KICK ANDY

Muthia Fadhila Khairunnisa Akrab Literasi sejak Dini

Jum'at, 1 September 2017 23:01 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

(Dari kiri) Dwi Andayani, Nadia Shafi ana Rahma, Muthia Fadhila Khairunnisa, dan Andriyanta. MI/SUMARYANTO BRONTO

BUKAN rahasia, kebiasaan membaca sangat dipengaruhi lingkungan terutama keluarga. Ketika dibesarkan dalam lingkungan yang gemar membaca, anak-anak pun akan mengikuti kebiasaan baik itu. Tak pelak banyak penulis produktif yang lahir dari lingkungan yang paham pentingnya literasi. Kebiasaan bersentuhan dengan buku sejak kecil itu yang membuat Muthia Fadhila Khairunnisa berkarya sejak kecil. Di usianya ke-16 tahun, sudah 37 buku yang ditulisnya. Remaja yang mulai menulis sejak usia 3 tahun itu tidak lepas dari peran sang ibu, Shinta Handini, yang bekerja sebagai editor lepas. Hobi membaca itu merangsang remaja yang dipanggil Thia itu menulis.

Hasilnya ketika duduk di bangku kelas satu sekolah dasar, Muthia dapat dengan lancar membuat ringkasan cerita seminggu sekali. Proses itu berkembang menjadi sebuah blog. Saat kelas 2 SD, Muthia sudah mulai bermain dengan blog. Bahkan ia memublikasikan cerita pendek pertamanya berjudul Chesee Cake is Yummy. "Di sekolah itu enggak ada PR. Pokoknya murid-murid itu meringkas satu cerita satu minggu. Nah ya sudah akhirnya aku mulai meringkas cerita. Dari meringkas cerita itu, memang dari aku kecil aku sudah terbiasa mainan dengan buku. Jadi buku-buku yang dari kardus, yang bisa dibuka-buka, atau pop-up gitu. Itu sudah jadi mainanku sejak kecil," terang Muthia. Kini, sulung dari tiga bersaudara itu melebarkan sayap sebagai penulis skenario untuk film pendek.

Muthia pun memperoleh pin emas penghargaan kebudayaan 2016 kategori anak dan remaja sebagai penulis muda produktif. Menariknya, karya remaja kelahiran Jakarta, 14 Januari 2001 itu, salah satunya, buku None Ondel-Ondel; Jalan-Jalan Seru di Kota Jakarta.
Buku itu bermula ketika ia mendapat permintaan menulis soal Jakarta. Ia mengawali ide penulisan dari pengalamannya yang sering ikut ajang Abang-None Jakarta. Lalu dikembangkan tentang tokoh yang menang perlombaan Abang-None Jakarta dan mendapat hadiah keliling Jakarta. Meski sejak kecil tinggal di Jakarta, Muthia belum pernah ke tempat yang nantinya menjadi latar dalam cerita itu. Penulis cilik terbaik 2011 itu meriset destinasi wisata budaya di Jakarta. Melalui internet, Muthia pun mendapat banyak bahan untuk penulisan.
"Dari internet saja seorang penulis sudah bisa berimajinasi, sudah bisa ke mana-manalah," terang Muthia.

Kumpulan
Berbeda ceritanya dengan Nadia Shafiana Rahma, 13, yang telah menulis 27 buku sejak usia lima tahun. Kegemarannya menulis membuat dia kerap mengikuti ajang lomba menulis di tingkat daerah. Sejak duduk di bangku taman kanak-kanak, Nadia pun telah memulai aktivitas menulis. Dengan kalimat sederhana dan tidak terlalu panjang, tulisan Nadia mampu menembus koran lokal. Tulisannya dimuat di koran minggu. Nadia mulai menulis dengan tulisan tangan. Barulah ketika kelas satu SD, ia mulai menggunakan komputer.
"Kalau menulis yang buat pengalaman yang cuma lima kalimat, enam kalimat di koran lokal sih biasanya. Itu sudah (sejak) lima tahun TK (taman kanak-kanak)," terang Nadia.

"Kalau buat buku kumpulan cerpen yang sudah 45 lembar itu kelas 1 SD," lanjutnya.
Di usia 7 tahun, Nadia mulai menulis cerita pendek. Salah satu karyanya bercerita tentang seorang anak yang sering di-bully dan diejek. Si anak punya hati yang baik yang disimbolkan dengan putih. Ia tidak pernah menyimpan dendam pada anak yang mem-bully. Bahkan, ia pun menjenguk ketika si pem-bully sakit. Berkat karya Si Hati Putih, Nadia terpilih menjadi penulis termuda Indonesia. Bukunya diterjemahkan ke bahasa Inggris dan dipamerkan di Frakfurt Book Fair 2015 di Jerman. Di sana pula Nadia mendonggeng tentang pertama kali nyamuk mendenggung. Cerita itu adalah cerita rakyat yang berasal dari Gunung Kidul, Yogyakarta. (M-4)

Komentar