Pesona

Peradaban Nusantara dan Shibuya

Ahad, 27 August 2017 06:16 WIB Penulis: Suryani Wandari

MI/Adam Dwi

GAUN panjang ala jubah itu sekilas hanya kental dengan nuansa resor. Sebabnya ialah motif bergaris besar berwarna biru-putih, ditambah lagi tiga simpul tali sebagai kancing di bagian depan.

Namun, busana itu sesungguhnya juga sarat kisah. Hal itu ada pada material kain lurik yang digunakan.

Demikianlah yang disuguhkan Edward Hutabarat lewat peragaan busana bertajuk Tangan-Tangan Renta di Plataran Ramayana, Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Rabu (23/8). Dalam peragaan yang juga serangkai dengan pameran fotografi, video, hingga instalasi tersebut, Edo panggilan akrab sang desainer menonjolkan lurik.

Lurik memang bukan barang baru bagi Edo. Desainer yang sudah lebih dari 35 tahun berkarya ini setidaknya sudah 7 tahun mendalami lurik.

Dalam konferensi pers sebelum peragaan, Edo melihat lurik mencerminkan kehidupan bangsa, khususnya di wilayah Klaten dan Yogyakarta. Seperti juga batik, lurik kerap dibuat untuk merepresentasikan tahapan kehidupan, mulai kelahiran hingga kematian.

"Itu peradaban. Kain tradisi hadir dalam setiap fase kehidupan penting seorang manusia. Proses pembuatannya pun melibatkan banyak perajin yang penuh cinta dan dedikasi. Itu mengapa saya katakana sebagai kain peradaban karena terdapat cerita pada setiap lembarnya," kisah Edo.

Lewat peragaan ini pula Edo bermaksud meningkatkan kesadaran untuk melestarikan lurik di kalangan generasi muda. Salah satunya dengan menonjolkan lurik dalam busana.

Terlebih, menurutnya, lurik memang memiliki daya tarik dan pesona tinggi. Sebab itu, lurik dapat bersanding dengan merek apa pun.

Penggunaan lurik ini pada selanjutnya akan mendorong terus lahirnya generasi perajin lurik. Sekarang ini perajin lurik umumnya sudah berusia lanjut. Sementara anak muda tidak begitu tertarik menjadi perajin lurik.

Kamuflase seperti di Keramaian Shibuya

Di peragaan lainnya, yang berlangsung di awal Agustus, potret peradaban juga menjadi inspirasi koleksi. Hanya, di koleksi milik Tri Handoko tersebut, peradaban yang ditonjolkan ialah peradaban sibuk di Jepang, tepatnya di kawasan Shibuya.

Di kawasan yang memang dikenal sebagai pusat perbelanjaan ini, ada sekitar dua juta orang lalu-lalang setiap hari. Beragam aktivitas dan pertukaran informasi terjadi begitu cepat setiap detiknya. Tanpa ada kata yang saling terlontar, manusia saling berkomunikasi melalui tatap dan gerak.

Fenomena itu pun ditangkap Tri Handoko. Membawa label Austere by 3 Handoko, pria yang menjabat creative director di label itu mengangkat sisi humanisme Shibuya.

"Inspirasi ini datang dari beberapa bulan yang lalu setelah melakukan perjalanan ke Jepang. Kebetulan saya tinggal dekat dengan persimpangan Shibuya. Ya, ini social experince yang saya rasakan sendiri," kata Handoko dalam konferensi pers, di Qubicle Center, Senopati, Jakarta Selatan, Rabu (9/8).

Handoko memilih warna-warna natural untuk koleksi busana uniseks ini, seperti cokelat, hijau, biru muda, abu, dan putih. Dengan siluet lebih modern nan klasik, busana ini hadir dalam blazer, celana baggy, luaran, trench coat, hingga shirt dress.

Rancangannya pun tampil dengan beberapa motif seperti garis horizontal. Garis ini dimasukkan untuk mencerminkan persimpangan yang sibuk. (*/M-3)

Komentar