BIDASAN BAHASA

Ganyang

Ahad, 27 August 2017 00:16 WIB Penulis: Adang Iskandar, Redaktur Bahasa Media Indonesia

ANTARA FOTO/Ahmad Zamzuri

“DOAKAN aku, aku kan berangkat ke medan juang sebagai patriot bangsa, sebagai martir bangsa, dan sebagai peluru bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.” Itulah se­penggal pernyataan Soekar­no dalam pidatonya saat menggelorakan gerakan Ganyang Malaysia pada 1963.

Peristiwa itu dipicu langkah pemerintah Indonesia memutuskan hubungan diplomatik dengan Malaysia yang dianggap sebagai antek kolonialisme. Konfrontasi Indonesia-Malaysia memuncak ketika pengunjuk rasa dalam demonstrasi anti-Indonesia di Malaysia menginjak-injak lambang negara Indonesia, Garuda Pancasila. Presiden Soekarno marah besar dan menggalang gerakan Ganyang Malaysia. Perang gerilya pun terjadi di sejumlah wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia. Konfrontasi itu berakhir dengan perjanjian damai di Bangkok, Thailand, pada 1966 ketika Indonesia dipimpin Soeharto.

Setelah itu, perjalanan hubungan kedua negara mengalami pasang surut. Kasus-kasus seperti sengketa Sipadan-Ligitan, Blok Ambalat, klaim Malaysia atas batik, Tari Pendet, dan reog ponorogo, hingga kasus Manohara dan penyiksaan TKI mewarnai turun-naiknya tensi hubungan kedua negara serumpun ini. Yang paling terbaru ialah kasus pencetakan bendera Merah Putih terbalik di buku panduan SEA Games XXIX 2017 Kuala Lumpur, Malaysia.

Menurut saya, itu sudah keterlaluan. Bendera ialah simbol suatu negara untuk menunjukkan kedaulatan sehingga tak satu pihak pun yang boleh melecehkannya. Itu penghinaan tingkat tinggi atas harga diri negara dan rakyat Indonesia. Apalagi, penghinaan itu terjadi di saat rakyat Indonesia tengah dalam euforia perayaan hari kemerdekaan.

Pemerintah Indonesia pun melayangkan nota protes dan mendesak Malaysia menindak tegas mereka yang serampangan memajang Merah Putih. Pemerintah Malaysia merespons dengan mengaku salah, meminta maaf secara resmi, dan menarik buku panduan SEA Games yang bermasalah.

Namun, di Indonesia banyak yang tidak puas dengan sikap pemerintah yang dengan mudah menerima permintaan maaf Malaysia itu. Mereka yang tidak puas melampiaskan kekecewaan itu di media sosial. Salah satu kata yang kembali menyeruak di medsos ialah ganyang. Kata itu sangat melekat dengan Malaysia karena mengingatkan kita pada gerakan Ganyang Malaysia yang digaungkan Presiden Soekarno dulu.

Kata ganyang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bermakna ‘memakan mentah-mentah; memakan begitu saja’; ‘menghancurkan; mengikis habis’; dan ‘mengalahkan (lawan dalam pertandingan)’.

Kata ganyang dianggap lebih mengekspresikan kegeraman rakyat Indonesia terhadap perilaku negeri jiran yang sering berbuat kurang ajar itu. Alih-alih menggunakan kata lawan, hancurkan, kalahkan, lumat, dan lain-lain, kata ganyang dianggap lebih pas dan ekspresif. Selain karena lebih berima jika dilekatkan dengan kata Malaysia dan mengingatkan kita pada sosok Soekarno yang pemberani, ganyang bisa ditempatkan dalam berbagai konteks, baik politik, sosial-budaya, maupun olahraga.

Terkait dengan konteks saat ini, di saat para atlet Merah Putih tengah berjuang menegakkan harga diri bangsa di pesta olahraga negara-negara Asia Tenggara--kebetulan Malaysia menjadi tuan rumah, muruah ganyang bisa menjadi pemacu semangat para duta olahraga negeri ini yang tengah berlaga di sana. Tentu tetap dalam koridor semangat spor­tivitas dan fair flay dalam pertandingan olahraga.

Komentar