Tifa

Tenggelam dalam Alunan Musik Neoklasismus Rusia

Ahad, 27 August 2017 10:29 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi/M-2

Lagu Tanah Airku karya Ibu Soed yang familier di telinga itu disulap jadi lebih dinamis lewat berbagai variasi pada Konser Jakarta City Philharmonic #6 pada 22 Agustus 2017 di Gedung Kesenian Jakarta. -- MI/Abdillah M Marzuqi

SEPERTI sebelumnya, ­pertunjukan musik klasik malam itu juga diramaikan pengunjung. Banyak di antara mereka yang bahkan rela mengambil tempat di celah kosong antarblok kursi. Gedung itu penuh. Semua kursi telah mendapatkan empunya. Tidak sekalipun tempat duduk dibiarkan tanpa isi. Bahkan, beberapa orang terpaksa mengambil tempat dilorong sayap. Meski demikian, mereka yang duduk dilorong tampak khusyuk menikmati pertunjukan. Tidak terdengar suara berbisik dan gemericik gerak. Seolah mereka bersepakat untuk menikmati alunan musik orkestra yang ditawarkan dari panggung.

Ternyata musik klasik juga punya banyak peminat. Konser malam itu telah membalikkan anggapan mi­ring. Musik klasik tidak elitis, terjangkau, dan dinikmati siapa pun. Kesan itulah yang didapati dalam Konser Jakarta City Philharmonic #6 dalam tema Neoklasismus Rusia yang diaba Budi Utomo Prabowo. Konser itu diadakan pada 22 Agustus 2017 di Gedung Kesenian Jakarta.

Konser musik klasik kali ini membawakan karya dua komponis Rusia dan satu komponis Indonesia. Mereka Igor Stravinsky (1882-1971), Sergei Prokofiev (1891-1953), dan Joko Suprayitno. Sebab, dalam konser ini, karya musik simfonis anak bangsa menjadi prioritas untuk dihadirkan dalam setiap edisi pementasan. Karya itu berdamping­an dengan raksasa-raksasa musik simfonis dunia yang sudah lebih dulu menggaung di bangsal-bangsal legendaris sejagat.

Semangat kemerdekaan
Kali ini, sesuai dengan bulan kemerdekaan, komposisi gubahan Joko Suprayitno dipilih untuk di­tampilkan. Joko Suprayitno mengubah lagu Tanah Airku karya Ibu Soed yang mengangkat lagu yang bermakna kecintaan dan kebanggaan bangsa Indonesia terhadap Tanah Airnya. Lagu Tanah Airku karya Ibu Soed digubah dalam format variasi untuk klarinet dan orkestra.

“Ini kita pilih karena masih berhubungan dengan kemerdekaan,” terang pengaba sekaligus Komisaris Jakarta Philharmonic Budi Utomo Prabowo.

Karya itu untuk pertama ­kalinya diperdanakan Jakarta Concert ­Orchestra pada 19 September 2012 di Aula Symphony Jakarta.

Variasi Tanah Airku terdiri atas delapan bagian yang masing-­masing memiliki nuansa dan teknik ­permainan berbeda-beda. ­Virtuositas klarinet pada tempat-tempat tertentu ditonjolkan selain dari bagian cadenza.

Seperti pada bagian ketiga yang menggabungkan rangkaian triol dan duol dalam not seperenambelasan. Ini membutuhkan teknik permainan klarinet yang tinggi. Variasi keenam dan ketujuh dalam C minor (Adagio) memiliki nuansa sangat kontras jika dibandingkan dengan tema-tema sebelumnya.

Meskipun dalam tempo lambat, unsur kekuatan permainan klarinet tetap ditonjolkan. Pada variasi kedelapan (allegro moderato), tema Tanah Airku diolah dengan motif-motif imitatif.

Tema musikal secara figuratif diikuti sekelompok biola yang memberi atmosfer dialog bersahut-sahutan, hidup, dan lincah.

Jakarta City Philharmonic (JCP) berupaya menghadirkan repertoar musik klasik dunia kepada masya­rakat. Musik bermutu menjadi terjangkau, tidak elitis, dan mudah disentuh guna memperkaya kehidupan kultural masyarakat yang sehat sekaligus memberikan kesempatan mendapatkan pengalaman pribadi akan betapa kuatnya pengaruh musik dalam jiwa.

“Karena ada komitmen selalu harus ada karya Indonesia,” terang Budi Utomo Prabowo. (Abdillah M Marzuqi/M-2)

Komentar