Jeda

Kolaborasi Mengikis Kusta di Madura

Ahad, 27 August 2017 08:28 WIB Penulis: Mohammad Ghazi/M-1

Petugas mengobati pasien kusta di Sampang, Madura, Jawa Timur. Guna mengatasi stigma, kusta juga diperangi dengan jaringan yang melibatkan penyandang hingga tokoh Agama. -- MI/M. Ghozi

MARWIYAH, 41, (bukan nama sebenarnya), tidak pernah menyangka anaknya, Nono, 18 tahun, (juga bukan nama sebenarnya), akan terkena penyakit yang selama ini ia takuti, kusta. Anak semata wayangnya itu terdeteksi menderita penyakit tersebut sejak kelas 5 SD.

Suami perempuan itu meninggal dunia 14 tahun lalu dengan tubuh didera kusta. Semula Marwiyah enggan memeriksakan Nono ke puskesmas lantaran tak punya uang, pun tak kuasa menahan risiko hukuman sosial.

"Lamun anak kuleh etemmoh sakek lepra, pas ejheuih bik tatanggheh (kalau anak saya diketahui mengidap lepra, pasti akan dikucilkan)," katanya dalam bahasa Madura kepada Media Indonesia yang mendatangi rumahnya di salah satu desa di Kecamatan Robatal, Kabupaten Sampang, Jawa Timur, Sabtu (29/7).

Nano pun mendapat obat cuma-cuma, yang harus ia minum secara rutin selama enam bulan. Pemuda yang tidak melanjutkan sekolah setelah lulus SD karena malu dengan penyakitnya itu dan beraktivitas mencari pakan ternak di sekitar rumahnya tersebut akhirnya dinyatakan sembuh.

Jejak kusta terlihat pada kelingking dan jari manisnya yang bengkok. Nono kini bertolak ke Malaysia, menjadi pekerja migran.

Hambatan kultural
Kusta di Robatal, juga kantong-kantong penyakit ini di berbagai penjuru Nusantara, menjadi mimpi buruk, bukan cuma karena efek kesehatannya, melainkan juga mitos kultural yang menyertainya. Kusta dianggap sebagai aib dan kutukan sehingga penderitanya terpuruk, tak berdaya.

"Di sini lepra dianggap penyakit bhastoan (kutukan) yang tidak bisa disembuhkan," jelas Marwiyah.

Tamsul, aktivis Jaringan Kawal Jawa Timur (Jaka Jatim) yang bergiat pada pencarian penderita baru penyakit yang memiliki risiko penularan cukup tinggi itu, sering terkendala karena keluarga menutup-nutupi.

"Kami melakukan pendampingan sejak 2015 lalu dengan biaya operasional swadaya," kata Tamsul ketika ditemui di Sampang, Minggu (30/7).

Madura merupakan salah satu penyumbang angka penderita kusta terbesar di Jawa Timur. Setidaknya 35% penderita penyakit lepra di provinsi itu berasal dari empat kabupaten di Madura, yakni Sumenep, Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan.

Yang mengkhawatirkan data awal 2017 menunjukkan tingkat prevalensi kusta di wilayah itu cukup tinggi. Di Sumenep, daerah dengan jumlah penderita terbanyak di Madura, prevalensi per 10 ribu penduduk masih mencapai 4 sampai 5 orang. Padahal, angka idealnya di bawah 1:10 ribu penduduk. Demikian pula tiga kabupaten lainnya.

Kondisi itu membuat Madura berada di zona merah kusta, atau daerah yang memerlukan perhatian khusus karena jumlah penderita tinggi. Sejauh ini belum ada penelitian tentang penyebab tingginya jumlah penderita kusta di daerah itu.

Pasien cari pasien
Upaya serupa juga dilakukan Khairil Anwar, 44, Koordinator Program Penanganan Penyakit Menular Sampang, yang juga petugas Puskesmas Cemplong, yang juga berpacu melawan stigma kusta. Ia terjun sejak 2012 saat ditugasi di bagian penanganan pada penyakit menular.

Sejak saat itu ia mulai blusukan ke kampung-kampung untuk menemukan penderita baru, untuk sekadar mendata dan memfasilitaskan pengobatan.

"Mereka tertutup dan tidak mengaku seakan kedatangan saya membawa petaka bagi mereka. "Mereka lebih berani menanggung penyakit karena takut malu," jelas Khairil.

Hingga akhirnya ia bertemu Jupri, 55, yang saat itu menderita penyakit tersebut dan bersedia menjadi relawan, mencari, mendekati, dan meyakinkan penderita lain bahwa penyakit yang diderita bisa disembuhkan. "Sayangnya, Pak Jupri meninggal dunia setelah cukup banyak membantu saya," kata dia seraya mengakui sempat khawatir akan tertular. Namun, dengan bekal pemahaman medis dan tingginya dorongan untuk membantu sesama, ia tetap berkomitmen untuk itu.

Kini jumlah anggota binaan Khairil dan timnya sudah 30 orang, mantan penderita, dan penderita tengah berobat. Istimewanya, mereka aktif membantu mencari penderita baru untuk diajak berobat.

Diobati, diberdayakan
Tak cuma pernyataan sembuh dari dokter, pendampingan juga perlu dilakukan hingga mantan penderita diterima kembali di lingkungan sosialnya. "Ini tahapan paling sulit karena jika mereka jualan makanan, tidak akan laku," kata Khairil yang berkolaborasi dengan lembaga swadaya masyarakat serta tokoh agama di desa-desa yang jadi tempat tinggal penderita kusta.

"Kami bahkan mendekati kepala desa agar mantan penderita kusta dilibatkan di pemerintahan atau kegiatan-kegiatan desa. Sementara penderita dan mantan penderita diberi pelatihan usaha mandiri agar bisa memulai hidup baru. Juga, ada semacam forum diskusi sesama penderita untuk meningkatkan rasa percaya diri yang selama ini luntur," kata Khairil. (Mohammad Ghazi/M-1)

Komentar