Tifa

Menangkap Makna dengan Digital Intuitif

Ahad, 27 August 2017 10:29 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

Pengunjung mengabadikan karya foto Arif Datoem pada Pameran Tunggal Fotografi Seni bertajuk Lumina Sense Envisage (Muara Observasi, Refleksi) di Galeri Nasional, Jakarta, Senin (21/8). -- MI/Abdillah M Marzuqi

KARYA terbingkai itu memang tidak hanya terdiri dari satu gambar, tetapi terdapat beberapa gambar yang saling mengisi. Potongan dari setiap gambar terlihat jelas. Gambar tangan bersilang dengan golok besar. Telapak tangan menempa bilah golok. Jemari bergesekan dengan sisi golok yang berkilat. Lidah yang lunak menjulur dan bertemu dengan tajamnya golok.

Gambar-gambar itu bersusun menjadi satu rangkaian dalam karya berjudul Bedog Aing (2010) karya Arif Datoem. Karya itu menjadi salah satu yang dipamerkan dalam pameran tunggal fotografi Lumina Sense Envisage di Galeri Nasional Indonesia pada 21-31 Agustus 2017. Pameran itu dikuratori Sudjud Dartanto.

Menariknya, di antara karya Arif Datoem, banyak berupa banyak foto yang dibingkai menjadi satu seperti kolase. Setiap gambar seolah menyajikan pesan masing-masing. Pesan itu tidak harus dibaca dari setiap gambar. Sebaliknya, setiap potongan ialah bagian tak terpisah dari pesan besar yang ingin di­bangun. Pesan itu ialah tentang sebuah nilai yang melampaui batas diri dan jalinan visual.

Bedog Aing pun demikian. Karya itu merupakan salah satu dari bebe­rapa seri tentang tradisi debus yang terdapat dalam budaya masyarakat Banten. Masyarakat sering kali melihat debus secara fisik sebagai aksi kekebalan tubuh. Namun, ternyata penampilan fisik hanyalah bagian kecil dari debus. Debus juga meng­ajarkan banyak hal selain kekebalan tubuh. Lebih dari sekadar ilmu kebal dan unjuk kesaktian. Karya itu ingin menyampaikan perihal debus dalam pemahaman Arif. Untuk memahami nilai dan bersampai pesan dalam karya, ia membutuhkan waktu yang tidak sebentar. “Butuh waktu hampir tiga tahun hanya untuk melihat apa konsep tak terkalahkan di dalam debus Banten. Setelah itu, saya menemukan bahwa pemahaman debus kemudian didefinisikan sebagai cara hidup yang mendorong ketakadaan fisik dan keterbentukan spiritual sebagai teladan berdasarkan praktik syariah dan tarekat di dalam iman,” terang Arif.

Menurut kurator pameran Sudjud Dartanto, karya seni Arif Datoem menghubungkan orang dengan misteri, pesona, tempat, dan budaya, serta saling hubung dengan waktu untuk menjembatani jurang antara citra yang ada di dalam foto dan orang-orang yang melihatnya.

Memotret ialah sebuah aktivitas, tapi yang penting ialah memahami mengapa kita memotret, apa arti­nya, paling baik digunakan untuk apa, bagaimana hal itu ­memengaruhi realitas kita. “Semua ini sebenarnya jauh lebih utama daripada sekadar pengambilan gambar dan ini ada dalam semua karya seni foto Arif Datoem,” terang Sudjud.

Sudjud juga menyatakan Arif Datoem cenderung merenovasi, merakit ulang, mengubah, rekondisi, dan memperbarui gambar yang dia ambil selama proses pengideannya. Arif sangat terlibat dalam tahap rekoleksi dan refleksi dengan cara kontemplatif sebelum memperkenalkan pernyataan visual yang benar-benar berbeda. Modus digital intuitif Arif melalui spiritualitas, nalar, dan imajinasinya memainkan peran penting dalam tahapan kontemplasi dan pengidean.
Profesionalisme dan kompetensi

Aktivitas inilah yang selama ini dilakukan Arif Datoem selama hampir tiga dasawarsa untuk mengisi realitas bagaimana profesionalisme dan kompetensi seorang fotografer, dan ini tidaklah sekadar mencapai tingkat akademis tertinggi.

Itu pula yang mendasari pameran ini. Tema Lumina sense memiliki arti simbolis sebagai bagian dari alam semesta dan bagian dari kehidupan. Indra sebagai wahana persepsi memainkan peran penting dalam membuka dan memahami fenomena universal. Lumina Sense Envisage bagi Arif Datoem ialah muara observasi, refleksi, serta pengabdiannya dalam fotografi selama 35 tahun. “Lumina Sense Envisage adalah muara ­observasi, refleksi, serta pengabdian saya dalam fotografi selama 35 tahun keterlibatan saya di bidang ini,” ujar Arif.

Bagi Arif, hidup dengan fotografi ialah perjalanan transendental dalam mengeksplorasi ruang dalam entitas pengetahuan sebagai subjek secara alami. Hidup dengan cara itu dilakukan dengan melalui pendekatan emosional dan pendekatan nalar.

“Melihat selalu menjadi cara untuk mengetahui dan fotografi adalah sebuah disiplin untuk melihat,” sambungnya.

Arif memaknai fotografi lebih dari sekadar jepret-jepret. Fotografi secara substansial mencurahkan metode dan juga konstitusi pemikiran dan perasaan ke dalam proses melihat, untuk mendapatkan suatu keadaan yang sangat signifikan dari keberadaan subjeknya. Untuk itulah, Arif selalu berusaha menghindari segala bentuk penetrasi atau intervensi terhadap hasil foto.

“Melalui medium saya, saya ingin subjek saya berbicara apa adanya karena ini adalah tentang realitas dan gelombang makna visual yang mereka pegang,” terangnya.
Ia pun menelusuri setiap niat dan makna yang ada pada saat berada dekat dengan subjek, sekaligus secara intuitif menangkap esensinya melalui akal dan rasa. Itu kemudian diwujudkan dalam karya seni sebagai gagasan baru.

Arif mengomunikasikan esensi dan nilai. Ia tampil lebih banyak sebagai seorang menangkap penggambaran daripada menjadi seorang fotografer. Subjek foto dengan sendirinya akan menyingkap makna yang ada padanya, sedangkan Arif terlibat sebagai penangkap gambaran makna dan nilai tersebut.

“Gambar-gambar ini tidak diciptakan, tetapi diperoleh melalui pemrosesan fisik, mental, dan spiritual,” pungkas Arif Datoem. (M-2)

Komentar