KICK ANDY

Dwi Andayani Komunitas 1.001 Buku

Jum'at, 1 September 2017 23:31 WIB Penulis: (Zuq/M-4)

MI/SUMARYANTO BRONTO

BUKU adalah jendela dunia. Sayangnya, terbatasnya akses ke bacaan berkualitas membuat kalimat itu menjadi slogan belaka. Keterbatasan akses itu menjadi alasan berdirinya komunitas 1.001 buku. Komunitas yang namanya diambil dari buku Cerita 1.001 Malam itu berharap cerita yang disuguhkan setiap malam itu tidak pernah habis. Komunitas ini pun berharap buku untuk anak tidak pernah habis."Jadi 1.001 itu tidak akan pernah habis bukunya dan kita akan bagikan bukunya ke anak-anak yang membutuhkan di daerah-daerah yang termarginalkan di seluruh Indonesia agar anak-anak tumbuh mimpi-mimpinya seperti di sini," ucap ketua komunitas 1.001 Buku Dwi Andayani yang malam itu mengenakan kaus bertuliskan 'Dan Lihatlah Anak-Anak Tumbuh Bersama Mimpi-mimpinya'.

Komunitas yang berdiri pada 2001 itu menggunakan mailing list, tapi baru pada 2002 mulai mengumpulkan buku. Baru pada 10 Januari 2003 mereka meluncurkan nama 1.001 Buku. Komunitas relawan yang berbasis di Jakarta itu mendukung taman baca anak di seluruh Indonesia. "Jadi menyumbangkan bahan bacaan berkualitas untuk mereka," ujar Dwi. Anggota daring komunitas ini mencapai 5.000-6.000 relawan, tetapi 60-100 orang offline. Semua dari berbagai latar, mulai usia SD hingga orang tua, dengan satu mimpi agar anak-anak Indonesia cerdas dan memperoleh pendidikan tinggi.

"Kami percaya bahwa dengan membaca buku, membuka jendela dunia, kita bisa mengubah masyarakat," ungkapnya. Awalnya buku-buku yang diperoleh komunitas ini dari donasi dan dibeli dari kocek pribadi. Seiring dengan waktu, jaringan meningkat dan donasi pun bertambah termasuk jaringan di Eropa. "Pokoknya kita dikuatkan jejaringnya antarteman, antarrelawan. Jadi setiap bulannya kita mengirimkan 2.000-3.000 buku ke sekitar 30-40 taman baca di seluruh Indonesia," tambahnya. Sebelum buku dikirim ke taman baca, terlebih dahulu buku disortir untuk menentukan kelayakan dan kesesuaian buku dengan anak-anak.

"Ketika datang buku kita sortir. Ini komik ini layak enggak sih untuk anak usia segini. Ini bahan bacaan ini layak enggak untuk anak-anak. Jadi ini memang kita sortir benar-benar baru kita kirimkan," ujarnya. Untuk mendaftar cukup mudah. Cukup mengisi formulir di situs mereka. Komunitas ini tidak membatasi diri untuk buku anak-anak, tapi juga buku bertema keterampilan memasak, menjahit, perikanan, maupun pertanian. "Itu kita kabulkan. Malah kita cari bukunya," tegas Dwi. Tidak sebatas di wilayah aman, komunitas ini juga mendirikan di daerah rawan konflik seperti Poso.

Sempat dicurigai, tapi saat anak-anak nyaman membaca, giliran orangtua mereka yang penasaran. Mereka pun mendatangi taman baca. Ketika melihat anak-anak mereka dapat rukun dan bermain bersama, mereka juga turut serta. "Akhirnya sekarang sudah aman enggak terjadi konflik, bisa berkegiatan bersama," pungkasnya.

Komentar