KICK ANDY

Andriyanta Satu Rumah Satu Perpustakaan

Jum'at, 1 September 2017 23:15 WIB Penulis: (Zuq/M-4)

ANTARA FOTO/Adeng Bustomi

MENJADI guru honorer dengan gaji Rp300 ribu tidak menghalangi Andriyanta untuk menyebarkan manfaat berguna kepada anak-anak. Bersama teman-temannya yang peduli literasi anak, ia menggagas gerakan One Home One Library. Program ini bertujuan agar satu rumah di kampung mempunyai satu perpustakaan. Penduduk kampung menyediakan rak-rak di depan rumah yang akan diisi buku dari Taman Baca Masyarakat (TBM) di Desa Kepek, Saptosari, Gunung Kidul. Kepedulian suami Sri Wahyuni itu akan anak-anak dimulai saat menyelenggarakan bimbingan belajar gratis.

Meski bimbingan dimulai pukul 18.30, anak-anak sudah berdatangan setelah magrib. "Memang anak-anak belajar di tempat saya, belajar gratis. Tahun 2010 kegiatan awal kita mulai," terang Andriyanta yang juga Ketua TBM Kuncup Mekar. Program ini bermula dari kekhawatiran saat anak-anak harus menunggu kepulangannya dari bermain sepak bola. Banyak anak bermain berlarian sehingga dikhawatirkan jatuh. "Akhirnya saya berpikir bagaimana anak-anak ini sebelum saya pulang itu ada yang mendampingi," imbuhnya.
Saat itu ia ditawari untuk mengelola taman bacaan dari PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) yang tidak aktif pascabencana gempa pada 2006.

Pada 2012, ia dipercaya mengelola taman bacaan masyarakat (TBM) Kuncup Mekar yang ada di PKBM. Seiring dengan berjalannya waktu, kegiatan itu semakin diterima masyarakat. Kini program One Home One Library telah berjalan di dua dusun. Dusun pertama yang terbagi menjadi 2 RT mempunyai 50 kepala keluarga yang mempunyai perpustakaan. Sementara itu, 3 RT di dusun lain terdapat 40 kepala keluarga yang sudah memiliki rak dari 72 kepala keluarga. Menariknya, di depan rumah masyarakat muncul beragam tempat buku.

Di antara mereka ada yang hanya memakai ban atau ember bekas. "Waktu itu ada yang membuat dari ember bekas terus digantung. Dari ember bekas terus digantung seperti itu. Ada hikmah juga diekspos media. Langsung itu dibenahi. Dari ember terus ban bekas itu sekarang Alhamdulillah di Dusun Kepek itu sudah wujud kayu," ujarnya. Seluruh pengurus TBM Kuncup Mekar bergerak berdasarkan kerelaan. Tidak ada di antara mereka yang dibayar. "Semua pengurus tidak dibayar, ini kerelaan," pungkasnya.

Komentar