MI Muda

Petani Digital, dari Ponsel Pantau Kebun Cabai

Ahad, 27 August 2017 04:31 WIB Penulis: Iis Zatnika

DOK HABIBI GARDEN

Pekan-pekan terakhir menuju September ini, kesibukan di kantor Habibi Garden di kawasan Kayuringin, Bekasi, Jawa Barat, mencapai puncaknya. Namun, kerja keras bukan terjadi di balik monitor komputer, tujuh anggota tim berbagi tugas, Irsan Rajamin, sang pendiri, berfokus pada produksi sensor yang rencananya akan diproduksi 1.000 unit. Ada pula, tim lapangan yang mengawal kinerja kebun percobaan cabai di Desa Pasir Cina, Cipanas, Cianjur, Jawa Barat.

Sensor, cabai, dan aplikasi dikorelasikan Habibi Garden. Jika di Cianjur, masih berupa uji coba, pada awal September mendatang, kerja riset, teknologi informasi, rekayasa perangkat keras, lunak, teknik pertanian, sosialisasi dengan petani serta berbagai lingkup kerja mereka akan diimplementasikan. Ada 300 meter green house atau rumah kaca yang dijadikan kebun pembibitan serta 3 hektare kebun pembesaran, masing-masing di Kalianda, Lampung, serta Garut, Jawa Barat yang akan menjadi pembuktian kinerja inovasi mereka.

"Aku sendiri lagi fokus ke sensor, walaupun jumlahnya banyak, 1.000 unit yang dibutuhkan, tantangannya bukan ke soal produksi, karena buat vendor, jumlah sebanyak itu enggak jadi masalah.

Desain sistem kerjanya yang harus dipastikan betul, karena sensor inilah yang menjadi salah satu kunci dalam kerja perangkat pertanian presisi yang kami tawarkan," ujar Irsan Rajamin, 28, lulusan STT TElkom, Bandung, kepada Muda, Kamis (24/8)

Bersama Dian Prayogi, 28, alumnus ITB, kawan satu SMA-nya, Irsan mendirikan Habibi Garden, start-up yang disebutnya, memungkinkan petani melakukan kerjanya lebih efisien, pun memacu hasil panen hingga 200%. Dengan menargetkan petani sebagai bagian dari masyarakat digital, teknologi mereka menjadi salah satu dari tiga terbaik The NextDev 2017, kompetisi dan ajang inkubasi start-up pengembang aplikasi digital yang digagas Telkomsel yang diikuti sekirtar 1.000 start-up.

Sensor dan otomatisasi

Berfokus pada pengembangan Internet of Things (IOT), Irsan mengklaim Habibi Garden memanfaatkan sensor realtime untuk mengatur intensitas cahaya, kelembaban, dan tanaman nutrisi. Perangkat ini mengumpulkan informasi, mengolahnya dan memandu kerja sistem pengairan, pemupukan serta berbagai peranti lainnya dalam sistem kerja otomatis. Selain itu, ada pula petunjuk bagi petani untuk melakukan berbagai kegiatan yang perlu dilakukan manual, seperti membersihkan lahan dari gulma.

Petani yang menjadi salah satu bagian dari masyarakat digital, kata Irsan, menjadikan desa cerdas, smart rural. "Di Jepang, Amerika, teknologi ini sudah biasa diterapkan petani di sana, untuk menerapkannya di Indonesia, agar efisien dan sesuai kondisi, harus dikembangkan developer lokal, di sinilah Habibi Garden berusaha memberikan dampak," ujar Irsan yang kini membagi kerja timnya di bidang perangkat keras, mobile development, web development, binsis, keuangan, teknis pertanian hingga tim lapangan.

Bermitra dengan Telkomsel, kata Irsan, mereka kini menjalankan project Petani. Di Garut bertanam kentang, sedangkan di Lampung, membudidayakan cabai TW dan keriting. Istimewanya, kolaborasi pun dilakukan dengan start-up lainnya, Eragano, yang lolos hingga tahap 20 besar.

"Kami sebagai solusi teknologi pertanian, mulai produksi hingga pengembangan infrastruktur, Telkomsel yang mendanai sedangkan Eragano fokus ke penjualan hasil panen dan pembinaan petani. Kolaborasi ini melatih kami, para start-up, untuk bersinergi supaya dampak yang dihasilkan lebih maksimal," ujar Irsan.

