Film

Turah, Perbudakan Masa Kini

Sabtu, 26 August 2017 23:31 WIB Penulis: Eno/M-4

Dok. Film Turah

GAMBARAN perbudakan di masa kini tergambar dalam film Turah yang disutradarai Wicaksono Wisnu Legowo. Film yang dibintangi empat tokoh kunci, yaitu Turah (Ubaidillah), Jadag (Slamet Ambari), Pakel (Rudi Iteng), dan Darso (Yono Daryono), berkisah tentang kesenjangan sosial yang sangat lebar di Kampung Tirang yang berada di sebelah barat Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tegalsari, Kota Tegal, Jawa Tengah.

Perbudakan itu dilakukan tuan tanah Darso. Dia begitu menguasai Kampung Tirang, termasuk penduduknya yang miskin. Mereka termasuk Turah dan Jadag, yang tidak hanya tinggal dan dipekerjakan, tetapi juga membayar uang sewa pada Darso. Turah digambarkan sebagai sosok yang hidupnya lurus dan menerima takdir hidup. Penonton dibuat adem melihat hidup Turah.

Jadag, sosok pemberontak. Dia protes karena dikuasai Darso melalui tangan kanannya, Pakel. Jadag konfrontatif, meledak-ledak. Ketidaksukaannya pada Darso dan Pakel diperlihatkannya secara terang-terangan. Kehidupan Jadag dan keluarganya semakin gelap tatkala pendidikan yang rendah dan kemiskinan kawin dengan kemalasan. Geregetan deh!

Namun, Jadag menjadi aktor kuat dalam film ini. Dari sisi pemilihan pemain, patut diacungi jempol. Jadi, mungkin jika saja Jadag menjadi judul, lebih layak, lebih maskulin juga. Menandai kerasnya perjuangan hidup. Film ini disajikan dalam bahasa dan dialek Tegal sehingga memperkaya wawasan bahasa. Unik sekaligus menghibur.

Sayangnya film yang diproduksi Fourcolours Films itu kurang detail, kehidupan pelabuhan dan tambak tidak tergambar. Padahal, gambaran wawasan visual juga tetap penting. Detail lain yang tertinggal ialah ketidakmunculan Ilah, sosok misterius selingkuhan Jadag, istri Darso yang dikatakan jelita.

Meski demikian, Turah tetap Turah (ada sisanya), film itu menyisakan akhir yang penuh pertanyaan. Penonton masih haus ingin menyaksikan Turah berkelanjutan karena film yang belum selesai. (Eno/M-4)

Komentar