Travelista

Tersihir Energi sang Samurai

Ahad, 27 August 2017 05:01 WIB Penulis: Zico Rizki

MI/ZICO RIZKI

MATAHARI sudah mulai mengambil alih terangnya pagi di Shizuoka, Jepang. Saat itu pukul 07.00. Hari itu Maeda, kawan yang mendampingi kami menjelajah, tidak memberi tahu kami ke tempat mana kami dibawa.

Setelah lebih dari setengah jam mengitari Kota Shizuoka yang sepi di pagi hari, kami mencapai jalan yang terus menanjak dan meliak-liuk. Beberapa menit, yang bisa kami lihat ialah rumah warga dan bukit yang dipenuhi pohon pinus.

Namun, setelah panorama itu hilang, mata segar sekali melihat hamparan perkebunan dan sawah yang tertata rapi dengan lanskap pegunungan. Saat posisi sudah mulai meninggi, lanskap gedung-gedung di Kota Shizuoka terlihat.

Namun, tak lama kemudian, hutan pinus yang lebat dan menjulang tinggi mulai mengerubungi pandangan mata. Saking lebatnya, sinar matahari pagi hanya sedikit menerobos untuk menyinari jalan.

Tak sadar, sekonyong-konyong muncul pemandangan 'sang Fuji' yang megah di depan mata, lebih besar ketimbang Pantai Miho. Namun, hanya sebentar saja kami melihat sensasi kebesaran Fuji karena kembali terhalang rimbunnya pinus.

"Segala pemandangan ini merupakan wisata lanskap Nihondaira yang dikenal sebagai dataran tinggi ketika wisatawan dapat melihat satu paket pemandangan, terdiri atas perkebunan, Kota Shizuoka, hutan pinus, perbukitan, dan Gunung Fuji," ujar Maeda.

Letak kawasan ini yang berada pada ketinggian 308 meter dpl menjadikannya sebagai ikon pariwisata kebanggaan Shizuoka, bahkan Jepang!

Menggantung di atas hutan

Kami kemudian berhenti di sebuah kompleks tempat parkir dengan sederet toko cendera mata dan penganan yang baru dibuka. Sejauh mata memandang sepertinya itu merupakan salah satu bukit tempat menikmati indahnya pemandangan Nihondaira.

Berjalan pelan di depan, Maeda memandu kami memasuki bangunan putih dan abu-abu. Tak lama setelah masuk, kami tiba di lorong menurun dengan banyak anak tangga.

Tangga demi tangga menurun kami susuri. Sesaat Maeda menghampiri jendela dan membelikan sebuah tiket bertuliskan tulisan kanji.

Di ujung, bertemulah kami dengan sebuah pelataran yang dikerumuni banyak orang. Beberapa struktur tiang serta kabel raksasa menyita pemandangan, menjulang di atas hutan. Sebuah kereta gantung perlahan menanjak menghampiri antrean pengunjung.

Pemandu wisata menyapa dengan bahasa Jepang yang lantang, menyambut masuknya pengunjung dalam kereta gantung dengan kapasitas sekitar 30 turis. Tarifnya 1.100 yen.

Seusai pintu tertutup, kereta gantung berjalan menurun, perlahan melintasi pemandangan hutan belantara di bawahnya. Sekitar 10 menikmati dan merasakan sensasi perjalanan menggantung di atas hutan belantara. Setiba kami di ujung perjalanan, sejumlah anak tangga yang menjurus ke dalam hutan menyambut.

Tempat persemayaman

Di ujung anak tangga, pendeta Shinto dan wisatawan berlalu lalang melintasi gerbang besar. Kami harus menaiki puluhan anak tangga batu, hanya ada potongan bambu yang bisa dipakai untuk membantu menopang tubuh. Sebelumnya, kami harus membayar tiket 500 yen.

Gerbang berwarna dominan merah itu bernama Gerbang Romon. Di kedua ujung sisinya tersimpan dua patung pemanah, yakni Udaijin dan Sadaijin yang diyakini merupakan tokoh penjaga bangunan.

Kunozan Toshogu, begitulah nama dari bangunan yang begitu disakralkan masyarakat Shizuoka dan masyarakat Jepang itu.

Bangunan itu merupakan kompleks kuil persemayaman sang samurai sekaligus salah satu Shogun termasyhur Jepang, Ieyasu Tokugawa.

Kala kami melintasi gerbang Romon, terlihat beberapa struktur yang didominasi batu. Sangat berbeda suasana dan udara sebelum dan sesudah melewatinya.

Anda akan merasakan suasana yang lebih sejuk dan perasaan tenteram. Terdapat sebuah bak kayu berisi air untuk menyucikan diri bagi penganut aliran Shinto, tapi juga dapat dikonsumsi pengunjung. Saya menikmati betul kesegarannya.

Kunozan Toshogu pada dasarnya dibuat dengan bertingkat-bertingkat. Kami berkali-kali menemukan anak tangga batu hingga mencapai ujung kompleks kuil itu.

Di tingkat selanjutnya, terlihat pohon ume dan sakura dengan bunga yang indah, merah muda, dan putih. Terdapat pula sejumlah rumah tradisional kuno alias Haiden dengan akses terbatas, tampak sangat terawat dan sebuah dinding dari susunan drum sake bertulisan kanji.

Terdapat Haiden yang berbeda dari lainnya di sini. Di pelatarannya, para perempuan berkimono menjajakan mochi dan cendera mata. Di salah satu bagiannya, terdapat ruangan yang rapi dengan ornamen dan pajangan yang disebut sebagai koleksi pribadi 'sang Shogun'.

Istilah terbatas itu bukan berarti tidak bisa dimasuki. Jika pengunjung membeli salah satu camilan atau cendera mata dari para perempuan berkimono, Anda mungkin diajak melihat dalam ruangan, bahkan berfoto.

Terpapar energi positif

Bangunan utama di kompleks kuil ini berwarna merah, hitam, dan emas dengan arsitektur bergaya Gongen dan ukiran yang teramat indah, dan menjadi pusat keramaian. Harum dupa menguar dan terdengar lantunan mantra yang khidmat.

Beberapa warga lokal melemparkan koin, membunyikan lonceng, serta mengepalkan tangan, berdoa menghadap ke dalam kuil Shinto itu.

Lanjut menelusuri jalan setapak menanjak, Anda akan bertemu akhir kompleks kuil di tengah hutan itu. Terdapat kawasan yang didominasi bebatuan, tersusun seperti candi, menampilkan sebuah struktur berbentuk lonceng dari tembaga. Itulah Shinbyo, tempat tubuh sang Shogun bersemayam.

"Dalam kuil yang masyhur itu, ada energi positif yang sangat besar. Siapa pun, setelah menjelajahi Kunozan Toshogu, dia akan merasa tubuhnya ringan serta terbebas dari energi dan pikiran jahat. Penganut Shinto percaya, spirit samurai yang besar dari sang Shogun masih tersimpan di sana. (M-1)

Komentar