Mekanisme kerja

Mekanisme kerjanya, lanjut Irsan, sensor mengirimkan informasi tentang kondisi tanaman, di antaranya, temperatur, kelembababan tanah, keasaman, intensitas cahaya, hingga nutrisi. Informasi itulah yang kemudian memacu kerja sistem kontrol yang mengotomatisasi berbagai kegiatan dan peranti, mulai penyiraman, pengaliran pupuk cair, hingga pengaturan kelembaban udara.

"Karena kini petani menghadapi banyak tantangan, mulai perubahan iklim hingga situasi pasar, sehingga intervensi teknologi menjadi tak bisa dihindarkan. Selain otomatisasi, sistem kami juga akan memberikan panduan bagi petani lewat ponselnya, dengan sistem yang sederhana.

Sistemnya, petani atau pengusaha agribisnis dapat mengetahui kondisi kebunnya bahkan dari luar kota, melalui sambungan internet. Gateway, cloud dan koneksi internet, inilah kuncinya," ujar Irsan yang menyebut konsumsi datanya, 2 kb per 15 menit .

Buat mengungkit agar petani digital tak cuma ada di Garut dan Lampung, kata Irsan, memang diperlukan kontribusi pihak ketiga. Kontribusi serupa, yang diberikan Telkomsel, diproyeksikan, kedepannya, dapat dihimpun dari crowd funding. Kehadiran Habibi Garden akan menghubungkan kepentingan para pemberi dana tentang transparansi dan kecepatan laporan, juga akuntabilitasnya, dengan para petani sebagai pelaksana di lapangan.

The NextDev Academy

Intervensi teknologi, kata Irsan yang juga melalui tahapan The NextDev Academy, ajang untuk mengasah dan mempertajam kualitas aplikasi, untuk meningkatkan keterampilan riset, business model hingga branding, akan mengatrol kemampuan petani.

"Kementerian Pertanian itu punya petani-petani champion, yang kemudian kami jadikan sebagai mitra, karena biasanya, jika petani yang sukses, dan biasanya sekaligus adapatis itu bisa sukses dengan Habibi Garden, untuk mendekati petani di sekitarnya, akan lebih mudah.

Nah dengan sistem kami, untuk menjadi petani champion, dengan pengalaman 25 tahun, itu bisa dicapai petani muda atau baru sekali pun," ujar Irsan yang mengagendakan ke depannya, aplikasi Habibi Garden berkolaborasi dengan petani didasarkan sistem bagi hasil dengan petani.

Bukan cuma dana, kontribusi Telkomsel juga berwujud koneksi yang baik. "Makin lancar koneksinya, dengan broadband, tentu makin bagus. Petani punya ponsel, tak perlu yang hi-end, yang penting Android, dan terhubung dengan internet. Perangkat keras yang ada, selain sensor, juga ada kontroler 10 unit, IT camera, repeater, serta access point," kata Irsan. Sementara peranti teknis pertanian, berupa pipa irigasi, menara air, pompa serta sistem pemupukan cair. Semua investasi peranti lunak dan keras itu, kata Irsan, diproyeksikan akan kembali selama 1,5 tahun atau tiga kali panen.

Mentor dan kunjungan kerja

Proyek Petani Kolaborasi dengan Telkomsel ini, pun, berbagai pelatihan, forum diskusi, mentoring, penjurian hingga studi lapangan ke Swiss dan Perancis pada tanggal 21-28 Februari telah memantapkan agenda kerja Habibi Garden. Membukukan untung dari sektor perkebunan korporasi, dan melakukan dampak pada petani.

"Yang didapat dari diskusi di Swiss dan Paris, dengan para pelaku start-up di sana, model bisnisnya hampir sama, kami termasuk dalam start-up yang harus fokus pada pengembangan produk, bukan mengumpulkan sebanyak-banyaknya user, pelajaran lainnya, curi perhatian untuk melakukan perubahan, sosialisasi, dan publikasi sangat diperlukan," kata Irsan yang optimisis, ke depan Habibi Garden bisa diadopsi hingga ke Sumatra, Sulawesi, hingga Nusa Tenggara Timur. (M-2)

Komentar