Gaya Urban

Bela Diri Perlawanan Filipina

Ahad, 27 August 2017 01:01 WIB Penulis: Fario Untung Tanu

MI/SUSANTO

DENGAN baju pelindung tubuh yang tebal dan berleher tinggi, dua pria itu sekilas seperti samurai yang sedang bertarung. Namun, kesan tradisional tidak juga kuat karena mereka menggunakan celana pendek ketimbang celana panjang ala samurai.

Tidak hanya itu, yang paling membedakan dari pertarungan samurai ialah suara kayu yang beradu. Tak tok tak tok tak tok.... Begitu suara nyaring saat tongkat kayu mereka beradu.

Stick fighting, demikianlah sebutan olahraga bela diri yang sedang dimainkan dua pria tersebut di Combined Martial Arts Academy, Jakarta, Selasa (22/8).

Meski sekilas mirip beladiri asal Jepang, nyatanya stick fighting berasal dari Filipina.

“Jadi, awalnya muncul stick fighting ini memang karena kebutuhan dari masyarakat lokal Filipina untuk melawan penjajah dari Spanyol. Karena senjata tajam mereka semua diambil dan yang paling mudah adalah tongkat ini untuk melawan,” tutur salah satu instruktur stick fighting di Combined Martial Arts Academy, Taufik Nandipinto.

Setelah masa penjajahan, stick fighting berkembang sebagai olahraga. Tidak hanya di Filipina, seni beladiri ini meluas ke berbagai negara lain di kawasan Asia Tenggara. “Perpaduan antara olahraga, seni bela diri menjadikan stick fighting mudah diterima dan digeluti banyak pihak,” tambah Taufik.

Salah satu penggemar stick fighting ialah Herry Wicaksono. Pria 30 tahun yang memang gemar menggeluti olahraga beladiri itu mengaku sudah dua tahun berlatih olahraga impor ini. Menurutnya, berlatih stick fighting cukup menantang dan seru karena menggabungkan keah­lian menggunakan tongkat pendek dan tangan kosong.

“Kalau dilihat sepintas memang latihannya pasti menggunakan tongkat pendek dan saling adu, tapi ada juga latihan satu tongkat yang dibalut busa dan satu dengan tangan kosong tanpa menggunakan pelindung apa pun. Di sini seni bela dirinya sangat terasa,” tutur Herry.

Keberanian dan kekuatan fisik menurut Herry sangatlah penting jika ingin menggeluti olahraga ini. Pasalnya, fighter harus siap menerima puluhan, bahkan ratusan pukulan ke badan dengan tongkat yang dibalut dengan busa.

“Memang dibalut busa, tapi kalau puluhan sampai ratusan kali di pukul ke badan pasti juga akan biru-biru. Tapi kalau sudah terbiasa, tentu akan semakin kuat dan tahan,” canda Herry.

Fisik

Layaknya perpaduan olahraga dan seni bela diri pada umumnya, kelas stick fighting mengharuskan setiap petarung memiliki kekuatan fisik dan stamina yang mumpuni. Oleh karena itu, sebelum kelas dimulai, dipastikan, tetap akan ada latihan fisik untuk menunjang latihan inti.

“Latihan fisik tentu ada. Karena ini seperti kelas biasa, akan ada pemanasan, pelemasan otot terutama tangan, latihan fisik, latihan teknik, dan sparing antar petarung,” tutur Taufik.

Ia mengaku menerapkan latihan kardio kepada murid-muridnya. Sebab, latihan tersebut menurutnya sangat efektif bagi seorang petarung untuk melatih stamina dan kekuatan fisik.

Barulah setelah latihan fisik, Taufik akan menerapkan latihan teknik dan gerakan serta berujung pada sesi tanding antarpetarung. Pada bagian ini, petarung diwajibkan menggunakan alat pelindung lengkap.

“Nah saat sparing, baru kita membebaskan petarung mengeluarkan teknik dan skill-nya secara bebas. Dalam kurun 3 kali 1 menit,” paparnya.

Saat pertandingan, Taufik menjelaskan semua bagian atas tubuh yang terlindung pakaian busa dapat menjadi target pukulan. Pertandingan akan dihentikan jika ada tongkat petarung yang terlepas atau jatuh.

“Kalau saat pertandingan, semua bebas menyerang tanpa ada henti selama semenit, kecuali kalau stik terjatuh. Jadi itulah serunya stick fighting ini, lebih menantang,” pungkasnya. (M-3)

Komentar