaki senior Indonesia yang sudah belasan kali menyambangi Pegunungan Tengah, banyak warga lokal yang tidak paham soal kedatangan para turis yang melintasi daerah mereka untuk menuju Pegunungan Tengah.

"Pendidikan itu yang paling awal mesti dibenahi. Saya biasa mengantar tamu lewat desa adat, (mereka) selalu keluar uang puluhan juta untuk membayar premanisme," cetus Hendricus saat berbincang dengan Media Indonesia, baru-baru ini.

Ada beberapa jalur desa adat yang dapat dilalui guna mencapai wilayah Pegunungan Tengah, Papua, yaitu via Ugimba, Soanggama, dan Illaga. Namun, gangguan keamanan menjadi kendala utama.

Tradisi 'palang pintu', yaitu menghadang setiap pelintas, lazim terjadi.

"Perlu edukasi dan pemahaman agar warga paham mengenai keberadaan turis ke Papua, khususnya wilayah Pegunungan Tengah," komentar Hendricus.

Maximus Tipagau, warga lokal dari suku Moni yang juga pemilik operator pendakian Adventure Carstensz, menilai ketidakadilan dan keterbelakangan menjadi penyebab warga menghadang tiap orang yang datang.

"Bahkan gerakan separatis di sini saya yakin bisa hilang andai ada keadilan untuk orang Papua. Selama ini, untuk makan saja mereka susah dan tidak ada sekolah," tuturnya.

Padahal, lanjut Maximus, potensi ekowisata di wilayah Pegunungan Tengah Papua sangatlah besar.

Ada berbagai hal yang dapat menjadi pengalaman menarik bagi para pelancong.

"Di sana ada puncak bersalju, padahal daerah tropis. Ada juga Carstensz Pyramid yang jadi bagian dari 7 summit dunia. Seluruh pendaki dunia bercita-cita ke Carstensz," terangnya.

Mereka yang ingin menuju Pegunungan Tengah melalui desa adat pun sejatinya bisa menyaksikan kehidupan warga yang masih tradisional.

Jika ada peristiwa penting tertentu, akan ditemui juga pesta bakar batu--ritual membakar babi dengan batu yang dijadikan sebagai arang.

Porter yang membantu pun unik karena menggunakan noken--semacam tas yang dianyam dari serat kulit kayu--untuk membawa barang bawaan.

Sebelum sampai di Pegunungan Tengah, turis pun akan melewati hutan tropis yang amat lebat nan alami.

"Banyak juga flora dan fauna yang langka, seperti dingiso--hewan sejenis tupai," ujar Maximus.

Sekarang, kondisi infrastruktur menuju wilayah Pegunungan Tengah memang sangat terbatas.

Menuju desa adat di Ugimba saja membutuhkan penerbangan perintis yang tidak setiap hari ada dari Timika atau Nabire dengan tujuan Sugapa. Lalu dilanjutkan dengan berjalan kaki selama sehari penuh.

"Semoga pemerintah mau membuka mata mengenai potensi wisata petualangan di sini. Saya yakin ekonomi warga bisa bangkit jika jalur wisata menuju Pegunungan Tengah sudah jelas dan terbuka untuk umum," harap Maximus.

Komentar