Jejak Hijau

Bertepuk 30 Kali untuk Selamatkan Hutan

Sabtu, 26 August 2017 12:50 WIB Penulis:

AFP

PLAK, plak, plak. Suara tepuk tangan yang dilakukan se­k­elom­pok orang terdengar menggema di sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Jakarta Barat. Kampanye 30 Claps, begitulah nama kampanye yang digelar WWF Indonesia.

“Kampanye 30 Claps atau ber­tepuk tangan sebanyak 30 kali itu dilakukan agar pengunjung mal-mal besar di Jakarta tidak lagi menggunakan tisu untuk mengeringkan tangan setelah cuci tangan sehingga setiap orang bisa berkontribusi dalam menjaga kelestarian alam, terutama hutan,” tutur Direktur Kebijakan, Keberlanjutan, dan Transformasi WWF Indonesia Aditya Bayunanda di Jakarta, Jumat (28/7).

Tanpa disadari, menggunakan tisu secara berlebih­an berarti mendorong penggundulan hutan dan terancamnya banyak spesies penting dan langka.

Dampak buruk itu terjadi karena di Indonesia jumlah produk tisu yang telah memiliki label dari The Forest ­Stewardship Council (FSC) kurang dari 50%. Karena itu, lebih banyak produk tisu yang dibuat secara tidak lestari.

60% dalam enam bulan
Untuk menyukseskan kampanye 30 Claps, WWF Indonesia menggaet pusat-pusat perbelanjaan besar di Jakarta, di antaranya Central Park Mall, Neo Soho Mal, APL Tower, dan Soho Capital.

“Untuk destinasi belanja di kawasan Jakarta yang sangat concern terhadap berlangsungnya kehidupan alam, kami mengajak pengunjung mal ikut berpartisipasi dengan gerakan #30claps untuk mengeringkan tangan setelah beraktivitas di toilet,” tutur Selvyn, General Operation Manager Central Park dan Neo Soho Mall. Stiker imbauan #30claps ada di setiap toilet di mal tersebut. “Nantinya, di akhir tahun nanti kami menghitung jumlah tisu yang berhasil kita hemat,” jelasnya.

Menurutnya, saat ini angka kebutuhan tisu di Central Park Mall, Neo Soho Mall, APL Tower, dan Soho Capital ialah 2.250 kg. Kampanye tersebut ditargetkan untuk mengurangi penggunaan tisu sebanyak 60% dalam waktu enam bulan ke depan.

Harimau sumatra
Pengurangan konsumsi tisu makin mendesak jika berkaca pada terancamnya keberadaan spesies hutan. Salah satu yang paling mengkhawatirkan ialah harimau sumatra yang kini populasinya hanya tinggal 300-600 spesies.

“Tingginya laju perubahan hutan menjadi perkebunan maupun hutan tanaman adalah akibat meningkatnya angka permintaan komoditas yang berasal dari hutan tersebut,” tegas Aditya. Lebih dari 7 juta hektare hutan Sumatra yang merupakan habitat harimau telah berubah menjadi perkebunan dan hutan tanam­an industri (industri kertas dan tisu).

Menyusutnya keberadaan hewan bernama latin Panthe­ra tigris sumatrae ini juga mengindikasikan buruknya ekosistem. “Ekosistem hutan yang baik selain dapat memberikan manfaat yang besar bagi harimau sumatra itu sendiri, juga dirasakan bagi masyarakat, di antaranya air dan udara yang menjadi bersih. Harimau juga merupakan predator utama yang bisa menjadi pengendali hama seperti babi hutan,” tambahnya.

Untuk program perlindung­an harimau sumatra di lapangan, WWF Indonesia melakukan kegiatan patroli dan pengawasan menggunakan camera trap di kawasan hutan di Riau, Aceh, dan Lampung. (Rio/M-3)

Komentar